
“Heh …kelamaan banget ya. Bagaimana kalau kita akhiri ini”. Kata Robin sambil mengeluarkan pisau lipat disakunya. Semua kini tegang+ syok+ ketakutan+ merinding\= Hampir ingin berteriak. Angga hanya memandang dengan sebelah matanya, Ia bahkan seperti orang yang hendak kesurupan.
“Apa yang kau! …”. Seru Devan. Robin tidak mendengarkannya. Angga masih dalam keadaan diam. Saat Robin hendak ingin menusuk Angga, Devan menyambar tangan Robin, tapi Robin menghentakkan tangannya kembali sehingga Devan kembali terjatuh dan terkena kursi di bagian depan. Angga hanya dapat menggeramkan tangannya.
“Heh! Ini saatnya!, MATILAH KAU!! ….!“.
”Hentikan!“. Seru Mulan menahan tangannya Robin yang hendak ingin membunuh Angga. Semua termanga melihat Mulan sebagai murid baru begitu nekat dengan preman. Angga tetap dalam keadaan diam, itu entah dia atau bukan, keadaannya sekarang seperti tidak menyadarkan diri. Bisa dikatakan, makhluk bayangan itu telah menguasai dirinya.
”Apa hak kamu melakukan kekerasan seperti ini!“. Kata Mulan dan melepaskan pegangan pada Robin. Robin yang emosi, melangkah kearahnya. Mulan reflek mundur 3 langkah.
”Mulan …apa yang kau lakukan?!“. Bisik Jesika khawatir berat, tidak ada yang berani membelanya.
”Heh apa. Beraninya lo ya! menghentikan rencana gue! Siapa lo ….! Anak baru?!!. Ooooo ya ya ya! Lo pasti pacarnya anak bangsat ini kan. Hahahahahah …!“. Balas Robin dan tertawa bersama anak buahnya. Semua termanga, sedangkan Mulan hanya menatap kesal.
”Apa! Jangan natap begitu lah. Minimal kalo punya pacar indigo tu ajarin biar NGAK BUNUH ORANG!. Hahaha!! ….“.
”Diam!“. Tegas Mulan, semua termasuk teman atau preman itu tidak percaya kalau Mulan memang tak ada rasa takutnya. Angga yang kini berada disisi Devan dapat mendengarnya.
”Kamu pikir! Kalau kami dekat berarti kami pacaran?!! …heh, kepalamu yang berpikiran sempit!“. Balas Mulan tingkat pro. Sontak bikin orang syok. Robin yang tak terima langsung mengarahkan serangan kearah Mulan. Mulan dapat menghindar, tapi Ia terkena di bagian tangan kanannya dan mengeluarkan darah. Angga dapat merasakan seluruh kesensaraan dan rasa sakit pada sahabat dan temannya, kini auranya akan terlihat.
”Ga Angga …kamu baik-baik saja?!“. Tanya Devan cemas melihat Angga geram sampai-sampai nafasnya terengah-engah. Bagas dan anak buahnya bingung dan khawatir.
”Bagaimana enak heh!“. Seru Robin dan siap untuk mengakhiri Mulan, tapi, Angga kehilangan kendalinya dan kini berada dibelakang Robin dengan mata biru dan bayangan yang ada disekitarnya, Ia pun menghentikan tangan preman itu. Devan dan teman disekelilingnya tak percaya. Anak buah Robin terlihat termanga dengan Angga yang kehilangan kesadarannya.
”Ada apa dengan mu bangsat!“. Seru Robin dengan agak ketakutan melihat Angga seperti makhluk penghantar maut. Angga tak mendengarkannya, Ia langsung memukul pada bagian siku hingga pisau tersebut terlepas dan melayang dan set! Angga menangkap pisau tersebut.
Robin memegang tangannya yang sakit, tapi babakbelur belum sampai disitu. Angga tak tinggal diam, Ia maju ke arah preman itu lalu, memukulnya hingga mengeluarkan darah di bibir dan hidungnya …dan …
TRAAAAMP!!! ….
Angga masih tak sadarkan diri, dengan pisau ditangannya, Ia pun maju kearah Robin yang menahan rasa sakit. Murid yang tak kuat melihatnya langsung kabur. Devan dan yang lain mencoba menghentikan dan menyadarkan Angga, tapi Angga mengelak.
”Angga hentikan! Jangan lakukan ini!“. Seru Devan dan Angga mendorongnya hingga terjatuh.
”Oh tidak! Ada apa dengan Angga!“. Seru Jesika panik, begitu pula dengan murid yang lain. Kini, Angga berada didepan preman itu dengan tangan yang berpegang pisau. Angga tersenyum seram dengan muka yang pucat, mata yang biru, dan bayangan misterius disekelilingnya. Robin kini paham akan harus berhati-hati dengan Angga.
”To …long …kumohon maafkan aku…“. Kata Robin ketakutan dan menangis. Angga yang kehilangan kesadaran hanya tersenyum seram seperti sedang kesurupan.
Ian, Rasya dan Siran tak mau diam. Mereka pun mencoba menyerang Angga dari belakang.
”Woi! Dah cukup!“. Seru Devan, Bagas dan temannya. Namun mereka tak peduli dan terus mendekati Angga.
Rasya melompat duluan. Angga dapat merasakan pergerakan dan serangan. Sekilas Ia tertawa dan tersenyum seram, lalu membalikkan badannya dan memegang pada bagian kepalanya Rasya dengan cepat. Mata Angga mengeluarkan cahaya biru dan bayangan menyelimutinya.
Dan seketika, Rasya tak dapat bergerak, tubuhnya pucat berkeringat, gemetar dan terjatuh tanpa perlawanan. Semua terpaku melihat kejadian tersebut, Ian dan Siran pun menghentikan rencana mereka, lalu mereka mundur perlahan. Angga tak tinggal diam, Ia lalu mengangkat tangannya yang membuat dua preman itu terangkat keatas dan ….
SPLASSSS!!! …
Angga melempar mereka hingga ke papan tulis. Ian pinsan dan Siran memutahkan darah, Angga tersenyum lepas. Semua murid kini mulai merekam, ada sebagiannya mulai kabur ketakutan.
”Apa itu Angga?!“. Tanya Sarah pelan dengan ketakutan.
”Bukan“. Jawab Mulan singkat sambil memegang tangannya yang terluka.
Angga memutar badannya ke arah Robin yang terluka dan lemah. Dengan pisau di tangannya, muka pucat seram, mata biru seram, bayangan dan senyum seperti orang yang hilang kewarasannya. Robin yang terduduk lemah dengan darah di hidung dan mulutnya, hanya bisa menerima hidup atau mati.