The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kenangan saat Kegiatan Kelompok



Tujuh teman ini pun langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Dilan, namun sebelum itu mereka telah membeli kue atau buah buahan dari toko. Tak ada sisiwa yang lain selain mereka yang mau menjenguk Dilan, apalagi Angga.


(Kalau kita seperti nasip 3 sahabat ini… bagaimana perasaan kita lah ya).


“….. hah… kuharap Dilan bertahan lah ya, biar semua kembali seperti semula”. Kata Jesika.


“Coba waktu bisa diulang dari awal….”. Jawab Sarah.


“Entah mengapa keadaan bisa menyesak seperti ini…. Mmm Mulan”. Kata Bagas.


“Ya?”. Jawab Mulan.


“Kalau keadaan semakin sulit hingga sampai-sampai Dilan udah tia….”.


“Hei Bagas!, jangan ngomong seperti itulah”. Ucap Jian.


“Ya ya maaf”. Kata Bagas.


“Terus”. Sambung Mulan.


“Nanti… apakah Angga semakin di luar kendali?”.


“Bahkan lebih buruk Bagas”. Jawab Mulan, semua temannya ikut memeperhatikan.


“A… apa maksud mu …. Lebih buruk?”. Tanya Raki.


“Selain berada diluar kendali…. Bisa jadi Angga nanti kehilangan akal sehat, atau melakukan apa saja yang Ia mau dengan kekuatannya untuk balas dendam”. Jelas Mulan.


“Kok jadi ngeri seperti ini sih”. Kata Sarah.


“Jika saja kalau kalian masih bermusuhan sama Angga,…. Akan kemungkinan kalian tidak akan selamat Bagas”. Lanjut Mulan.


“Iya juga sih…”. Jawab Bagas.


“Tapi… asal kau tahu…. Berteman seperti ini menurut ku lebih menyenangkan dari pada berkumpul barengan para preman… acara minum mabuk-mabukan lah, tawuran lah… huh ngeriiii”. Lanjut Bagas.


“Tapi…. Jesika, kalian bertiga dari mana mengenal Angga, bahkan sampai akrab sama mereka”. Tanya Mulan.


“Sebenarnya kami dulu… hampir sama kayak orang yang lain…. Takut sama dia”. Jawab Sarah.


“Sarah benar, saat masih kelas satu SMP. Saat itu… Angga memang tak sekolah selama satu semester”. Kata Jian.


“Ha!?… satu… semester?… napa?”. Tanya Dito yang syok, bahkan Bagas dan Raki.


“Pernah denger ngak, kasus pembunuhan yang terjadi di hutan yang tak jauh dari kota ini”. Kata Jian.


“Ha!… ya. Yang terjadi sama seorang lelaki…, jadi… Angga pernah terbunuh!”. Tanggap Dito.


“Ish… bukan!… itu Kakaknya yang bernama Ryan”. Jawab Jesika.


“Nah… jadi Angga diceritain sama Dilan dan Devan. Kalau Angga dilindungi oleh kakaknya dari tragedi mengerikan itu…. Hingga… Kakak Angga lah yang terbunuh… dan karna Angga kehilangan kendalinya, Angga tak sadar kalau Ia membunuh pria pembunuh itu hingga tewas… tepat saat Ia masih kelas 6 SD”. Jelas Jian.


“Oooo aku pernah dengar. Tapi, berita itu dari dulu… tapi, kok kayak disembunyiin gitu”. Kata Bagas.


“kata Dilan dan Devan sih, karena keinginan keluarganya. Mereka tak mau kalau Angga kembali agresif. Hingga setelah acara pemakaman kakaknya…. Angga dikatakan trauma. Ia tak pernah keluar rumah dan berinteraksi dengan lingkungan sosial…. Makanya Ia libur selama itu”. Jelas Sarah.


“Terus bagaimana kalian berteman dengan Angga?”. Tanya Mulan kembali.


“Saat Angga berhasil dibujuk, Angga pun sekolah saat semester yang kedua. Kami mengenalnya dimedia sosial kalau dia adalah pemilik mata batin… hingga ada seorang siswa yang menyimpan berita tentang tewasnya sipelaku pembunuh mati karna Angga”. Kata Jian.


“Ooo terus”. Kata Dito semakin penasaran.


“Sudah diduga”. Gumam Bagas.


