The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 3



“Van Van! Lo baik-baik aja kan”. Seru Dito Dan Raki sambil menghampiri Devan yang tadinya didorong Rangga.


“Khu khuk.... Akh! ”. Devan terlihat benar-benar tak dapat mengeluarkan suaranya. Apalagi saat menyadarkan Angga tadi saja semakin sesak.


“Bos Bagas”.


“Aku baik”.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Mulan berdering panggilan dari petugas anggota kepolisian. Mulan pun dengan cepat mengangkat panggilan dan melapor tentang kejadian.


Diwaktu yang bersamaan, pak ustad Dan bapak yang lain datang. Mereka juga cukup terkejut dengan pemandangan rumah yang malah bersimbah darah.


Jesika dan yang lain berusaha untuk menenangkan Kaila yang menangis histeris didepan sang ibu, Ia berterusan menangis sambil memanggil jasad didepannya untuk bangun, namun, apa kalanya kalau telah menjadi takdir.


“Arga... Tolong kamu bawa Angga saja ke kamar ya... Hiks... Biarkan Ia beristirahat”. Kata sang ayah dengan tangis tersedu. Arga pun menggangguk dan perlahan membantu Angga untuk membahunya.


Sedangkan sang ayah dengan yang lain langsung mengurus kekacauan tersebut. Ambulance dan anggota kepolisian pun tiba untuk mengurusJenazah Aryana.


Arga membawa Angga langsung ke kamarnya dan membantu untuk duduk dikasur. Angga hanya diam dengan pandangan gelap dan bersalah. Wajahnya yang kena hantaman darah dilalui oleh air mata yang tak berhenti turun dengan isakan nafas yang sesak.


Arga begitu pilu melihatnya, Ia pun duduk berlutut dan memegang lembut bahunya yang membuat Angga syok karna dirinya telah trauma jika seseorang menyentuhnya.


Arga dapat merasakan jika adiknya telah berubah. Kehidupannya menjadi suram dan pedih. Namun, sebagai sang kakak, Ia akan berusaha untuk menemani kesunyiannya.


“Udah... Kau ingat kata Ibukan, ngak boleh nangis.... Senyumlah”. Kata Arga lembut sambil tersenyum dengan menahan tangisnya. Air mata yang mengalir, dengan lembut Arga menghapusnya. Angga begitu gemetar mendengar dan mengingatnya, tubuhnya bahkan bertambah dingin.


“Kamu ngak mau liat ibu sedih lagi kan... Jangan nangis lagi ya... Kami Ada selalu untukmu... Bahkan kak Rangga, Ia hanya tak terkendali tadi.... Hiks... Jangan dipikirkan ya... Semua akan baik-baik saja”. Lanjutnya dan langsung memeluk Angga yang diiringi dengan tangis. Angga yang berada dipelukan kakak nya seketika tegang ketakutan, nafasnya tertahan dengan detak jantungnya yang kencang. Arga mengetahui jika adiknya kini ketakutan, namun, Arga, tetap memberi kehangatan kepadanya.


Angga seperti tercekik dan layaknya tak dapat bernafas. Bukan karna pengap dari pelukan, tapi... Keadaan yang Ia rasakan bersalah dan sakit hati yang menyebabkannya semakin trauma. Trauma nya Angga lebih berat dan lebih parah daripada kejadian mengerikan pada kakak nya yang bernama Ryan.


“Arga”.


“Eh?! Ya kak”. Sahut Arga panggilan dari Karin, Ia pun melepas pelukan dari Angga.


Karin menghapus air mata dan melihat kondisi Angga. Ia pun duduk disampingnya.


“Ga?... Tolong ambilkan air dan kain ya”. Perintah Karin, Arga pun menurut dan mengambilkannya.


Setelahnya, Karin membersihkan darah-darah yang ada pada badannya Angga. Ia pun membuka baju Angga yang kini kotor dan bau amis. Dengan air mata yang tak berhenti turun, Karin menguatkan diri untuk membersihkan adiknya. Arga kembali memegang bahu kakaknya dan Karin membalasnya dengan senyum.


Rangga yang berada dikamarnya duduk diatas kasur dengan membungkuk dan mencengkram kepalanya yang sakit. Ia masih menangis tersedu-sedu mengingat kejadian mengerikan yang terjadi saat ini.


“Maaf.... Maafkan aku... Aku Salah... Hiks... Angga... Maafkan kakak ngga”.


“Hahaha... Kau Salah... Kau seharusnya membenci adikmu Rangga! Kau tak bersalah dan akan lebih bagus jika Ia langsung mati ditanganmu sendiri, karna yang seharusnya mati sekarang Angga! Bukan ibumu! ”.


“Aaaaaaakh! DIAM KAU MAKHLUK BRENGSEK! ”. Seru Rangga yang semakin menggeram kepalanya yang sekarang semakin sakit karna bisikan Dangerous hingga hatinya semakin tersiksa.


“Hahaha... Dasar”. Sahut makhluk itu dan pergi.


Rangga semakin terisak dengan tangis. Namun, nasehat terakhir sang Ibu yang membuatnya sedikit mereda namun, masih terpukul.


“Hiks... Aku harus kuat... Aku tak akan mengecewakanmu bu... Aku berjanji”. Kata Rangga. Ia pun menghapus air mata dan tangisnya. Ia pun bangun dan mencoba keluar dari Kamarnya.


Saat keluar, dimana Rangga melihat para petugas dan yang lain, sedang mengurus Jenazah pria yang Angga bunuh, ayah Dika dan pria yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit dan menerima hukuman mereka. Dan... Jenazah sang Ibu yang siap untuk dimandikan.


