
Lalu bel pun berbunyi, pak Ridwan masuk dan memberikan mata pelajaran. Satu pertanyaan di papan tulis yang harus dijawab oleh Angga. Angga tidak menjawab dan mengeluarkan suara sedikit pun. Semua seisi kelas tidak percaya Angga seperti itu termasuk Bagas.
“Angga …kok kamu jadi begini, seharusnya kamu keluarkan suara jangan bertingkah cuek kek gitu apalagi kepada Guru. Guru lain juga berkata sekarang kamu itu sudah keterlaluan …”. Kata pak Ridwan.
“Apa urusannya bagi Angga ….”. Jawab Angga sambil melihat tajam ke arah Gurunya, semua murid syok mendengar jawaban Angga di depan seorang Guru seperti itu.
“Saya memiliki urusan sendiri …lagi pula siapa yang peduli, bukan begitu …”. Kata Angga sambil melihat kearah mejanya. Terlihat senyuman seram yang Ia perlihatkan. Semuanya menahan napasnya.
“Nak ….”.
“Pak…. Biar saya yang jawab. Angga jangan di ganggu dulu”. Jawab Mulan, gurunya hanya menghela napas panjangnya.
Saat memberikan tugas, semua tampak lengang. Pak Ridwan tidak akan percaya bahwa murid kebanggaannya bertingkah seperti tadi.
Bel istirahat pun berbunyi, dimana semua murid telah menyelesaikan soal mereka. Angga langsung keluar tanpa membuka suara. Semua heran melihat kelakuannya.
Pak Ridwan memanggil Sara dan temannya yang lain. Ia berkata;” tetap perhatikan Angga, kini emosinya terkadang ingin melepas kendalinya”.Keempat muridnya mengangguk setuju, lalu gurunya pergi ke ruangannya.
“Hey ada apa dengan Angga”. Tanya Bagas sambil mendekat dengan temannya.
“Entahlah …Ia bertingkah seperti itu saat terjadi musibah pada temannya …dan juga kalian”. Jawab Jesika kesal.
“Tumben peduli, ada apa?”. Tanya Sara.
“Eh ngak …”.
“Omong-omong, mengapa kamu bertengkar dengan Ayahmu”. Tanya Jesika.
“Aku tidak mungkin menjawab dalam keadaan seperti ini. Bisa jadi gosipan tentangnya muncul lagi kan”. Kata Bagas yang mulai peduli dengan Angga. Jesika dan yang lain hanya mengangguk bingung atas tingkah laku preman pensiun itu.
“apa ..kalian mau bertemu Angga, kami ikut”. Kata Bagas.
“Kalau serius …baiklah”. Jawab Sara.
“Heh tumben …”. Ledek Jian.
“HEEH ..! DIAM KAU”. Jawab salah satu teman Bagas. Temannya menyuruh Jian untuk menutup mulutnya.
Di sisi lain, Angga berdiri di rooftop. Ia melihat kebawah dengan tatapan kosong yang penuh dengan keheningan.
“Apa mungkin hari ini akan menjadi akhir dari hidup ku…. Tapi…..”. Kata Angga dalam hati yang ingin berniat untuk mengakhiri hidupnya tapi, Ia ingat akan keluarganya.
Ia tidak tahu harus apa, Ia lalu naik pada pagar pembatas tersebut dengan mengeluarkan air mata. Tidak ada siapa-siapa disana, jadi tidak ada yang tahu.
“Apa aku memang berniat melakukan ini”. Kata Angga dalam hati ragu.
Teman ceweknya, Bagas dan pasukannya pergi mencari Angga. Mereka pergi ke perpustakaan, tapi tidak ada.
“Heh …Angga kemana ya”. Tanya Jesika.
“Ngak tahu ..biasanya dia kan ke perpustakaan”. Jawab Sara.
“Mungkin Ia di kantin”. Tebak Bagas.
“Heeeh!… kau tahu apa!. Angga bukan tipe orang yang suka ke kantin tahu!”. Jawab Jesika.
“Lalu napa marah gitu …kita bilang baik-baik”. Jawab Bagas, mereka kini bertengkar.
“Apakah mungkin di atap sekolah, karena disana kan sepi gak ada orang. Mungkin Ia sedang menenangkan diri disana”. Kata Mulan.
Mereka setuju, jawabannya masuk akal juga. Mereka terus berjalan ke lantai atas.
“Hey …bagaimana kau yakin Angga disana dan tipe dia sebenarnya”. Tanya Bagas, Mulan hanya tersenyum.
Di sisi lain, makhluk yang ada pada Angga terus menerus mengusiknya.
“Ayo Angga …pikirkan orang yang kau sayangi MENDERITA OLEH MU !!!…. HAHAHA”.
“DIAM KAU MAKHLUK TIDAK BERGUNA!!!!”. Teriak Angga marah, Ia memegang kepalanya. Teriakan tersebut terdengar oleh teman yang mencarinya.
“Hah itu Angga ayo cepat”. Kata salah satu teman Bagas, mereka merasa keadaannya yang mulai buruk dan berlari menuju atap sekolah.
Angga telah mengambil keputusan, Ia menahan napasnya. Melemahkan tubuhnya dan salah satu kakinya ke depan.
Pada saat yang bersamaan, temannya telah datang. Mereka syok dan panik akan kelakuan Angga.
“HAH ANGGAAA!”. Seru mereka kaget. Angga tidak peduli, Ia sudah sangat dekat dengan namanya kematian.
“Hah …Bagas Angga Bagas ….Anggaaaa!!!”. Teriak Cewek panik, tanpa tunggu lama Ia dan temannya menghampiri Angga.
Tubuh Angga hampir jatuh, tapi, Bagas berhasil menangkap lengannya. Situsi semakin sulit, mereka mulai panik.
“Angga sadarlah …”. Kata Bagas.
“LEPASKAN!!!”. Kata Angga yang semakin meronta-ronta, Bagas tidak dapat menahannya, pegangannya hampir terlepas.
“Angga kumohon”.