
Setelah mengingat tiap perkataan yang dikatakan Angga dan juga berita tentang tewasnya sahabat Angga. Mereka dapat mengambil setidaknya, satu kesimpulan.
“Oh iya, tapi kak!. Diberita, mengatakan kalau Angga menemukan penglihatan bahwa, yang membunuh Dilan itu beranggota 7 orang yang salah satunya terdapat luka goresan di mata belahan kiri, dan…. Hah! Luka dibagian bibir”. Tanggap Arga.
“Tuh kan. Angga yang pastinya saat itu pernah menyelidiki sendiri, tapi… polisi tidak dapat menerima laporan seperti itu karena bukti belum kuat”. Kata Rangga.
“Dan… preman yang tadi, bukankah sangat dekat jika dikatakan sebagai tersangka utama. Goresan dan luka dibibir, bahkan anggotanya pun tepat 7 orang”.
“Yang kubilang tadi juga apa”.
“A hehehehe… tapi… kalau liat dari wajahnya, Arga seperti pernah melihat pria itu”.
“Sungguh, siapa”.
“Entahlah, Ryan pernah mengincar kasus seperti ini”.
“Ry …ryan?. Bagaimana kau tahu”.
“Ryan dari dulu pernah mengincar orang seperti mereka. Aku sebenernya ngak yakin juga sih, tapi, tiap Ryan keluar rumah, seperti Ia menutupi identitasnya saat melihat pria seperti mereka. Lagi pula, Ia sering keluar malam dan selalu berada disisi Angga kan?”. Kata Arga serius.
“Kau benar. Apa Ia mengetahui sesuatu tentang Angga. Lalu, apa hubungannya Angga dan pria seperti mereka?”. Kata Rangga. Mereka kini mulai curiga akan sesuatu, dari kasus yang ditangani adik mereka yang tak lain adalah, Ryan Gilangzairan, dan kecurigaan pria preman terhadap Angga.
“Arga! Sepertinya kita juga harus menyelidiki ini. Percuma kalau harus nunggu pencarian dari polisi, kasihan Angga”.
“Bener! Arga setuju banget!. Bagaimana kita mencoba dari cerita dari penglihatan Angga dan menulusuri pria preman itu”. Rencana Arga, Kakaknya setuju. Mereka pun melaju pulang kerumah.
Dirumah, para tamu dengan kesal pulang. Keluarganya Angga berterima kasih atas bantuan dari guru, pak ustad dan keluarganya Devan karena telah mempercayai mereka.
“Terima kasih ya pak. Atas segala bantuan yang telah bapak lakukan untuk Angga”.
“Tak perlu berterima kasih bu. Kami mengerti akan keluarga ibu bapak, kami mempercayai Angga sepenuhnya. Saya berharap, semoga Angga baik-baik saja”. Kata kepala sekolah.
“Dan Ibu dan bapak tak perlu khawatir, saya dan dan guru lainnya akan menasehati tiap murid yang tak berguna akan kenakalannya”. Lanjut kepala sekolah.
“Iya pak. Terima kasih atas kerja samanya”. Ucap Ayah Angga. Mereka pun tersenyum menyemangati.
Lalu, Rangga dan Arga pun pulang. Mereka memarkir motor dan menyalami guru mereka. Ya sebenarnya, Rangga merupakan alumni dari SMP yang sama seperti Angga.
“Assalamuàlaikum pak”. Sambut Rangga sambil menyalami gurunya dan diikuti oleh Arga.
“Waàlaikum salam. Ini Rangga kan. Wah, udah gede dan gagah ya”. Kata pak Ridwan.
“Oh ya pak. Ini Rangga salah satu alumni sekolah kita. Ia juga termasuk siswa yang berprestasi disekolah”.
“Hehehe… ya. Ngak ada yang lain”.
“Oh.. salam kenal, Rangga”. Balas kepala sekolah sambil tersenyum.
“Hem! Ngak ada yang lain. Mentang-mentang …”. Bisik Arga mengganggu kakanya.
“Ganggu banget sih”. Protes Rangga yang membuat mereka tertawa kecil.