Tak berapa lama dari itu, suara pengumuman dari masjid tentang wafat sang Ibunda berkumandang keras yang membuatnya semakin terpukul.


“Rangga”. Suara yang Ia sayangi dari depannya, yang tak lain adalah sang ayah. Rangga tak dapat menahan yang namanya tangisan, Ia pun langsung memeluk beliau dengan erat.


“Hiks hiks hiks... Maaf! Maafkan Rangga!... Maaf”.


“Udah udah... Biarkan ini terjadi... Iklaskan ya. Tenangkan dirimu... Sebagai anak yang berbakti... Mau mandikan Jenazah ibu”. Kata sang Ayah yang berusaha menenangkan putranya. Rangga pun membalasnya dengan anggukan lemah.


Tak berapa lama kemudian, kedua orang tuanya Devan pun datang dengan rasa tak percaya. Mereka begitu syok saat melihat keadaan yang cukup parah apalagi tentang kematiannya Aryana Ibunda Angga dan saudaranya. Ditambah, keadaan Devan, putra mereka yang dirangkul oleh temannya yang lain.


“Astagfirullah nak, Ada apa hah”. Seru sang Ibu panik melihat putranya dengan lemah yang tubuhnya pucat dan sesak.


Devan mendongak pandangan pada sang Ibu dengan lemah.


“I... Bu”. Kata Devan berat yang lehernya semakin tercekik tiap mengeluarkan suara saat menggapai ibunya, Devan hilang kesadarannya dan tubuhnya pun hilang topangan dan jatuh.


“Nak? Devan? Devan”.


“Dia cuma pinsan bu”. Sahut Jesika yang telah memeriksanya.


“Sebenarnya... Apa yang terjadi? ”.


“Untuk itu ceritanya panjang bu”.


“Astagfirullah! ”. Seru Ayah Angga panik saat melihat Devan pinsan dipangkuan Ibunya.


“Gimana bawa saja dikamar sebelah... Biarkan Ia beristirahat... ”.


“Baik, terima kasih Gidran”. Ucap ayah Devan. Mereka pun membawa Devan dan Bag as ke kamar kosong nomor tiga yang tak begitu jauh dari kamar Rangga.


Mulan dan adiknya Zaki, sedang menenangkan Kaila yang sedang menangis histeris melihat kepergian Ibunya.


“Udah ya Kaila... Jangan nangis terus, iklaskan”. Kata Mulan.


“Hiks haaa... I bu... Jangan pergi bu”.


“Kaila... Udah berhenti nangis. Dengar kata kakak. Ibu Kaila sangat sayang dengan Kaila disana. Kakak yakin, Ibu Kaila tersenyum melihat Kaila yang pintar, baik, berbakti makanya, Kaila jangan nangis ya.... Nanti ibu Kaila juga nangis lihat Kaila yang nangis terus. Kamu ngak mau bikin Ibu sedih kan cantik”.


“Hiks hiks”. Seru Kaila yang masih tersedu-tersedu dan langsung memeluk Mulan yang sedang menghapus air matanya. Bahkan Mulan, Ia yang berusaha menenangkan malah ikutan menangis.


“Loh ayah Mah? Mau kemana? Kok terburu-buru? ”. Tanya Dilan yang duduk dikasur rumah sakit yang putih.


“Ini loh nak, Ada kabar duka dari sahabatmu Angga”. Jawab sang Ibu panik sambil memasukkan barangnya kedalam tas.


“Astagfirullah! Napa”. Balas Dilan panik seakan-akan Ia akan melompat kaget mendengar nya.


“Emang kamu tadi ngak dengar pengumuman apa. Tante Aryana meninggal dunia”. Jawab sang ayah.


“Innalillahi wanna ilaihirajiun…Tan.. Te... Tapi kenapa”.


“Kami juga ngak tahu”.


“Dilan juga ikut! ”.


“Lan! Kau baru aja sadar istirahat dulu”. Cegah Mawar


“Biarkan! Lepas kak! ”.


“Dilan, perbanyak istirahat. Baiklah kami pergi dulu Assalamualaikum”. Pamit mereka. Dilan pun menjawab dengan perasaan kesal dan tak tega menerima jika nasip Angga semakin parah.


Dilan kembali menopang kepala dengan tangannya sembari menghela napas panjang.


“Lan? Kamu baik kan? ”. Tanya Usman.


“.... Ngak”.


“Kepalamu pusing? ”. Tanya mawar.


“Pusing mikirin dunia yang tak adil bahkan untuk Angga sendiri”. Jawab Dilan lesuh. Mendengar ucapan adiknya, Mawar kembali menasehatinya.


“... Lan, kakak tahu, kakak paham dan kakak ngerti bagaimana perasaanmu yang peduli dan sayang terhadap sahabatmu. Tapi... Kamu jangan terlalu emosi dan dendam terhadap dunia. Semua tantangan Dilan. Berdoalah... Semoga semua dapat berjalan dengan lancar”.


“Yang kakak katakan benar. Dunia ini tak salah... Semua ujian yang diberikan oleh yang Maha Kuasa”. Lanjut Usman.


“Kalau bukan dunia berarti manusia yang benar sebagai rakyat kepala tongkol kan”. Jawab Dilan.


“Heh! Sayangnya lo bener”.


“Tapi... Tante”. Lanjut Dilan sedih.


“Sabar ya Lan... Semua telah terjadi.... Iklaskan ya”. Jawab Mawar dengan air matanya yang ikut keluar.


Hati Dilan tak berdaya jika menerima kenyataan pahit seperti ini. Namun, apa boleh buat, nasip datang melewati takdir.