
.•♫•♬•My Inner Story•♬•♫•.
Sesampainya dirumah, 3 setan penyatu kutukan ini pun langsung masuk. Mereka pun langsung menaiki anak tangga menuju kamar dan tak sengaja melihat sang ibu dikamarnya Angga. Mereka tak sengaja mendengar pembicaraan sang ibu dengan Angga.
“Angga, kuatkan hati mu Nak, Dilan masih ada, Ia masih dalam keadaan koma dirumah sakit”. Kata sang Ibu yang ingin membangkitkan kesadaran putranya. Tapi, Angga diam dengan menggeram tangannya.
Kini, Rangga dan adiknya mengerti bagaimana Angga yang sekarang, bahkan lebih buruk. Kaila pun datang dan menyadari kalau ketiga kakaknya ini sedang apa.
“Eee... Kaka udah pulang”. Tanya Kaila manis.
“Dari tadi”. Jawab Arga dengan usapan lembut di kepala Kaila.
Rangga pun mengambil ponselnya untuk menghubungi keluarganya Dilan untuk menanyakan kondisi nya.
“Salamuàlaikum”.
[𝘞𝘢𝘢𝘭𝘢𝘪𝘬𝘶𝘮 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘕𝘢𝘬 𝘙𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢]. Jawab Ibu Dilan yang membuat Dilan dan rekannya terpaling pada sang Ibu.
“Tan, kondisi Dilan bagaimana? Udah stabil? ”. Tanya Rangga perasaannya dicampur cemas. Ia dan adiknya berharap Dilan telah sadar dan dapat menyadarkan Angga dari tatapan kosongnya.
[𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘬. 𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘢𝘥𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢]
“Sungguh?! Alhamdulillah ya Allah... Tan! Boleh bicara bentar ngak sama Dilan”. Seru Rangga bersyukur yang membuat ketiga adiknya ini menjadi bingung.
“Oh, boleh-boleh! Bentar ya. Dilan sayaaaang... Ini panggilan dari Rangga tumbaaaang”. Seru Ibu Dilan yang begitu senang. Hingga seluruh penghuni kamar syok plus akan kebinguan mereka.
“Oalah tante, tamvan apa tumbang sih”. Jawab Rangga sedikit terkena ledekan dari Ibunya Dilan. Mendengar hal itu membuat beliau tertawa akan kesenangan. Beliau pun memberikan ponselnya Kerala Dilan untuk berbicara dengan Rangga.
“Gimana kak, senang bener”. Tanya Karin yang dari tadi memperhatikan Rangga.
“Alhamdulillah kondisi Dilan udah membaik dan sekaligus.... Telah sadar”. Jawab Rangga lembut and cool dengan senyum yang tak akan lentur. Ketiga adiknya ini termanga-manga akan kehadiran Dilan yang kembali. Mereka hanya bisa berharap kalau Angga akan sadar dan mengurangi bebannya.
“Napa? Ada apa? Siapa? Mengapa?”. Tanya Dilan bingung dengan pertanyaan yang bertubi-tubi beserta ekspreksi yang terkini. Sedangkan Devan dan rekannya hanya saling tukar pemandangan langit lautan pertanyaan.
“Ini... Kakak nya Angga toh”. Jawab sang Ibu yang membuat Dilan dan rekannya berhati cerah.
Sang Ibu pun memberikan ponselnya ke Dilan yang masih tersambung dengan panggilan dari Rangga.
“ Ya kak, Ada apa”. Tanya Dilan.
“Bagaimana kabar mu”.
[𝘈𝘭𝘩𝘢𝘮𝘥𝘶𝘭𝘪𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘬𝘰𝘬 𝘬𝘢𝘬, 𝘦𝘮... 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩]
“Haha... Sama-sama”.
[𝘒𝘢𝘬... 𝘉𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘈𝘯𝘨𝘨𝘢? 𝘉𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘢𝘯]. Tanya Dilan cemas yang membuat seluruh yang berada dikamar merubah ekspreksi mereka. Apalagi Rangga, Ia hanya bisa berharap kalau Dilan akan mengerti.
“Ba... Bagaimana kalau kita VC aja. Biar kamu bisa liat bagaimana keadaan nya”. Jawab Rangga dengan ekspreksi yang berubah drastis, termasuk ketiga adiknya ini.
“Baiklah”. Jawab Dilan dengan perasaan yang khawatir dan cemas apabila Ia mengetahui keadaan Angga sesungguhnya. Apalagi... Rekan dan keluarganya, khususnya Devan, lubuk hatinya masih belum tenang jika keadaan masih terus seperti ini.
Rangga pun masuk kekamarnya Angga dan disusul oleh Kaila dan yang lain. Sang Ibu sedikit kaget melihat anaknya yang telah Dari tadi pulang.
“Assalamu'alaikum”. Ucap mereka kompak sambil memasuki kamar dan mencium tangan Ibunda tercinta dengan balasan senyum indah dari beliau, tapi... Tidak dengan Angga, ia hanya bagai patung pajangan yang diam tanpa pergerakan.
“kok cepet banget pulangnya, ngak ada sekolah? ”. Tanya sang Ibu sambil mengelus lembut Rangga.
“Emmm... Untuk sementara sekolah ditutup... Ya... Karna kondisi penyakit aneh yang dilanda sekarang”. Jelas Rangga.
Mereka pun kembali melihat kondisi Angga yang begitu kacau dan hancur. Mereka berharap, setelah Dilan berbicara dengannya... Angga akan kembali walau tak akan mungkin terjadi.