The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kenagan Yang Menyakitkan 2



Anak preman dan Devan pun dibawakan ke rumah sakit Istiqal Akbar. Dimana disana, tiap wali murid mendapat kabar bahwa 4 anak bangsat itu dinyatakan harus dirawat agar tidak terjadi pembekuan darah. Tentu saja, orang tua mereka syok dan tak menyangkanya.


Mereka pun protes dan benci terhadap tindakan Angga, kecuali, orang tuanya Devan dan Robin.


“Pak, tidak harus seperti ini dong. Anak itu seharusnya dihukum pak. Kok malah dibiarin!“. Protes ayah Ian yang menyalahkan Angga, Devan yang kakinya telah diperban sampai geram mendengarnya.


”Dia benar pak! Masa anak seperti itu dibiarin aja! Ini malah anak kita yang jadi korban di hukum gitu aja!“. Lanjut Ibunya Siran.


”Bu! Pak... Memang kelakuan Angga sudah kelewatan. Tapi, dia tidak melakukan hal itu dengan sengaja. Pikiran anak sepertinya akan diluar batas jika diperlakukan seperti anak kalian”. Jelas pak Ridwan.


“lah! Jadi ini anak kita yang disalahin!”. Kata ibunya Rasya.


“Bapak ini gimana sih heh! Anak itu ngak bakal nyantet pak! Apa bapak ini takut heh!”. Lanjut ayahnya Ian.


“Pak! Diam ya! Memang bukan salah temanku kok. Coba tu anak sendiri diajarin dulu, ini anak tukang preman disekolah aja ngak tahu”. Balas Devan telah kehilangan kesabarannya, yang membuat 3 orang tua dari anak preman itu syok tak percaya.


“Hei! Kagak ada sopan santunnya ya. Beraninya bilang tanpa bukti!”.


“pak, anak ini benar. Kita memang tak dapat menjaga anak kita dengan baik”. Balas ibunya Robin.


“Maksud ibu...”.


“ya.... Anak kita memang tukang preman disekolah. Anak saya yang jadi pawangnya”. Jawab Ibu Robin santai.


“Ini ibu berani ngatain untuk anak sendiri!? “. Balas Ibu Siran.


”Bukan hanya berani, tapi memang benar. Kalau masih belum percaya ikut aku“. Kata Ibu Robin sambil memasuki ruangan dan diikuti oleh mereka.


Didalam ruang tersebut, dimana Robin dan anak buahnya ada yang tiduran dan duduk. Ibunya Robin tanpa basa basi langsung bersabda.


”Robin! Jujurlah sama mama! Kamu adalah bos preman dari 3 anak ini kan!“. Tanya Ibunya seram, Robin memalingkan wajahnya kesal. Pak Ridwan dan Salman memang sudah geram murid seperti mereka.


”Jangan memalingkan pandangan seperti itu! Jawab! “. Balas ibunya dan menjewer telinga anaknya sendiri.


”Aduh bu! Napa kasar kali sama anak sendiri. Tu bocah Iblis yang seharusnya disalahin! “. Protes Robin, Devan yang duduk disamping gurunya meledek ”Heh! Dasar anak momi“.


”Woy! Lo diam ya!.....“.


Pamm!!! ...


”Aw!!!.... “.


Secara tiba-tiba Ibunya menampar Robin yang membuat mereka syok.


”Jangan salahkan orang lain! Jawab! “.


”Heh ya ya ya!!! .... Puas! “. Jawab Robin mengaku, orang tua anak buahnya itu pun Masing-masing merepet ke anak mereka.


”Mengapa kamu seperti ini sekarang he“.


”Bapak pikir kamu belajar dengan giat disekolah. Ternyata malah jadi preman!?. Mulai sekarang! Jangan pernah berharap pulang kerumah! “.


”E e e e eh! Bu... Pak... Kalau mau repetin anak jangan disini, dirumah sakit. Sebaiknya dirumah aja, kan ada tu beberapa barang yang bisa untuk dilambungkan“. Kata Pak Salman, Devan tertawa kecil mendengarnya.


