
“Terkadang kakak selalu bertindak baik-baik saja, tapi ada yang selalu yang Ia pendam tiap perasaannya yang terkubur oleh penghianatan hingga kakak jadi gini. Apa kak Angga memang orang yang termasuk dibenci kan”. Lanjut Kaila yang membuat suasana ikut berubah.
“Kaila, tidak boleh berbicara seperti itu. Sesungguhnya, Allah selalu mencintai setiap hambanya yang selalu bersabar akan cobaan yang diberikan. Bukan karena kebencian, jadi, kita harus menjalaninya dengan kesabaran, begitu juga dengan kak Angga”. Kata sang Ibu.
“Walau bagaimana pun, kita dapat memberikan semangat, dan berdoa supaya semua masalah dapat terselesaikan”. Lanjut sang ayah. Kaila hanya mengangguk mengerti.
“Yaudah, biar Angga istirahat dulu. Kalian besokkan sekolah, ayo siap-siap dan tidur”. Kata ibu mereka. Anaknya pun patuh dan segera kekamar masing-masing. Lalu, kedua orang tuanya meninggalkan Angga dikamar untuk beristirahat.
Setelah menyiapkan ini itu ditas, Kaila mendengar ponselnya berdering panggilan dari temannya, Zaki.
“Assalamuàlaikum La”. Sambut Zaki yang disampingnya terdapat Mulan.
“Waàlaikumsalam Za, ada apa”. Balas Kaila.
“ kamu baik-baik saja?”. Kata Mulan.
“em baik Kak. Dan… maafkan Kaila ya tadi langsung lari buat kalian khawatir”.
“Ngak apa, mmm kakakmu… bagaimana”.
“Masih belum sadar kak, kondisi kak Angga juga masih sama”. Jawab Kaila dengan hati yang sedih.
“Ooo… ngak apa jangan khawatir, kakakmu pasti bangun nanti. Jangan sedih lagi Oke”. Kata Mulan menyemangati.
“Baik, makasih kak. Makasih juga Zaki”.
“ngak apa”. Jawab mereka kompak.
“Yaudah, udahan dulu ya. Sampai jumpa disekolah”. Kata Zaki.
“Hehemm… oke”. Jawab Kaila dan menutup telfon.
Zaki juga menutup panggilan. Ia pun hendak mengembalikan ponsel kakaknya, tapi…
“Kak! Ponselmu bentar ya”. Pinta Zaki.
“Eh?! Mau apa”. Balaa Mulan.
“Bentar aja”. Kata Zaki sambil membuka ponsel dan membuka galerynya. Setelah melihat isi galery di ponsel kakaknya, tiba-tiba, Zaki tersenyum sendiri yang membuat kakaknya bingung.
“Napa senyam senyum gitu?”. Kata kakaknya.
“mmm… kakak tahu. Selama ini… akhirnya Zaki dapat melihat kakak bahagia sekarang”. Kata Zaki sambil tersenyum.
“Ha? Kakak?”.
“Iya… disekolah dulu… kakak sering dibuli kan? Terkadang kakak sering mengurung diri dikamar, sering melamun sendiri sambil nangis akan kenangan pahit yang kakak rasakan”. Lanjut Zaki yang seketika membuat ekspreksi kakaknya berubah sambil mengenang masa lalu yang menyedihkannya.
“Bahkan, dulu… Zaki tak pernah melihat foto dan nomor temanmu. Kakak hanya bisa menghabiskan waktu dan bersahabat dengan novel kakak sendiri… Zaki dapat merasakan apa yang kakak rasakan”. Kata Zaki yang membuat air mata kakaknya hampir turun.
“Tapi… kakak selalu bersabar. Sehingga lihat… kakak mendapat banyak teman. Bahkan Zaki baru pertama kali melihat kakak akrab dengan temanmu dan senyum indah kakak bersama temanmu disini. Hal ini saja… membuat ku senang… karena kakak telah merasakan bagaimana dengan teman setia… ya meski…. Masih ada rintangan yang harus kita hadapi bersama, bukan sendiri”.
“Terima kasih telah, kau memang adik kakak yang terbaik”. Ucap kakaknya terharu.
“Hahaha… tidak. Zaki memang senang melihat senyum kakak seperti ini… oh ya. Ada satu lagi perubahan kakak yang baru Zaki liat”. Lanjut Zaki.
“Hem??… sungguh? Apa?”. Jawab kakaknya bingung.
“Zaki baru liat kakak akrab banget dengan Laki…. Seperti… kak Angga. Apa kakak sama kak Angga sudah memiliki sejalan sehati….. hihihi…”. Usik Zaki yang membuat kakaknya mulai kesal.
“Hei Zaki! Awas kau ya”.
PAM….!!
Kata Mulan marah sambil mengejar dan melempar adiknya dengan bantal. Zaki yang sebagai pelaku lari terbirit-birit menuju kamar.
