The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Usaha 2



Mendengar pertanyaan Kaila membuat mereka ragu ingin menjawab dengan kebohongan atau kenyataan. Ya jika berbohong… Kaila juga mengetahuinya setelah pulang kerumah.


“Eee… napa? Kakak belum keluar?”. Tanya Kaila melihat keraguan mereka, Zaki bahkan sampai bingung.


“Eee anu… ka… kakakmu… lagi…. Eeee”. Kata mereka ragu.


“He?… lagi apa? Terus… kak Devan mana?”. Tanya kembali Kaila. Mereka hanya bingung ingin mau menjawab apa, pertanyaan yang ragu untuk dijawab selalu ada dipikiran.


“Apa sih”.


“Huh… sebenarnya… kakakmu udah pulang”. Jawab Bagas, semua temannya menatap mereka.


“Ha? Napa? Kakak sakit? Terus! Kak Devan mana?”.


Mereka makin pening ingin menjawab apa.


“La, kakamu… dan Devan… tadi… pinsan”. Jawab Jian ragu. Semua temannya hanya saling tatap. Zaki hanya berharap kalau ceritanya hanya sakit ringan saja.


“Ha! Napa?!!”. Kaila mulai panik.


“Kami… tak bisa menjelaskannya sama kamu Kaila”. Balas Mulan, ekspreksi mereka seketika berubah.


“Apa! Mengapa tak bisa dijelaskan?! Kakak terluka heh! ”. Kata Kaila sambil mengeluarkan air matanya. Ia hanya berharap kakaknya tak akan memulai lagi.


Mereka tak tahu mau jawab apa, karena Kaila telah mengerti.


“Terus apa kak Devan …”.


“Kaila tenang dulu La …”. Balas Zaki.


“Tenang apanya! Apa kalau kakak seperti ini emang harus tenang!”. Kata Kaila sambil berlari pulang menuju rumahnya.


“Eh … Kaila”. Panggil mereka, namun Kaila tak mempedulikannya, Ie terus berlari menuju rumah ingin melihat keadaan kakaknya. Zaki terlihat kasihan pada nasip Kaila dan keluarganya, ya bagaimana tidak, tiap hari Ia dibuli oleh teman sekolahnya karna berita kakaknya yang mulai tersebar.


“… sudah kuduga ini akan terjadi”. Kata Dobi.


“Heh …ya mau bagaimana lagi, kejadian memang udah terjadi kok”. Balas Jian.


“Heh …yaudah, bagaimana kita pulang dulu”. Ajak Bagas, kini Ia mau pulang bareng, ya …sekalian nginap bareng di aparteman dua anak buahnya itu. Dan juga sekalian pulang sama Angga dan Devan, tapi ya mau bagaimana lagi kan.


Ditengah perjalanan, tiap suasana hening. Dipikiran mereka hanya kejadian yang terjadi disekolah. Mulan yang melihat adiknya melongo sedih, ingin menanyakan sesuatu padanya.


“Ki …napa”. Kata Mulan, temannya ikut memperhatikan.


“Heh? Oh! Ngak”. Jawab Zaki.


“apanya yang ngak, dari tadi sedih gitu”.


“…. Ngak Zaki cuma …kasian liat Kaila”. Jawab Zaki.


“Napa?”. Tanya Bagas.


“Oh… itu. Ya… sama juga yang terjadi disekolah kita ya kan”. Balas Jesika kesal.


“Woy… berita tentang itu dah kemana-mana woy. Bahkan sampe ke sekolah kakanya. Lagipula makin banyak yang nyebarinkan”. Lanjut Bagas.


“Iya sih, tapi kita hanya bisa berharap kalau semua penghambat ini dapat kelar semua”. Kata Mulan, mereka pun mengangguk.


“Zaki! Kita sebagai laki, hanya tetap berusaha sebagai temannya untuk menolong”. Kata Bagas yang menyemangati Zaki.


“Bos Bagas bener. Tak perlu sedih… kita dapat nyemangatin dia kan untuk terukir senyuman kembali”. Lanjut Raki, Zaki pun tersenyum mengerti.


“Hei …ini omong-omong…. Adik kakak satu jalur ya”. Kata Jesika kembali menganggu.


“Ha? Maksudnya”. Tanya Jian.


“Liat antara Zaki dan Kaila… dan coba liat Mulan dan Angga”. Lanjut Jesika, temannya kini mengerti dan tertawa.


“Hei! Apa sih”. Kata Mulan kesal.


“Eee ….kalian mau kerumah sakit untuk jenguk Dilan”. Kata Bagas memecah pertengkaran anak cewe.


“Wiiiih tumben ngajak! Boleh. Yakan Lan?”. Balas Sarah, Mulan dan temannya pun mengangguk.


“Tapi, kok tiba-tiba gini”. Tanya Jian.


“Hem …adalah”. Jawab Bagas dan melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Temannya hanya bingung, bahkan anak buahnya. Mereka pun mengikutinya saja, lagipula jawabannya ada pada saat tiba disana.


Sedangkan dirumah Angga, pak ustad telah melakukan yang seharusnya Ia lakukan. Keluarga Angga mengucapkan terima kasih atas bantuan beliau.


“Sekali lagi terima kasih ya pak ustad karena telah membantu anak saya”. Ucapa Ibu Angga.


“Ngak apa bu, Angga juga anak murid saya. Saya juga sudah mengenal banyak tentang Angga jadi, tolong untuk bapak dan Ibunya untuk berikan sedikit kebebasan tapi juga harus diprhatikan agar Ia ngak salah jalur dimasa depannya”. Jelas pak ustad, mereka pun mengangguk mengerti.


Tak berapa lama kemudian, datanglah orang tua dari wali murid preman tadi kecuali, orang tuanya Robin. Mereka masih belum puas atas tindakan yang Angga lakukan pada anak mereka, meski mengetahui kalau anak mereka yang bersalah.


“Oh Ibu, bapak…”.


“Heh! Ngak usah ramah-ramah begituan”.


Balas Ibunya Siran dengan kemarahannya.


“Ibu, kami selaku orang tuannya benar-benar minta maaf atas tindakan anak saya”. Kata ayahnya Angga.


“Halaaah!… kagak usah sesopan gitu lah. Anak iblis bukannya dijaga yang bener!”. Sambung Ibunya Siran.


“Ibu pak. Kan uang untuk biaya rumah sakitnya udah ditanggung oleh mereka Tapi, jika bapak Ibu memang masih ngak mau terima bagaimana kalau kita masuk dan dibicarakan baik-baik”. Kata Pak ustad.


“Wah! Ngak bisa gini pak. Bukankah orang seperti harus diberi pelajaran heh”.


Omel ayah Ian. Tiba-tiba, datanglah pak kepala sekolah dan pak Ridwan dengan mengendarai mobil. Sebenarnya, baru pulang dari rumah sakit dan pmenuju kerumah keluarga Angga dengan bermaksud untuk menjenguknya. Dan… ceritanya jadi lain ketika melihat ketiga orang tua murid preman ini datang. Padahal telah diberitahukan untuk tidak berurusan lagi dengan keluarga Angga tapi,… tetep aja keras kepala kayak anaknya.