
Lalu, Karin membawakan makanan dan minuman kepada Angga. Sepertinya, Angga memang tak nafsu makan, Ia hanya makan sesuap dan minum air.
Didalam kamarnya, hanya ada dirinya, dan Ibunya. Yang lainnya sedang shalat, jamaah.
Ibunya sangat cemas dan gelisah dari kejadian yang dikabari oleh wali kelasnya dan kejadian yang menimpa putranya.
“Bu? …kok ngelamun? …Ibu sakit?”. Tanya Angga cemas saat sosok yang paling Ia cintai itu khawatir kepada Angga.
“Eh, ngak …”. Jawab sang Ibu sambil mengaduk nasi dipiring.
“Ibu udah makan?”. Tanya Angga kembali, Ibunya hanya tersenyum lembut.
“Bu, makan ya …biar Ibu sehat …”. Balas Angga sambil menyendokkan nasi dipiring untuk Ibunya dan tersenyum. Sang Ibu tersenyum bercampur tangis langsung memeluk putranya itu sambil mengeluarkan air matanya.
“ …pikirkan dirimu dulu. Kalau kamu sakit, Ibu juga jadi susah, sedih terus kalau liat anak-anak Ibu gini. Apalagi kalau sampai kehilangan ….”. Kata beliau sembari mengeluarkan air mata. Angga tahu maksud dari Ibunya, pastinya beliau telah mendengar kabar tentang kenekatan Angga di sekolah. Ia tak bisa berkata apa-apa, Ia hanya bisa memeluknya saja.
Lalu, datanglah sang ayah, beliau menyuruh istrinya untuk shalat dan biar Ia menganti yang jaga Angga. Istrinya pun menurut.
“Bagaimana keadaanmu nak?”. Tanya sang ayah sambil duduk disampingnya.
“Entahlah …kayaknya udah mendingan …”. Jawabnya, ayahnya hanya tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut putranya.
“Eee …ada yang ingin ayah tanyakan …”. Balas beliau, Rangga dan adiknya yang lain tahu apa yang akan Ia tanyakan kepada Angga, mereka hanya berdiri di luar kamar.
“Mengapa kau mencoba mengakhiri hidupmu?!”. Tanya ayahnya yang ekspreksinya khawatir bercampur marah. Ekspreksi Angga juga berubah, Ia tidak tahu ayahnya ingin marah atau bagaimana.
“Kau pikir itu hebat …?!”. Balas nya, Angga hanya diam menunduk.
“Ayah dan Ibu memang tidak bisa bilang apa lagi, setelah mendengar kejadian ini dari wali kelas mu. Lagi pula, putra ayah kini telah berubah …”. Kata ayah yang membuat Angga diam membisu.
“Kau telah berubah dari sikapmu kepada guru, teman, bahkan ke keluargamu …!. Ada apa nak”.
“I itu …”.
“Ayah dan Ibu akan melakukan segalanya demi mu Angga. Tapi, ayah mohon padamu, jangan pernah tinggalkan semuanya ya”. Lanjut sang ayah sambil memegang bahu putranya. Kaila dan Karin mulai menangis.
“Baiklah, sekarang kamu istirahat dulu oke …”. Kata beliau, Ia lalu mematikan lampu kamar. Rangga dan yang lain mendengar ayahnya keluar kamar, langsung bergegas masuk ke kamar Kaila yang tepat didepan kamar Angga agar tidak ketahuan menguping.
Ayah pun meninggalkan kamr Angga. Angga hanya duduk menyesali perbuatannya. Kakak dan adiknya yang sudah merasa aman, langsung masuk ke kamar Angga.
“Belum tidur kan?!”. Tanya Arga sambil menutup pintu dan menyalakan lampu.
Angga hanya diam.
“Bagaimana keadaan kakak”. Sambut Kaila, Angga tetap diam.
“Ayolah …emangnya kamu tahan kelau begini terus hah?!”. Kata Rangga.
“Kau pikir keren hah coba-coba lompat mengakhiri hidup?!”. Lanjut Rangga.
“Kalau langsung berubah jadi ultraman keren juga sih”. Ganggu Arga.
“Diam!”. Balas Karin sambil menjewer telinga Arga.
“Ga, kami ngerti kok. Walau seberat apapun tindakan kamu seperti disekolah, …kami pastikan tidak akan terjadi”. Kata Rangga yakin.
“Kamu tu kan masih dibawah umur, setiap kejadian seperti ini bersabarlah. Ingat kata Ayah. Jika pun kamu bertindak seperti ini, kan makin bertambah masalah, keluargalah, temanlah, sekolah. Kan makin pusing. Kakak yakin, pasti ada perubahan”. Lanjut Karin.
“Yaudah, tidur dululah. Biar lebih rileks …”. Balas Arga.
“Yaudah kamu tidur dulu, jangan berpikiran aneh-aneh oke”. Kata Rangga sambil mengusap rambut adiknya.
“Kakak tidur ya …selamat malam”. Sambung Kaila sambil memeluknya, Angga tetap diam tanpa ada pergerakan. Kakaknya pun menutup pintu dan meninggalkannya.