
“Maaf telah membuat Ibu khawatir”. Lanjut Angga.
“Angga hanya pembunuh, pembawa mala petaka disini… seperti sampah yang terbuang… penyimpan dendam… dan amarah”. Kata Angga dingin, sang ibu yang mendengar hanya terus berderai air mata.
“Angga pembunuh!… pembunuh!…. MEREKA KEJAM!!!”. Teriak Angga seperti orang tak waras sambil menggeram kepalanya. Ibunya mengerti bagaimana perasaan putranya, beliau berusaha menenangkannya.
“Nak… kamu anak yang hebat bagi ibu dan ayah… ibu sayang pada mu, ayah sayang padamu… semua mendukungmu Angga… kamu ngak sendiri”. Kata sang ibu sambil meraih tangan Angga.
“Ibu yakin, pasti ada jalan untuk mempermudah semuanya… ibu janji ya sayang”. Lanjut beliau, Angga hanya bisa menggila menunduk dan menggeram.
“Yang sabar ya nak”. Kata beliau dan memeluk hangat putranya. Angga hanya bisa bernafas bercampur dendam yang ada padanya.
Devan pun berangkat bersama Kaila. Devan merasa cemas akan keadaan yang seperti ini.
Kaila yang melihat Devan begitu gelisah, berusaha menenangkannya.
“Bagaimana keadaan kak Devan, bagaimana dengan kaki kakak”. Tanya Kaila manis.
“Ehaha… udah baikan sedikit”. Jawab Devan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Mmmm…. Bagaimana dengan kakak mu”. Tanya Devan yang membuat ekspreksi Kaila berubah.
“Sama… kakak masih seperti patah semangat… kayak dulu”.
“Woi!… Kaila!”. Panggil Zaki dari belakang mereka.
“Hai! Halo kak Devan”. Sapa Zaki.
“Pagi”. Lanjut Mulan.
“Pagi… mmm tumben lambat”. Kata Devan
“Haha… tunggu situkang masalah ini”. Jawab Mulan sambil menjewer telinga adiknya. Kaila hanya tertawa kecil melihat mereka.
“Eh… bagaimana dengan kaki mu”.
“Hem.. baik… bagaimana dengan tangan mu”.
“Hhh tidak parah, hanya goresan”.
“em… baguslah”.
“Bagaimana dengan kondisi kakak mu Kaila”. Tanya Zaki. Yang tentu membuat Kaila murung lagi.
“…. Eh… lebih buruk dari yang terburuk”. Jawab.
Mereka pun masuk kelingkungan sekolah masing-masing. Mulan yang dari tadi sulit keliar dari labirin pertanyaan, berniat ingin menanyakannya ke Devan.
“Dev”.
“Ya?”.
“Mmmm… aaaa”. Hanya itu yanv dikeluarkan Mulan saat ragu bertanya atau membecirakan sesuatu sama laki.
“Apa sih. Dah kayak tawon aja”. Balas Devan kekeh.
“….. mmm anu itu… bagaimana dengan Angga”.
“Itu doang…. Ya… kayak dijawab sama Kaila tadi, lebih buruk… dari yang terburuk”. Jawab Devan.
“Apanya”. Tanya Mulan.
“…. Aaah… nanti aja diceritain… banyak telinga gajah disini”. Jawab Devan.
“Napa… kamu… suka sama Angga kan?? Kan kan kan~~~”. Ganggu Devan dengan menyipitkan matanya. Ya! Inilah tipe kalau orang konyol melepas stres.
“Ihss apasih!… orang cuma cemas”. Jawab Mulan kesal.
“Lah! Habis sampe nanyak gitu”.
CUWÈÈÈÈT…..!!!
Dan tiba-tiba… Mulan menjewer telinga Devan.
“Aw! Aw! Aw! Aw! Sakit sakit aaaah”. Seru Devan.
“Makanya diam! Ganggu amatlah”. Balaa Mulan sambil melepas jeweran mautnya. Devan hanya tertawa.
Mereka pun masuk ke kelas dan duduk ditempat masing-masing. Tiap murid melihat tiap langkah Devan yang tanpa didampingi Angga. Devan yang menyadari hanya memutar bola matanya.
KRIIIIING…..!!!…. KRIIIIING…..!
[“Diharapkan pada semua murid kumpul ke lapangan semua!… diulangi, diharapkan pada semua murid kumpul kelapangan semua!]
Lalu, berbunyilah bel dan pemberitahuan kepala sekolah. Mereka pun keluar dan menuju kelapangan.
Disana, banyak siswa yang berkumpul dibarisan kelas masing-masing. Banhak dari mereka asik berceramah tentang Angga dan sebagainya. Anak kelas 2-A pun masuk ke barisan mereka.
”Hiiih! Ada masalah apa sih!“. Seru anak cewe kesal. Pak kepala sekolah dan wakilnya pun langsung mengarah ke inti persalahan.