“Iya… karna tak berbicara, Ia menulis perkenalannya dipapan. Saat itu Ia selalu bersama Dilan dan Devan. Hingga saat guru menyuruh mengerjakan tugas kelompok yang beranggota tiga orang, tak ada yang mau masuk ke kelompok Angga meski Ia dikenal yang terpintar”.


“Ooo… terus”. Kata Raki.


“Devan dan Dilan saat itu berada dikelompok berbeda. Sebab Angga sendiri, Devan dan Dilan pernah merengek ingin bersama Angga tapi guru menolak,… dan karna tinggal kami bertiga ya terpaksa kami masuk kekelompok Angga”.


“Nah disini, biar aku yang ceritain”. Pinta Jesika.


“Serah!”. Jawab Jesika.


“Nah! Saat itu… kami canggung berbicara dengannya dan takut juga. Dan… pada saat Angga mulai memimpim, Ia mulai mengeluarkan suara yang khas nyaaaaaaa….


Ia mengatur tiap tugas dengan baik, tata bicara lembut, berkarisma tinggi, dan kami..


Dapat menikmati wajah tampannya dan mendengar tiap penjelasan yang Ia berikan”. Jelas Jesika menahan kesaltingannya.


“Hem… pantes”. Gumam Bagas ke Mulan. Mulan hanya senyum menahan tawa.


“Tapi, kami tidak memanfaat kan dari itu. Angga juga dikenal cowo yang bertanggung jawab, cerdas dan perhatian. Hingga saat itu… aku kesulitan membuat rumus algoritma… dan Angga membantuku dengan tulus…. Semua cewe sampe cemburu loh”. Kata Jesika yang penuh kesaltingan.


“Aku juga pernah dibantu Angga saat membawa barang dalam kardus dengan jumlah yang agak banyak. Sepertinya Angga menunggu lama , hingga Ia mencari ku dan melihat ku kesulitan, dan segera membantu ku. Dan Ia pun berkata… Sudah kubilang, kalau memang banyak bawa yang sedikit dulu kan berat… sini aku yang bawa,…. Haaa suaranya…. Huuuuu”. Tambah Sarah yang membuat pipinya merah total.


“Ya!… aku juga dibantu membeli bahan kerja kami dengannya. Kami berjalan berdua… aku melihat tiap langkah Angga dengan wajah tampannya yang membuat hati ku berdetak kencang… hingga tak memperhatikan jalan, dan tertabrak tiang”. Lanjut Jian yang membuat temannya tertawa.


“HUWA HAHAHAHAHAHHA”. Tertawa tim Bagas yang begitu terbahak-bahak.


“Terus? Saat kamu terjatuh… dibantu bendiriin ngak”. Tanya Mulan sekaligus merayu.


“Angga dikenal anti cewe… jadi… tidak. Ia hanya bilang… kamu ngak apa-apa~


Wus… syungguh memuaskan dengannya meski aku ditonton oleh banyak orang”. Lanjut Jian.


“Uuu kasian… ngak ditolongin…. Hahaha kasian sampe nerima kepala benjol hahaha”. Ejek Jesika.


“Eh Ia ada tolong”.


“Eh yang bener?… apa! Ia obatin kepala mu! Ih ngak boleh terjadi!”. Kata Jesika yang mulai cemburu dengan Jian.


“Peperangan apa lagi ini”. Gumam Raki.


“Ngak sih… ia obatin aku dengan…. Wajah tampan dan suara yang menawaaaan…”.


“Huf… syukurlah”. Kata Jesika lega.


Mulan, Bagas dan temannya hanya mengerutkan alis. Hanya ingin mendengar cerita malah menonton kesaltingan mereka.


“Oh… jadi belum ada yang jadian nih sama Angga”. Ganggu Mulan.


“Belum sih.. meski banyak Vans, Angga tak pernah tertarik dengan satu orang cewe pun, termasuk kami. Iya kan? Jian? Sarah”. Kata Jesika.


“Ya… meski begitu… kami seneng kok berteman sama Angga dan ditambah dengan kalian…”. Kata Jian yang membuat mereka saling senyum dan tertawa.


“Kakaaaaaak…..!..


Saat ditengah perjalanan menuju rumah sakit, ada yang memanggil mereka yang tak lain adik Mulan dan Kaila.