The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 3



Amarah para pria itu tak terkendali. Devan berusaha dan mencoba panggilan beberapa kali, namun, hal tetap sama.


Para pria itu masuk dengan senjata yang ada pada tangan mereka, baik itu pisau, pisau besar, tongkat, dan lainnya.


Angga yang masih berada di pegangan erat kakaknya, dapat melihat dan merasakan tiap kejadian yang ada dihadapannya, Ia melihat segerombolan pria dan senjata mereka tanpa memalingkan pandangan.


Tak lama Angga merasakan keadaan disekitarnya, makhluk bagian dari dirinya datang dan mengusik dekat dengannya, namun, yang lain tak sadar bahkan Arga yang berada disamping adiknya yang beaura magis ini.


Makhluk hitam pekat itu, tersenyum seram, dengan matanya yang menyala biru tua hingga menambah keseramannya.


“Hehe... Kau lihat. Tak ada yang menyukaimu haha. Mereka membencimu sangat membencimu Angga! ”.


“Mereka bahkan membenci keluarga mu sendiri karna juga ulah mu?! Bukan kah menyadarinya?! Kau itu pembawa malapetaka! ”.


“Sekarang, kau hanya bisa menerima kematianmu atau kematian mereka bahkan.... Keluargamu sendiri”. Ucap makhluk itu yang membuat Angga semakin terpukul dan membuat kepalanya semakin sakit. Arga yang melihat geraman Angga seperti kesakitan kembali khawatir.


“Ga? Angga! ”. Seru Arga pelan sambil menggoyang-goyangkan bahu adiknya yang keadaannya menggeram.


Suasana sudah cukup tegang dan lengang. Para pria itu tak memandang kondisi Angga yang kacau parah, mereka mangsung angkat senjata dan maju kearahnya. Semua berseru syok, Arga yang berada disamping Angga semakin erat memeluknya.


Lalu, sang Ibu datang menghalangi langsung didepan pria itu tanpa rasa takut, sampai-sampai sang suami khawatir parah terhadapnya.


“Bu! Minggir sebelum Ibu yang harus menerimanya”.


“Coba”. Jawab beliau tegas, semua terpaling kearahnya.


“Coba jika kalian bisa. Saya, tak akan pernah membiarkan kalian, menyentuh atau menyakiti anak saya walau seujung rambut pun! …. Saya tak akan tinggal diam”. Kata sang Ibunda kejam dengan acungan jarinya kearah para pria dengan murka.


“Kami hanya berurusan dengan anak iblis itu! ”.


“HEH! ”.


GEDUBRAK!!....


“AAAAAKH! ”.


“IBU! ”.


Seru Karin, Arga, Laila dan suaminya syok saat para pria itu langsung dengan kasar mendorong wanita yang lembut itu.


Angga yang mendengar teriakan sang Ibu dapat merasakan dan mendengarnya hingga membuatnya hanya bisa menggeram.


“Bu! Ibu ngak apa-apa?! ”. Tanya Karin panik sambil mendekati sang ibu. Para pria itu melanjutkan langkahnya dengan senjata yang siap untuk menghilangkan nyawa anak batin, Angga yang masih dengan dirinya tak menunjukkan jika Ia ketakutan, hanya saja Ia ketakutan dengan tiap usikan makhluk hitam itu.


Salah satu pria menyerang, tapi... Tangga dengan cepat melawan dengan tendangannya yang cukup kuat hingga membuat pria itu terbentur tembok. Para pria yang lainnya menggeram marah dan terus berusaha jika jiwa anak batin itu akan berakhir ditangan mereka.


Devan dan yang lain tak dapat memasuki kerumunan yang membuat mereka terhambat. Apalagi tiap panggilan mereka untuk menghubungi bantuan gagal.


“Ini ponsel atau gue yang bodoh kali heh! Napa kagak bisa-bisa! Any**g! ”. Omel Devan kesal seakan-akan akan membanting ponselnya.


Bahkan temannya yang lain dari tadi jalan bolak balik denga handphone yang ditempelkan ditelinga namun, satu nomor pun ngak aktif!.


“Ini pada napa ya? Jaringan ada loh, tapi kok”. Lanjut Jesika panik dengan tatapan pada ponsel. Mulan memang dari tadi merasa ada kejadian yang tak beres dibalik semua hal yang terjadi.


“Jangan pernah sentuh adik ku! ”. Balas Rangga dengan sikap kuda-kuda untuk menghadapinya mereka. Wajahnya penuh dengan ambisi kemarahan dengan tatapan tajam kearah mereka.