“Eh, Rangga?. Ada apa dengan tanganmu”. Tanya pak Ridwan hingga semua memerhatikannya. Orang tuanya kini mulai khawatir dengannya. Rangga dan adiknya hanya saling tatap menatap.
“Eh ini tadi… karena… jatu dari…. Motor!”.
“Selokan!”.
Jawab mereka ragu, yang mendengar bingung akan jawaban yang tak terpadu, Rangga motor, dan Arga menjawabnya Selokan.
“Is jawab apasih”. Bisik Rangga.
“Ya mana kutahu! Ahahaha ….yaudah pak kami permisi”. Arga langsung permisi memasuki rumah dan meninggalkan kakaknya yang kebinguan.
“Eh! Arga! Maaf permisi dulu ya pak. Assalamuàlaikum”. Lanjut Rangga dan menelusuri Arga masuk kerumah.
Semua tamu bahkan orang tua mereka hanya bingung. Setelah lama berbincang, para tamu pun pulang. Hingga jam menunjukkan pukul 08.30.
“Salamuàlaikum semut”. Masuk Arga sambil menutup pintu kamar kakaknya dan mendekatinya.
“Apa sih!”. Kata Rangga sambil membalut perban di lengannya.
“Orang kasih salam ya dijawab dong. Rugi banget pergi ngaji!”. Omel Arga.
“Waàlaikum salam warahmatullahi….wabarakaaaaaaatuh…. Dah senang”. Balas Rangga dengan senyum kesal.
Adiknya tertawa.
“Perlu bantuan”. Kata Arga.
“Ngak! Heh! Kembali kehabitat mu sana-sana!”.
“Hish! Orang datang mau bantuin”.
“Ohya! Ibu mana?”.
“Dalam kamar Angga”.
“Belum sadar”.
“belum. Kak! Ada apa dengan kepala gurumu. Dan… Devan. Apa yang terjadi disekolah”.
“… terluka karena…. Angga”.
“What! Jangan musuhin adik mu sendiri ya”.
“Eh emang betul begoooo!. Bahkan 4 anak preman dan anak OSIS sampai masuk kerumah sakit”. Kata Rangga yang membuat Arga syok merinding.
“Katanya sih. Preman berandal disekolah yang memulainya hingga Angga menjadi tak terkendali. Sampai-sampai… Devan dicekik olehnya”.
Lalu, Karin dan Kaila datang dengan muka melayu sambil memasuki kamar Rangga.
“Maaf. Gue ngak ngadain rapat tikus disini oke”. Kata Rangga.
“Napa luka”. Tanya Karin sambil duduk dilantai.
“Ngak! Tadi cuma terlibat perkelahian dengan geng preman”. Balas Arga.
“Ooooh”. Jawab Karin singkat. Ia seolah-olah mengerti dan seperti tidak memedulikan kakaknya sendiri.
“Weh! Kok cuma bilang oh!. Biasanya gini, ha! Apa! Bagaimana ini bisa terjadi! Kakak memang keras kepala”. Ledek Rangga, Arga hanya tertawa terbahak-bahak.
“Oh ya kak. Menurutmu… apa Angga dikendalikan sesuatu”. Tanya Arga serius yang membuat mereka juga serius.
Rangga kembali teringat kejanggalan dikamar mandi. Pada saat Angga meretakkan cermin disana.
“Entahlah… yang aku janggalkan dikamar mandi”. Tanggap Rangga.
“Napa? Pup kakak belum dibersihkan”. Ledek Arga.
“Bukan! Lo jadi adek kok gini hehhh!”. Balas Rangga sambil memegang kepala adiknya.
“Ada apa dikamar mandi”. Tanya Karin.
“Jadi gini… eh Kaila?”.
“Ya kak”.
“Kalau ngak kuat dengar bisa tinggalkan kamar”. Kata Rangga lembut yang tak mau membuat Kaila menjadi ketakutan.
“Ngak. Kaila kuat kok. Kaila juga kepengen tahu”.
Dengan berat hati, Rangga pun menceritakan tiap kejanggalan yang Ia rasakan pada Angga.