Kaila yang sendiri pun memutuskan masuk kekamar Rangga. Dimana disana semua kakaknya berkumpul.
“Bentar lagi kak”. Jawab Kaila.
TRIIIIING!!…. TRIIIING!!…
Ponsel Arga pun berdering panggilan dari Devan.
“Siapa?!”. Tanya Rangga.
“Devan, ya waàlaikum salam”. Jawab Arga sambil mengangkat panggilan.
“Ya kak. Mmmm… bagaimana Angga. Baik-baik saja”. Tanya Devan cemas.
“Entahlah. Sejauh ini Ia masih belum sadar”. Jawab Arga yang membuat Devan semakin khawatir.
“Bagaimana dengan mu. Oke”.
“Hehemm… baik kak”.
“Mmm… Dev. Maaf mau tanya… mengapa kau dan Angga tiba-tiba pinsan. Apa terjadi sesuatu?”. Tanya Rangga sambil mengarahkan ponsel Arga padanya.
Setelah mendengar pertanyaan dari Rangga, membuat Devan kembali ketakutan dan merinding saat melihat makhluk bayangan mengerikan yang persis menyerupai sahabatnya. Beserta kejadian yang mengerikan saat ditoilet membuat Devan sedikit takut untuk menceritakannya.
“Van? Kamu baik-baik saja?”. Tanya Rangga yang memerhatikan Devan tak menjawab apa-apa.
“Apa kau bisa menceritakannya, bisa jadi nanti bisa menjadi bukti, dan kita pun bisa menyelidikinya kan?”. Jelas Arga menenangkan.
“Huh… baiklah. Jadi… gini…”. Dengan mengumpulkan tiap keberanian, Devan pun menceritakan semuanya. Beberapa menit kemudian, Devan telah menceritakan semuanya yang membuat kakaknya Angga ketakutan bercampur keheranan.
“Sesosok misterius?… menyerupai Angga?”. Tanya Rangga.
“Ya… aku melihatnya saat memasuki toilet ketika mendengar Angga seperti tercekik oleh sesuatu, yang pasti itu perbuatan makhluk itu. Tak berapa lama kemudian, sesosok itu seperti mengendalikan Angga hingga Angga kehilangan kesadaran,… dan mencekikku”. Jelas Devan dengan ketakutan. Mendengar hal itu juga membuat mereka termasuk Kaila yang mendengar ikut merinding.
“Maksudmu… Angga seperti ini karena dikendalikan oleh makhluk itu?”. Tanya Karin.
“Kemungkinan ya, aku khawatir jika Angga kembali seperti itu. Harapan ku hanya…. Semoga apa yang mengganggunya hilang”. Kata Devan.
“Harapan yang sama… tapi, sepertinya itu tidak”. Balas Arga.
“Apa maksudmu”.
“Kelebihan seperti Angga tak mungkin dapat dimusnahkan. Jangankan batinnya… apalagi yang sekarang mengusiknya hanya tergantung pada Angga sendiri”. Jelas Rangga.
“Begitu… tapi… apa Angga sanggup menghadapinya. Apalagi Dilan… kita hanya bisa berharap Ia akan kembali atau tidak”. Kata Devan sedih.
“Jangan berpikir seperti itu, kita dapat mendukung dan mendoakannya semoga Mereka kembali, jangan khawatir”. Balas Arga. Devan mengerti dan berusaha menenangkan diri. Setelah beberapa menit berbincang-bincang, mereka pun mengakhiri panggilan.
Sebenarnya Devan telah dalam perjalanan kerumah sakit ingin menjenguk keadaan sahabatnya, Dilan. Beberapa saat kemudian, mereka pun tiba, mereka pun langsung menuju ke kamar Dilan. Dimana disana terdapat keluarganya yang menahan tangis akan keadaan putranya.
“Assalamuàlaikum”.
Mendengar keluarganya Devan datang, mereka pun menghapus air mata.
“Eh… waàlaikum salam… oh Nak Devan udah kembali”. Sambut ibunya Dilan sambil memeluknya. Devan membalas pelukan dan mencium tangannya.
“Apa kabar”. Kata ayah Dilan ke ayah Devan.
“Ehem baik… bagaimana dengan Dilan… apa ada perkembangan?”.
“Itulah masalahnya pak… waktunya hanya dengan 2 hari lagi… tapi, satu perkembangan pun tak ada”. Balas Ibu Devan yang tangisnya mulai pecah dan ditenangkan oleh Ibunya Devan.
“Tenang bu. Kita doakan semoga anak Ibu baik-baik aja ya”. Kata Ibu Devan dengan menahan tangisnya.
Devan yang mendengarnya saja tak tahan, Ia pun melihat sahabatnya terbaring lemah dengan tabung oksigen tak sadarkan diri. Ia pun mendekati Dilan.