
Hingga sampailah Devan dirumahnya.
“Ma, Pa, Devan tidur dulu ya”. Ucap Devan.
“Ya Nak, selamat malam”. Balas ibu dan ayahnya. Ia pun masuk kekamar dan menuju ranjangnya.
Jam menunjukkan pukul 11:40, tapi Devan masih membuka matanya. Ia terus mencoba untuk tidur, tapi matanya masih segar bugar.
Ia mengingat tentang kejadian yang terjadi didekolah dan yang terjadi di malam ini yang membuatnya tak dapat tidur, Ia kembali menghela nafas panjangnya.
Devan pun membukan ponselnya. Ia melihat galery foto tentang mereka. Ia melihat foto itu lamat-lamat.
“Mengapa sekarang jadi seperti ini sih… mengapa setiap ada perubahan selalu ada hambatan”. Kata Devan dalam hati sambil menutup matanya dengan lengan.
Ia pun kembali teringat akan kemunculan sosok Dilan saat diperjalanan pulang. Ia kembali curiga jika kenampakan sahabatnya berada di sebuah toko.
“Tapi bentar…. Mengapa Dilan tadi menampakkan diri di toko itu ya… toko itu kan ditutup 3 tahun yang lalu”. Tanggap Dilan sambil mengangkat jari telunjuknya ke atas.
Devan berencana untuk melihat isi berita yang tersebar tentang terjadinya pembunuhan yang terjadi pada Dilan.
Diberita tersebut menyatakan bahwa Angga mendapat penglihatan akan pelaku yang membunuh Dilan. Yang tak lain berjumlah 7 orang yang salah satunya terdapat goresan di mata dan luka dibibir. Namun, bukti seperti itu tak dapat dijadikan sebagai bukti karena tak secara bukti yang kuat.
Devan pun mulai mencurigai sesuatu, namun, tak tahu harus mencurigai siapa.
Tok… Tok… Tok…
Dan tiba-tiba, terdengar suara ketukan pintu dikamarnya. Tentu Devan syok, dan ketukan pintu itu pun terdengar lagi.
“Ma? Itu mama?”. Kata Devan, namun tak ada jawaban. Karena ketukan kembali bersuara, Devan pun memberanikan diri untuk membuka pintu.
Saat tiba didepan pintu, ketukan tersebut berhenti. Bingung bercampur ketakutan, Devan pun membuka pintu perlahan, tapi… tak ada siapa-siapa disana.
Ia pun kembali menutup pitunya dan menyaxarkan kepala dipintu tersebut sambil membuang nafasnya.
“Huf… ini karena aku ngak tidur… ya ngak ada sesuatu Devan…. Ini cuma halusinasi!… ya! Halu… sinasi”. Ucap Devan sambil mengurut kepalanya sendiri.
Karna merasa ada yang aneh, hingga membuatnya merinding.
“Ada apa sih”. Kata Devan.
“Ya pantes lah… aku aja yang begadang malam ini”. Lanjutnya dan memutuskan untuk langsung tidur.
Saat baru saja tiba diranjangnya, tiba-tiba, buku tulis diatas meja didekatnya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Devan sangat syok reflek bangun ketakutan.
Lalu, pulpen dimeja ikut bergerak dan menulis dibuku tersebut tanpa ada wujud orang yang menulisnya.
Devan berdiri terpaku melihat kenyataan didepannya. Ia tak dapat bergerak atau berteriak karna ketakutannya.
Sedangkan pulpen itu terus menulis dibuku tersebut. Karna penasaran, Devan pun mengumpulkan keberanian untuk mendekati dan melihatnya.
Beberapa langkah Devan mendekat, pulpen tersebut berhenti dan terjatuh dari meja. Devan pun mendekat dan melihat apa yang tertulis.
Devan pun membacanya buku tersebut yang bertulis,….
(Berhati-hatilah dengan sekumpulan pria).
Devan yang membacanya langsung syok bercampur bingung. Ia menduga ini tak salah lagi kalau bukan Dilan.
“Lan?… Dilan?… kau disini… ”. Panggil Devan sambil menoleh kesana kesini melihat sesosok sahabatnya.
Saat baru balik menghadap cermin lemari didepannya. Devan melihat dengan ketakutan saat melihat tulisan berdarah yang muncul dan bertulis…. “Tolong!”.
Devan semakin ketakutan, tubuhnya dingin berkeringat. Devan pun mundur dengan gemetar ketakutan. Baru beberapa langkah mundur kebelakang, tiba-tiba seperti ada seseorang sibelakang.
Devan syok terpaku, Ia pun menoleh kebelakangnya. Dan itu adalah sesosok Dilan dengan rupa yang pucat.
Devan langsung syok ketakutan dan terjatuh. Ia pun menatap sesosok Dilan yang berdiri didepannya. Devan pun bangkit berdiri memberanikan diri.