
Hingga malamnya, Devan dan kedua orang tuanya langsung pergi kerumah sakit. Devan awalnya seperti tak dapat bernapas akan harus menerima kenyataan.
Apa lagi Angga, meski keadaannya kacau dan tak memungkinkan, Ia tetap mencemaskan Dilan. Entah seberat apa perasaannya jika menerima Dilan telah pergi untuk selamanya.
“Bu… mau berangkat”. Tanya Rangga.
“Iya, kalian dirumah saja ya jaga Angga”. Kata Ibu.
“Nak, jangan khawatir ya. Pasti semua akan baik-baik saja”. Kata ayah sambil mengelus lembut Angga. Tapi, Angga hanya diam ketakutan. Kaila dan kedua orang tuanya pun langsung berangkat.
Devan yang berada disana, hanya dapat menunggu Dilan sadar atau tidak. Keluarganya langsung menangis histeris yang ditenangkan oleh orang tuanya Devan.
Dilan terlihat tidak memperlihatkan perkembangan apa-apa yang membuat keadaan semakin tegang.
Tak berapa lama kemudian, datang lah Kaila dan kedua orang tuanya. Kaila langsung memeluk Devan yang perasaannya bercampur ketakutan.
“Lan… ayo sadarlah… kumohon Dilan…. ”. Seru Devan dalam hatinya yang sangat cemas.
Sedangkan Angga, entah mengapa Ia secara tiba-tiba kepalanya terasa sakit, seperti mengalami penglihatan sesuatu.
Detik demi detik berlalu, hingga akhirnya, jari telunjuk Dilan bergerak. Seketika semua syok bercampur bahagia. Devan begitu bersyukur atas sadarnya Dilan. Lalu, ayah Angga langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Dilan.
Dilan yang mulai sadar, perlahan matanya terbuka, terlihat nafasnya sedikit sesak. Devan mulai senang melihat keadaan sahabatnya yang mulai sadar.
Dilan pun membuka matanya, keluarganya begitu terharu dan memeluk putranya. Terlihat gerak bibirnya ingin berkata “ Ibu ayah”…. Keluarganya begitu bersyukur atas kesembuhan Dilan.
“I iya Nak, nah… ini disini ada Devan sama Kaila”. Jawab sang Ibu senang sambil mengelus putranya.
Dilan pun melihat kearah Devan dan Kaila yang berdiri disampingnya. Terlihat gerak bibirnya ingin berkata” Kaila… Devan…“Devan tersenyum menahan tangis sambil mendekatinya.
”Aku yakin… Angga pasti senang melihat mu Dilan“. Kata Devan dengan isak tangis. Dilan pun tersenyum yang membuat seisi kamar itu ikut terharu.
Tak berapa lama kemudian, hal yang ditegangkan mulai terjadi. Nafas Dilan tiba-tiba semakin sesak dan berat untuk bernafas. Sontak semua kembali syok dan tegang.
Angga mencengkram kepalanya yang sakit dan seketika, matanya muncul berwarna biru dan tiba-tiba, bayangannya berada dirumah sakit tepat dikamar Dilan. Ia dapat melihat semuanya. Tapi, Angga melihat Dilan yang mulai sekarat dengan seruan keluarga dan sahabatnya memanggil namanya.
Angga melihat Dilan sesak tak kuat bernafas. Terlihat tubuhnya yang mulai pucat, kejang-kejang berkeringat dan dingin.
”Dilan… Dilan! DILAN!“. Seru mereka menyadarkan Dilan yang ingin menemui sang pencipta.
Ibunya Dilan terus menangis histeris hingga tubuhnya melemah. Angga yang berada disana langsung memegang tangan sahabatnya, tapi, ini hanya sebuah bayangan penglihatannya saja.
”Dilan“. Seru Angga pelan yang melihat Dilan sesak.
Lalu, dokter pun datang. Beliau pun langsung memanggil beberapa perawat yang lain. Dokter tersebut langsung memeriksa detak jantung Dilan yang mulai melemah.
Keadaan semakin tegang dan lengang. Yang terdengar hanya suara nafas Dilan dan isak tangis tiap keluarga mereka beserta kesibukan dokter yang mengurus Dilan. Angga dan Devan hanya dapat memandang sahabatnya yang ingin pergi meninggal kan mereka.
Tak berapa lama kemudian, beberapa perawat telah datang dengan beberapa alat yang mereka bawa.
”Ibu, bapak beserta keluarga pesien harap keluar sebentar, kami akan segera menanganinya“. Ucap sang dokter.
”Dok, tolong selamatkan anak saya Dok“. Kata ibu Dilan yang tak kuasa menahan tangisnya. Suaminya pun memeluk istrinya dan segera menunggu diluar.
Kaila menangis memeluk ibunya, Devan tak dapat menahan air matanya keluar dari matanya, Ia hanya mengeram tangan penuh harapan.
Sedangkan bayangan batin Angga, berada didalam tanpa diketahui oleh siapapun. Angga dapat melihat dokter yang berjuang membantu Dilan. Angga hanya berdiri terpaku melihat Dilan yang tak berdaya.