
Dokter pun bergegas masuk kekamar pesien. Beliau pun langsung memeriksa detak jantung, dan nadi. Devan dan Kaila berharap ini bukan dunia main mimpi mereka.
“Ibu, bapak dan atas semua keluarga pesien sekalian. Saya kabarkan bahwa kondisi Liam telah stabil dan telah melewati masa kritisnya”. Kata dokter yang membuat semua seisi ruangan turut bahagia, terutama ibu dan ayahnya beserta keluarganya. Mereka kembali mencium dan memeluk putranya. Devan dan Kaila begitu bahagia dengan kabar tersebut.
“Namun, pasien mengalami koma dalam beberapa hari dan memerlukan istirahat total .kalau begitu, saya permisi dulu.”. Lanjut dokter.
“Baik dok. Terima kasih”. Balas mereka.
“Alhamdulillah…. Dilan”. Kata ibunya senang sekaligus menangis atas kesyukurannya.
Keadaan Angga.
.
.
.
.
Angga yang telah tenang, Karin langsung mengobati kembali luka pada matanya. Terlihat Ia mengalami trauma kembali, seperti kejadian yang terjadi pada Ryan.
“Ga, ni minum dulu”. Kata Rangga sambil memberikan segelas air pada Angga.
Angga tak peduli atau merenspon, Ia tak menerima air tersebut. Saat Rangga merajuknya untuk minum tapi,….
TRANK!!!…..!
Angga menepis gelas ditangan kakaknya dengan kasar hingga terjatuh, dan pecah, tapi… Angga, entah mengapa, Ia tertawa. Ketiga kakaknya ini hanya menatapnya dengan agak syok dan merinding.
“Ang… Angga?”. Seru Arga.
“Hehehehe…. Aku bodoh… aku penghianat hahahaha…”. Balas Angga sambil tertawa sendiri seperti telah kehilangan kewarasannya.
“Angga! Sadar dirimu Angga! Istigfar!”. Kata Rangga sambil memegang tubuhnya agar Angga sadar. Arga dan Karin hanya diam terpaku.
“hah!…”. Balas Angga sambil menepis pegangan kakaknya dengan kasar.
“Jangan pernah mendekati ku lagi!!… dasar penghianat!!….”. Sambung Angga dan seketika tubuhnya melemah dan akhirnya pinsan.
“Angga!…”. Seru Rangga sambil menahan tubuh Angga.
“A… ada apa dengan Angga”. Tanya Karin khawatir atas sikap adiknya tadi.
“Entahlah… semoga tidak yang terburuk”. Jawab Rangga.
“Sebaiknya…. Kita biarkan Angga istirahat. Supaya pikirannya juga jadi, tenang”. Kata Arga.
“Tadi…. Angga, napa ya…. Jangan sampai Ia…”.
“Udah-udah. Jangan pikirin yang aneh-aneh”. Balas Rangga memotong pembicaraan Karin.
“Tapi, soal Dilan… apa yang dikatakan Angga benar”. Kata Arga.
“Entahlah,… pasti Angga melihat dari penglihatannya lagi”. Balas Rangga sambil melipat kedua lengannya.
“Ga… coba telpon Devan… coba tanya kondisi Dilan”. Perintah Karin, Arga pun mengangguk dan menghubungi Devan.
“Waàlaikum salam, ya kak Arga”. Balas Devan yang menjawab panggilan Arga.
“Mmm… bagaimana dengan kondisi Dilan… kau telah mengetahuinya”. Tanya Arga.
“Ya”.
“Benarkah! Bagaimana”.
“Alhamdulillah… keadaan Dilan telah stabil dan sekaligus telah melewati masa kritisnya”. Jawab Devan yang membuat Arga dan kedua kakanya syok dan tak menyangka.
“Yang benar!… kau ngak salah pesien kan?!”. Balas Rangga yang merebut ponsel Arga.
“Haha… ya kak. Tapi, Dilan koma salam beberapa hari.
”Tapi… Bukankah keadaan Dilan… nyawanya tak tertolong“. Tanya Rangga yang tak mengatur pertanyaannya.
”… tadinya iya… tapi… Allah telah bertindak lain. Kondisi Dilan telah membaik“.
”Alhamdulillah…“. Seru mereka.
”Mmm…. Kakak tahu dari mana kalau Dilan hampir….“. Tanya Devan.
”Dari Angga“. Jawab Rangga.
”Eh?… Ang…angga?“. Balas Devan heran sekaligus kembali khawatir.
”Eh… ya… i…itu…. Ceritanya panjang“. Kata Rangga.
”Ah… jangan khawatir. Ia baik-baik aja kok…“. Balas Arga.
”I.. ya… makasih kak“.
”Yaudah, jaga dirimu“.