The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Selalu Ada untuknya



Sepulang sekolah, seperti biasa Angga dan Mulan menjemput adiknya, Sara telah di jemput oleh ayahnya sedangkan Jian dan Jesika mengikuti latihan seni tari, jadi pulangnya agak telat.


Saat menunggu di depan gerbang, Kaila berjalan dengan Zaki. Tapi raut wajahnya berubah, Zaki tampak kasihan melihatnya.


“Wuuuuu ….punya kakak yang menyeramkan!!!! Kasihan”. Ejek salah seorang murid yang berlari lewat didekat mereka berdua. Tanpa disadari, Angga telah melihat kelakuan mereka yang membuat mereka takut dengannya.


“Kaila …kau baik-baik saja?”. Tanya Angga.


“Hahaha …baik kok”. Jawab adiknya dengan senyum paksa. Angga dan Mulan dapat menaggapi.


Mulan pun pulang dengan jalur nya, kini, Angga melihat ekspreksi wajah adiknya itu memang berubah.


“Kaila …kamu di buli, karena kakak ya”. Tanya Angga. Kaila hanya diam.


“Kakak tahu kamu kecewa, maaf”.


“Aku tidak sedih atau kecewa kalau kakak seperti ini, Kaila hanya sedih dengan kondisi kakak”. Jawab Kaila sambil tersenyum.


Angga tersenyum terharu kepada adiknya, Kaila pun merasa senang.


Sesampainya dirumah, sang ayah pun pulang lebih cepat dari biasanya, dengan wajah yang masam. Istrinya bertanya dan suaminya menjawab bahwa perusahaannya ditutup. Seluruh anaknya dapat mengetahui, pasti semua ini karena berita tentang Angga.


Suasana tampak lengang, kakak-kakaknya berpaling kepada Angga yang putus asa.


“Apa__ semua ini karena ku ….”. Kata Angga putus asa.


“Nak …”.


“Tidak perlu dibela lagi ….Angga adalah pembawa masalah. Semua ini karena Angga!! Semua hanya di ibaratkan dendam untuk diri sendiri ….”. Kata Angga putus asa dan pergi masuk ke kamarnya. Keluarganya tidak tahu ingin melakukannya seperti apa.


Setiap hari Angga pergi kerumah sakit untuk menjenguk Dilan, terkadang Devan juga menvideo callnya. Kesokan harinya, Dilan dikatakan telah kritis, Jika dalam lima hari belum dapat melewati masa kritisnya, maka Ia harus pergi untuk selamanya.


Angga dan Devan tidak terima, mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Kini mereka putus asa apalagi Angga, berita tentang dirinya telah bertambah kamana-mana.


Kini kehidupannya telah berubah 90%, adik, teman dan kaka-kakaknya menjadi bahan bulian disekolah, ayahnya kehilangan pekerjaannya, sang Ibu menjadi bahan gosipan warga. Apalagi kini keluarganya tidak belanja lagi, karena setiap mereka membali sesuatu uang yang mereka berikan ditolak. Karena mereka beranggapan semua kekayaan keluarga Angga karena kekuatan magis yang ada pada dirinya.


Angga pun kini kebanyakan diam, Ia lebih sering dikamarnya dan tidak pernah lagi berkumpul dengan keluarganya. Keluarganya berusaha membujuk, tapi Angga tetap pada kesepiaannya.


Hingga pada suatu malam, Angga ingin melepas kendalinya. Ia mengambil sebuah jarum, lalu Ia duduk di meja belajarnya, Angga berniat ingin mengakhiri hidupnya dengan hal kecil terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, datang sesosok lain dari dirinya dengan bayangan hitam yang ada disampingnya.


“hehehe …akhirnya kau paham!! …kau dapat merasakan dendam sekarang bukan?!!!”. Kata sosok tersebut sambil tersenyum seram.


“Tidak perlu mengurus ku. Pergilah! ..aku mau sendiri”. Kata Angga datar.


“Aku tahu …kau tidak ingin menghabisi mereka!! …dan berniat untuk mengakhiri hidup mu”. Kata sosok tersebut yang mulai suka dengan tindakan Angga.


Angga meregamkan tangannya, matanya sekilas mengekuarkan cahaya biru.


“Aku tidak tahu kau sedang merencanakan sesuatu pada ku!! …tapi pergilah”. Kata Angga. Sesosok tersebut tersenyum seram, Ia memang merencanakan sesuatu pada Angga, Ia pun menghilang saat Ibunya Angga masuk ke kamarnya yang lupa dikunci.


Angga syok, Ia bergegas mengambil tisu dan mengelap darah yang berceceran di mejanya. Sang Ibu membawakan air hangat untuk mengompresi pipinya yang lembam.


“Angga, sini dulu Ibu mau lihat di pipimu itu sudah mendingan?”. Kata sang ibu sambil duduk di kasurnya.


Angga diam sejenak sambil membersihkan dan menyembunyikan tisu dan darah pada tangannya. Lalu Angga duduk di samping ibunya dengan jarak 1 meter.


“Sini Ibu liat …hem udah hampir mendingan. Sini dikompres dulu”. Kata sang ibu yang mendekat melihat pipi putranya itu. Angga hanya diam membisu.


Meski hampir mendingan, tapi saat disentuh Ibunya, Ia masih dapat merasakannya.


“Ops …sakit ya, haha maaf. Dikit lagi …nah udah”. Kata sang Ibu dengan lembut sambil menutupi lembamnya.


“Nak …jangan berpikiran yang lain ya, kamu harus tetap semangat dan sabar, pasti ada kemudahan. Ibu dan Ayah rela berkorban demi membuat senyum mu kembali”. Kata sang Ibu sambil memeluk putranya.


“Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur dulu besok sekolah”. Kata Ibunya kembali sambil mencium keningnya. Angga hanya diam menahan haru, Ibunya kembali tersenyum dan meninggalkannya.


Keesokan harinya, Ia berangkat kesekolah. Kini Angga hanya diam bagaikan patung ditengah jalan. Saat disapa pun tingkahnya tetap dingin. Mulan dan yang lain tidak tahu lagi harus bagaimana.


“Hei kalian tahu , Bagas kemarin bertengkar dengan ayahnya sendiri”.


“Ha yang bener”. Tanya Jian ke salah satu temannya.


“Ia aku dengar dari temannya. Sampai-sampai Ia juga di pukuli oleh ayahnya dengan kasar”. Jawab temannya, Angga dapat mendengarnya tapi tidak peduli.


Lalu Bagas datang, dengan luka lembam yang ada di wajahnya dan lengannya. Semuanya syok termasuk Angga. Teman-temannya sibuk bertanya tentangnya, Bagas kini tidak menjawab, Ia kembali melihat Angga dengan khawatir.