Tak berapa lama kemudian, datanglah pak kepala sekolah. Beliau juga telah melihat kondisi Angga yang serius.


”Assalamu'alaikum“. Kata pak kepala sambil membuka pintu. Semua serentak menjawab.


”Bagaimana kondisi mereka“. Tanya kepala sekolah.


”Hahaha... Baik seperti biasa pak“. Jawab Ibunya Robin, Robin sebagai anak merasa tak dipedulikan, Devan lanjut dengan tawanya.


”Devan, bagaimana dengan mu“. Tanya kepala sekolah.


”Alhamdulillah udah mendingan pak“. Jawab Devan.


”Lalu, bagaimana dengan orang tuamu“. Tanya kembali kepala sekolah sambil duduk didekat Devan yang dipersilahkan oleh Pak Ridwan.


”Tidak dipermasalahkan... Ayah dan Ibu sudah mengenal Angga dari dulu bagaimana, mereka ngerti kok“. Jawab Devan.


”Em baguslah. Baik ibu dan bapak. Saya sebenarnya mau menyampaikan. Putra kalian memang menjadi preman meresahkan disekolah... Jadi tolong diperhatikan dan dijaga“. Kata kepala sekolah.


”Jadi, masalah ini tak perlu untuk diperpanjang kan sampai ke keluarganya... Saya juga telah menghubungi mereka jadi tak perlu untuk dipermasalahkan lagi“. Kata kepala sekolah, mereka pun malu dan kesal.


Satu jam usai dengan nasehat yang diberikan. Mereka pun memutus untuk kembali kesekolah.


”Devan emangnya kamu ngak pulang?“. Tanya Pak Salman.


”ngak pak. Saya juga udah bilang ke Ayah saya“. Jawab Devan. Guru pun mengerti.


Sedangkan di UKS, bu Arina telah selesai mengobati Angga termasuk bekas luka ditangannya.


”Bagaimana keadaan Angga“. Tanya bu Hira.


”Entahlah, keadaan nya masih lemah Dan pucat“. Jawab bu Arina khawatir.


”Jangan terlalu khawatir, Ia pasti akan baik-baik saja“. Kata bu Hira menenangkan.


Tanpa mereka sadari, Angga telah sadar. Ia terbangun Dan memegang kepalanya yang sakit, nafasnya pun belum teratur. Angga pun mencoba untuk duduk, Ia teringat akan kejadian yang terjadi. Tanpa disengaja, Ia mendengar percakapan antara bu Arina Dan Hira.


”Bu, Ada yang cemaskan dari tiap keadaan Angga“. Kata bu Arina, Angga yang menguping langsung mendengarkan.


”Bekas tusukan yang Ada pada jarinya Angga,


Sepertinya Ia yang melakukannya sendiri“. Lanjut Arina, Angga mulai syok kalau gurunya telah mengetahui bekas kelakuan Angga. Ia pun melihat di jarinya yang telah di obati.


”Tusukan?“. Balas Hira bingung.


”Ia, tadi saya melihat dijarinya merah agak membengkak… yang pasti itu dengan sebuah jarum…dan ulahnya sendiri“. Balas Arina khawatir, Angga menundukkan kepala dan meremaskan kain karena geram terhadap dirinya sendiri.


”Anak seperti Angga memang terkadang emosinya sering diluar batas. Oleh karena itu anak sepertinya harus sering diperhatikan atau tidak, …Ia akan bertindak seperti yang ada dipikirannya. Kau ingat kejadian beberapa hari yang lalu“. Kata bu Hira yang membuat Angga berpikir kepedulian orang yang Ia sayang untuk nya.


Kepala Angga semakin sakit, sekarang Ia membutuhkan waktu untuk sendiri. Karena penjaga UKS sedang sibuk, Angga mendapat kesempatan untuk Keluar tanpa ketahuan.


Lagipula, koridor juga sepi. Angga berjalan dengan sepoyang, badannya tak seimbang menahan rasa sakitnya, tangan kirinya memeluk tubuh Dan yang kanan memegang kepalanya.


