The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kenagan Yang Menyakitkan 3



Sedangkan di toilet, Angga masih dalam sangkar makhluk itu. Makhluk itu semakin mengganggu Angga sampai Ia dalam kendalinya.


“Kau sendiri yang seperti Manusia kejam, lihat, teman mu yang hampir mati itu kan karena mu”. Kata makhluk itu yang membuat Angga semakin terpukul Dan putus asa.


“Tapi, menurut ku itu bagus... Pemilik batin seperti mu yang selalu memiliki dendam memang patut bukan”. Lanjut makhluk itu.


“Bisakah kau menghentikan itu... ”. Kata Angga.


“Tidak! Aku tidak akan berhenti sebelum kau berada dalam kendaliku hahahaha..... !!! ”.


Balas makhluk Dan tiba-tiba menghilang di cermin yang membuat Angga syok Dan was-was.


Dan dengan cepat muncul dibelakangnya, Angga menyadari Dan dengan cepat menghindar. Makhluk itu tak tinggal diam, Ia memunculkan sebuah bayangan dari belakang Angga, Angga syok Dan terkena hantaman. Dengan cepat bayangan kembali kepadanya Dan Angga berhasil menghindar.


Makhluk itu tertawa, Angga Bangkit Dan berlari menuju pintu, Naasnya makahluk itu muncul dibelakangnya dan langsung memegang leher Angga Dan kembali menjauh dari pintu.


“Hehehe... Kau pikir aku akan membiarkanmu melarikan diri dariku heh!Hahahaa! !! ”. Kata makhluk itu Dan mencekik Angga dari belakangnya. Angga semakin tersiksa, kondisi yang tadinya lemah sekarang malah ditambah oleh makhluk itu.


Devan yang berlari mencari Angga, Is tiba-tiba seperti mendengar kejanggalan dari dalam WC. Karena curiga, Devan dengan perlahan menuju pintu WC tersebut dan menempelkan telinganya di pintu WC untuk mendengar suara yang didengarnya betul atau salah.


“Ha... A... Akh!!! “.


Angga semakin tercekik, Ia tak dapat bernafas bahkan dadanya semakin sesak. Makhluk itu dapat merasakan Devan yang berada diluar, Ia lantas tersenyum lebar dan berbisik ke Angga.


”Hehehehe... Bagaimana korban mu selanjutnya adalah temanmu!?!!... Hehehehe“. Bisik makhluk itu, Angga kini syok dan khawatir kalau itu memang sahabatnya yang menjadi korban. Ia ingin berteriak, tapi Ia tak dapat mengeluarkan suaranya.


Makhluk itu semakin menyiksa Angga.


”AAAAAKH!!!... “. Seruan Angga terdengar oleh Devan disertai dengan tawa seram oleh makhluk itu. Devan syok bukan main, Ia langsung menobrak pintu tersebut.


”Ang... Ga?!... Angga! “. Seru Devan syok. Ia melihat sahabatnya yang tercekik oleh makhluk bayangan yang menyerupai Angga di belakangnya.


Angga juga syok, ternyata itu memang Devan. Ia berusaha meminta kepada sahabatnya untuk pergi, tapi sia- sia, Ia tak dapat mengeluarkan suaranya sedikit pun.


”Hehehe... Bagus!! “. Kata makhluk itu sambil tertawa seram, Angga semakin berusaha melepaskan dirinya.


”Si... Si apa kau! “. Seru Devan ketakutan dan cemas.


Doooor!!!...


Balas makhluk itu dan tiba-tiba pintu tersebut tertutup dengan sendirinya. Devan syok dan Angga semakin panik.


Makhluk itu langsung memulai aksinya, Ia melepas cekikan pada Angga dan masuk ketubuhnya. Angga semakin sesak, seakan-akan mau mati rasanya. Ia memegang dadanya yang sakit dan bayangan hitam pun mulai muncul disekitar Angga dengan mata birunya yang muncul tiba-tiba. Devan tak berpikir panjang lebar, Ia langsung menghampiri sahabatnya.


Angga secara tiba-tiba mendapat penglihatan pada saat Ia mulai kehilangan kendalinya. Ia dapat melihat pada saat Ia menghabisi Devan dengan mencekik nya hingga tewas. Angga kembali memegang kepalanya yang sakit matanya masih biru dan nafasnya yang semakin sesak dengan keringat yang bertambah.


”Angga! Angga kamu ngak…“.


”Menjauh dariku! “. Balas Angga sambil menepis tangan Devan yang memegang nya. Nafasnya Angga semakin menjadi-jadi ditambah kepalanya yang semakin sakit.


”Dev... Menjauh dariku!.... Kumohon pergilah! “. Perintah Angga khawatir dan takut.


”Tidak akan, aku tak akan meninggalkanmu jika keadaan mu seperti ini! “. Balas Devan.


”Aku tak ingin kau terluka! Pergilah! “. Kata Angga yang semakin menghindar dari Devan. Dan tiba-tiba, kepalanya semakin sakit, bayangan disekitar nya gelap sampai merayap di dinding WC itu yang semakin menambah aura mencekam, Devan pun makin khawatir.


Kedua tangan nya memegang kepalanya yang semakin sakit seperti ditusuk oleh jarum hingga menembus sampai ke otaknya. Angga berdiri dengan lemah dan mundur menjauh dari sahabatnya. Devan semakin khawatir meski harus menghadapi ketakutan nya.


”Angga tenanglah... “. Kata Devan yang berusaha mendekati Angga.


”.... Devan... Kumohon menjauh lah“. Cegah Angga sambil mundur menjauh.


”Tapi.... “.


”Wah hahahaha...!! Bagaimana dengan pemandangan nasip sahabatnya ini hah?! “. Secara tiba-tiba makhluk itu berbicara tanpa wujud.


”Siapa pun dirimu! Menjauh lah dari Angga! “. Teriak Devan melihat Kerala kemari.


”Heh... Bagaimana aku akan menjau kalau aku adalah bagian dari nya.....!! “. Balas makhluk itu yang tiba-tiba muncil dibelakang Angga. Dan tentu saja Devan kembali syok, makhluk itu tersenyum lebar Dan kembali menguasai Angga.


Angga berseru histeris menahan sakit di kepalanya. Dan sebuah angin kencang yang berhembus disekitar Angga yang membuat Devan tak dapat mendekatinya.