The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Ada apa Dengannya



Jesika dan Jian bergegas pergi melapor ke gurunya. Tapi, satu guru pun tidak ada disana karena rapat, mereka bergegas turun ke lantai bawah. Yang lain membantu Bagas untuk menarik Angga.


“KU BILANG LEPASKAN!!! ….”. Kata Angga kasar sambil berusaha melepaskan pegangannya.


Teman-temannya, berhasil dengan sekuat tenaga menarik Angga dengan selamat, meski jantung mereka berdetak kencang. Angga bangkit berdiri.


“Lo udah gila ya!!”. Kata Bagas sambil berdiri.


Angga marah dan memegang pada baju Bagas, Ia menggeram marah matanya mengeluar cahaya biru, semua yang ada di sekitar tidak dapat menghentikannya.


“Kalo ya napa, gak da yang peduli kan”. Kata Angga dingin dan melempar Bagas.


“Ada!!! Teman dan sahabat mu. Lo gak ingat …Devan dan Dilan dan juga empat teman cewe yang selalu membelamu heh”. Kata Bagas lau Ia mendekat untuk menyadarkan Angga.


“Bisa ngak jangan ikut campur urusan gue BISA!!”. Kata Angga geram.


“Bisa …lo juga pasti geram kan berita yang di buat oleh ayah gue tentang lo. Gue bertengkar dengan Ayah gue karena ngak tega melihat lo seperti ini. Gue minta maaf atas kejadian yang udah gue lakuin dan tindakan ayah gue”. Kata Bagas.


“Gue malapetaka hidup …selalu saja berada di belakang. Mengapa yang berada didepan selalu menghilang dalam luka ….karena gue juga kan”. Jawab Angga dingin, temannya tidak tahu harus melakukan apa.


“Mulai sekarang …jangan pernah untuk urusin hidup gue ngerti!!”. Kata Angga sambil meninggalkan mereka, tapi Bagas memegang tangan Angga yang terluka karena perbuatannya sendiri. Angga berseru kesakitan.


“Eh …maaf … tangan lo terluka”. Tanya Bagas.


“Awas …”. Kata Angga yang menjauhkan tangannya pada Bagas dan pergi.


“Apa yang harus kita lakukan?! …Angga sepertinya sudah semakin nekat”. Tanya Sara.


“Keadaan makin kacau, semua karena ku. Sial …”. Balas Bagas geram sendiri.


“Kita tidak boleh biarkan Angga sendiri, bisa-bisa Ia dapat mengulanginya lagi kan”. Jelas Mulan. Temannya mengangguk setuju.


“Hmmm ….bagaimana kondisi Dilan …”.


“ ….jika kau menyakan, pasti akan terlambat”. Kata Sara sedih. Bagas dan yang lain berharap tidak terima kenyataan yang buruk kembali.


“Sesuai kabar …kemungkinan jika dalam 5 hari ini belum melewati masa kritisnya ….Ia harus pergi untuk selamannya”.


“Hah apa …ini tidak mungkin”.


“Makanya pikiran Angga kacau kemana-mana. Pastinya Ia frustasi ….”.


“Hey …Ia golongan darah apa …”.


“A”.


“Ini kesempatanku”. Kata Bagas dalam hati penuh harapan. Tiba-tiba datanglah pak Ridwan, security dan dua temannya.


“Mana Angga mana ….”. Tanya Pak Ridwan panik.


“Ngak apa pak, sudah aman. Angga telah pergi, kayaknya Ia masuk kelas deh”. Jawab Sara. Mereka menghela nafas lega.


Bel masuk pun tiba, gurunya menyuruh mereka untuk segera masuk kelas. Sesampainya di kelas, pak Ridwan memanggil Angga ke depan. Semua murid bingung dan heran tentang apa yang terjadi.


Angga diam tidak menurut, semua terpandang ke arahnya. Pak Ridwan memanggilnya kembali, dan akhirnya Angga menurut. Sang guru pun berbicara dengannya di luar kelas. Murid yang lain ya tetap kepo, mereka mencoba untuk bertanya ke Bagas, tapi satu pun tidak di jawab.


“Angga …apakah ini kamu Angga”. Tanya pak Ridwan. Angga tidak berpaling pandangannya ke gurunya itu.


“Jika bapak menunggu jawabannya, maka itu iya. Ini Angga yang sesungguhnya”. Jawab Angga.


“Jika kau melakukan hal yang seperti ini …apakah membuat mu bahagia?!“. Balas sang guru dengan nada yang tinggi.


”Entahlah …tapi, untuk apa merasa bahagia tapi dibenci. Saya hanya simpanan dendam saja“. Jawab Angga.


”Nak kamu jangan seenakan berperilaku seperti ini …kau tidak ingat orang tua mu hah!!“.


”Terserah bapak mau lakukan apa pada Angga, mau dihukum kah, diskor kah atau dikeluarkan dari sekolah juga ngak masalah___ yang penting rencana Angga tuntas“. Kata Angga sambil melihat gurunya dengan tatapan dingin.