Jalan didepannya terlihat seperti berputar, karena tak tahan, Angga memutuskan untuk pergi ke toilet yang tepat didepannya. Dan... Untunglah keadaan juga sepi.


Ia pun menutup pintu dan berdiri didepan wastafel dengan membungkukkan badan Dan kepalanya.


Ia dapat merasakan pernapasan pada dadanya semakin sesak. Ia memutuskan untuk mencuci mukanya.


”Heh apa yang terjadi pada ku. Mengapa pikiran ku tak dapat terkendali seperti tadi, ….apa karna…“. Katanya dalam hati. Dan secara tiba-tiba makhluk itu menjawab.


”Ya! Ini semua karna ku juga Angga. Kau menyukainya kan? “. Jawab makhluk tersebut. Angga syok, Ia melihat Kesana kemari tapi, tak dapat melihat wujudnya.


”Dimanapun dirimu komohon menyingkirlah“. Kata Angga dengan panik.


”Mengapa, bukankah seperti itu yang kau inginkan, membalaskan dendammu! Hehehehehe....!! “. Balas makhluk itu sambil tertawa seram, tawa Dan suaranya berdengung kemana-mana.


Angga melihat keatas Dan sebagainya, pada saat Ia melihat cermin yang berada didepannya, alangkah kagetnya Ia ketika melihat sesosok itu berada dicermin dengan senyum seram. Angga reflect mundur dengan ketakutan.


”Jangan ketakutan begitu, aku hanya ingin membantu mu“. Kata makhluk itu seram.


”Kumohon jangan menggangguku...“. Balas Angga ketakutan.


”Ayolah... Aku ini bagian darimu... Seberapa kau berusaha menjauh itu tak akan mungkin! Kau tak ingat aku telah berhasil mengambil alih“. Kata makhluk itu yang membuat Angga teringat akan kejadian yang menimpanya tadi malam pada saat makhluk tersebut menguasainya.


Disisi lain, Devan Dan gurunya menu just ke UKS.


”Devan?! “. Kata Pak Ridwan.


”He... Ya pak“. Jawab Devan.


”Apa kalian mengetahui sesuatu tentang Angga akhir-akhir ini? “.


”Tidak, lagi pula, Angga dikabarkan pinsan tanpa sebab kemarin. Menurutku... Saat Ia tak terkendali seperti tadi... Seperti Ada yang sesosok yang lain dari dirinya“. Kata Devan.


Ridwan memang hampir sependapat dengan muridnya, Ia juga syok mendengar kalau Angga pinsan kemarin.


”Lalu, apa yang kalian ketahui dengan Mulan?“. Tanya Ridwan kembali sambil melanjutkan langkahnya.


”Eeee... Entahlah. Sepertinya tidak, tapi... Ia seperti mengetahui banyak tentang Angga“. Tanggap Devan.


”Ia memang itu yang ingin bapak tanyakan.... “. Balas Ridwan, Devan hanya tertawa sambil menggaruk kepalanya.


Lalu, Mereka Tiba di UKS. Ridwan langsung menanyakan keadaan Angga pada penjaga Disana.


”Bagaimana dengan Angga, Sudan dijemput sama orang tuanya? “. Tanya Pak Ridwan.


”Ha Ada, tapi orang tuanya sibuk jadi agak lama untuk dijemput“. Jawab Hira.


”Bu, Angga dimana? “. Tanya Devan.


”Oh di ranjang sebelah sana, masih belum sadar“. Jawab Arina. Devan pun langsung menghampiri ranjang yang kedua yang masih ditutupi dengan tirai. Tapi, Angga tak Ada Disana.


”Loh... Kok ngak Ada?!.“ Kata pak Ridwan, tentu saja Hira Dan Arina syok, Angga yang tadinya pinsan malah menghilang.


”Lah kok bisa, tadi dia... “. Seru Arina. Devan tak berpikir lain, Ia dengan cepat berlari meski kakinya agak sakit. Dan gurunya pun


mengikutinya.