
Ayahnya Angga baru selesai dan baru pulang dari urusan pekerjaannya. Bukannya berhasil malah, tapi… masih saja gagal.
Beliau hanya bisa menghirup angin segar ditaman rumahnya yang luas dan hijau. Kali ini lebih semak dan berantakan, layaknya terbengkalai.
Beliau kembali melihat lapangan basket yang ada dihalaman rumahnya. Dan, Kembali terbayang, saat anak-anaknya, tertawa girang saat bermain permainan mereka. Dan kini... Hanya ayangan bayangan saja, beliau berdoa, semoga keadaan akan seperti dulu, apalagi dengan Angga yang kini.... Dengan kondisi yang parah total.
Seketika, lamunannya menghilang saat melihat segerombolan bapak-bapak dengan senjata, seperti parang, pisau atau yang lain. Membuat beliau syok bukan main, apalagi dengan ekspresi mereka yang tak bersahabat. Dan terlihat juga, beberapa teman dan sahabat Angga berteriak memohon kepada segerombolan pria itu. Dengan bingung, beliau pun menghentikannya.
“Pak pak pak!!!!! Ada apa ini heh! ”. Seru Ayah Angga sambil menghetikan mereka. Namun, mereka mengelehkannya.
“Alaah! Minggir lo! ”. Balas mereka.
“Pak! Coba jelasin dengan cara kemanusiaan dulu ya pak, ada apa! ”. Lanjut Ayah Angga.
“Heh! Gua kasih tahu ya! Anak batin itu! Telah membuat seluruh manusia disini menderita hingga meninggal karna ulahnya”. Seru mereka dengan amarah yang membara. Ayah Angga kembali menghembuskan napas panjangnya, Ia tak kan diam jika kehidupan anak dan keluarganya seperti ini terus, meski harus bertaruh nyawa sekalipun.
“Emang kalian mempunyai bukti untuk itu semua hah! ”.
“Hei! Anak gue yang sebagai korban, mengatakan kalau itu perbuatan anak lo tahu ngak! ”.
“Heh... Pak, mohon mari kita bicarakan baik-baik, jangan asal main hakim sendiri tau, urus saja semua ke pihak yang berwajib! ”.
“Halah! Ayo semuanya, bunuh anak itu sekarang! ”.
“Ayo ayo! Cepat! Bunuh anak terkutuk itu! ”.
Seru mereka dan dengan kasar mendorong ayah Angga hingga terjatuh dan langsung memasuki rumah dengan langkah kejam.
Tak lama dari kejadian itu, Devan dan rekan-rekannya datang. Mereka begitu syok melihat sekumpulan pria yang masuk kerumah dan ayahnya Angga yang terjatuh.
Devan pun langsung menghampiri dengan langkah sedikit pincang.
“Om! Om! Om ngak apa-apa?! ”. Tanya Devan panik sambil membantu ayah Angga berdiri.
“Angga! Ini tak boleh terjadi! ”. Jawab Beliau dan langsung bergegas menghentikan sekumpulan tamu tak diundang itu yang masuk kerumah untuk membunuh anaknya.
Devan dan yang lain mengikutinya, beliau pun mencoba menghubungi Rangga dan anaknya yang lain untuk segera mengunci pintu atau mengamankan Angga, tapi... Ponsel mereka tak aktif panggilannya.
Dengan panik, mereka berlari menghentikan tindakan mereka, berlari dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan Angga.
Angga yang berada didalam kamar, masih ditenangkan oleh kakaknya Arga. Karin, Laila dan Ibu juga masih didalam kamar, mereka seketika syok ketika mendengar seperti keriburan di ruang tamu.
Trank!! Pow! Desh!...
Semua barang yang ada diruang tamu, mereka hancurkan. Rangga yang berdiri didepan pintu kamar begitu syok dengan keributan. Dengan panik Ia langsung pergi melihat kejadian.
Tangga begitu syok saat melihat sekumpulan bapak-bapak yang bersenjata masuk tanpa diundang. Mereka pun melihat Rangga dengan tajam, pada saat yang bersamaan, sang ayah dan beberapa teman adiknya datang. Mereka berseru untuk menutup pintu kamarnya Angga.
Tanpa disuruh 2 sampai 3 kali, Rangga langsung berlari dan kembali dikejar oleh sekumpulan pria itu menuju kamar.
DRUMM!!....
Dengan cepat, Rangga memasuki kamar Angga dan menutup pintu dengan kuat dan menguncinya.
Tentu yang berada didalam, syok dan heran. Namun, pertanyaan dibenak pasti terjawab, bapak-bapak itu berteriak untuk segera membuka pintunya, tak sampai disitu, mereka pun berusaha membuka dengan mendobrak pintu tersebut.
“A ada apa nak”. Tanya sang Ibu ketakutan.
“... Mereka kayaknya... Mau bunuh Angga bu”. Jawab Rangga yang semakin ketakutan. Jangan Ia, Ibu dan adiknya yang lain dibuat panik.
“Oi! Cepat buka pintu ini”.
DUSH! Sush! DUSH!....
Seru mereka sambil terus berusaha mendobrak pintu itu. Sang Ibu yang ketakutan kembali memeluk Angga yang kini... Tak mengetahui siapa dirinya.
“Pak pak! Saya mohon mari kita bicarakan ini baik-baik! Jangan lukai anak saya! Saya mohon”. Seru ayah Angga dari luar.
“Hah! Banyak bacot! Urusan tentang bunuh dan kematian! Tak boleh dibiarkan kan! ”. Sahut mereka.
Devan langsung menghubungi kedua orang tuanya dan juga anggota kepolisian dengan cepat dan tanpa ketahuan, namun, sayangnya, tiap panggilan tak dapat dihubungi, entah karna masalah apa di hpnya.
“Bagas! ”. Panggil Devan, Bagas yang mengetahui apa maunya DevanIa pun langsung memberikan ponselnya.
Devan dengan cepat mengetik nomor darurat dan menghubungi, namun lagi dan lagi panggilan tak dapat dihubungi.
Tak berapa lama kemudian DOSH!...
Pintu pun terbuka dengan keras, mereka langsung girang saat melihat anak Batin tersebut hanya terduduk diatas kasur dengan keadaan diam trauma.
Mereka langsung masuk, dan... Langsung dicegah oleh ayah dan rekannya Angga. Tapi... Pria-pria itu langsung mendorong mereka hingga terjatuh.