The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 3



“I iya… ya bener! Ada masalah! Ada penyebab”. Seru Dito.


“Tapi… karna apa? Sama siapa”. Tanya Sarah.


“Dari kita, tak akan mengetahui. Mengapa tak menanyakan pada kaum yang menderita”. Jawab Mulan, temannya pun memalingkan pandangan kearah murid yang terbaring tidur lemas dan pucat.


“OI!”. Panggil Bagas bak preman sambil mendekati Ridha salah satu anggota kelas.


“Weh buset, masih ada jiwa preman yang menggelora ya besti”. Kata Jesika, 3 temannya hanya senyum nahan tawa.


Ridha pun memalingkan pandangan kearah Bagas yang berada disampingnya.


“Nah… nah napa?”. Tanya Ridha dengan putus-putus.


“Elo sakit gini napa? Kejadian malem?”. Mendengar pertanyaan Bagas, membuat Ridha kembali teringat akan kejadian mengerikannya tadi malam.


Tiba-tiba, Ridha gemetar hebat, nafasnya sesak, wajah pucat berkeringat dan…. Kejang-kejang secara tiba-tiba.


Mereka yang kaum sehat walàfiat berseru syok dan panik. Bagas yang melihat Ridha, bukannya membantu, tapi malah mengangkat kedua tangannya seperti dikepung polisi.


“Astagfirullah Ridha!”. Seru mereka.


“Bukan gue!”. Tambah Bagas sambil mengangkat tangannya dan menjauh dari Ridha satu meter. Devan langsung bangun dan mendekati Ridha dan disusul oleh beberapa temannya yang lain dengan panik.


“Woi! BAGAS! Ini temen kayak dah sekarat lo main-main aja!”. Seru Jian kesal bercampur panik.


“Nanti gue ketularan bagaimana woi!”. Balas Bagas, Jesika beremosi langsung menjewernya.


“Dha! Dha Ridha!”. Seru Devan memanggil-manggil Ridha yang kejang-kejang ngak jelas.


Lalu….


GEDUBRAK…


Ridha jatuh dari kursinya. Ia semakin menjadi-jadi seperti terkena kontak arus listrik.


“Dha! Ridha”.


“Dito, Raki… lapor ke guru cepet”. Perintah Mulan.


“Ah oke oke”. Jawab Raki. Mereka berdua pun langsung balap menemui guru mereka.


“Ini bukan gue ini bukan gue, gue ngak salah”. Ucap Bagas ketakutan.


“Dasar Bagas”. Seru Jesika.


“Devan, tidurkan Ridha dengan pose menyamping”. Perintah Mulan kembali. Devan pun mengangguk dan melakukannya.


Tak berapa lama, pak Ridwan dan beberapa guru lainnya datang. Mereka bwgitu syok melihat keadaan Ridha, mereka pin memutuskan menghubungi orang tuanya.


Beberapa menit kemudian, Ridha dan beberapa murid lainnya pun telah dijemput. Apalagi keadaan Ridha mendingan, hanya saja Ia pinsan dengan keadaan pucat.


“Huh… untung bukan kejadian apa”. Kata sang guru. Muridnya mengangguk lega, meski merasa kejadian yang menimpa kawan sekelas mereka cukup tegang.


“Oh ya, kalian kalau mau pulang, pulang aja. Sekolah diliburkan beberapa hari sampai keadaan kembali semula”. Kata Pak Ridwan.


“Hihiii… mabar terus nih”. Seru Bagas, tapi gurunya menatap tajam yang membuat Ia menyembunyikan mukanya.


“Yaudah deh pak. Maksih banyak. Assalamuàlaikum”. Ucap Devan dan diikuti temannya. Sang guru menjawab dengan ramah dan senyuman.


“…. Beh~~~ udah kayak masuk kekota hantu serasanya”. Kata Raki merinding.


“Iyah sepi habis”. Jawab Jesika.


“Hei Mulan, ternyata kau cukup lumayan dibidang kedokteran gitu”. Puji Bagas.


“Iya… langsung tahu cara ngobati tanpa panik. Belajar dari mana?”. Lanjut Sarah penasaran.


“Oh… mama ku seorang salah satu pekerja di klinik dan puskesmas Jurnal Jakarta dan sekarang di klinik Amal Umran. Aku dapet belajar dikit… dan… pernah sebagai penjaga UKS di sekolah dulu”. Jelas Mulan.


“Uwah! BESTI GUE YANG SATU INI DEBEST BENER!!!”. Seru Jesika dengan nada nyaring.


“Eh Garong! Bisa ngak slow aja. Suara dah kayak sanka kala aja… auto budeg gue”. Balas Bagas sambil menutup telinganya.


“Apaan sih. Sadar juga kalo lo budeg and SIINTINGG!”. Balas Jesika, dan kini mulailah mereka bertengkar.


Devan terlebih diam memikirkan Angga dengan situasi yang mengerikan saat ini. Temannya ikut memperhatikannya.


“Van?”. Panggil Sarah.