The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



“Di Dilan? Tadi melem?… mmmm… oh ya! Dia baek-baek aja kok”. Jawab Devan sembari tersenyum, temannya kini melotot tak percaya, entah Devan masih waras atau tidak.


Bagas bagun dari duduk atas meja dan pergi mendekati Devan, Ia pun memegang dahi temannya untuk memeriksa kalau Ia tidak gila.


“Lo napa sih! Sakit apa sih!”. Seru Devan yang kepalanya dipegang Bagas.


“Gue sehat… lo kali sakit. Lo gila kan?”. Tanya Bagas kocak.


“Gila! Lo kali!”. Balas Devan dan menyingkirkan tangan Bagas karna mengatakannya gila.


“Gue ngak gila… suhu gua normal! Kepala gua ada. Wajah ganteng gini lo pikir gua gila!”. Seru Bagas.


“Ganteng… muka aja mirip genteng”. Balas Devan sambil menopang wajahnya diatas meja.


“APA KAU BILAAAAAAANG!”.


“Dev… maaf, bukankah Dilan tadi malem…”. Tanya Jian.


“Ngak ada apa-apa kok. Memang iya… tapi, Allah berkata lain… Dilan udah baikan kok”. Jawab Devan bahagia. Jangankan Devan, semua temannya bangun bersorak dengan semangat tak percaya. Mulan hanya termanga dan sangat bersyukur.


“Wah.. alhamdulillah ya Allah… ”. Seru Sarah.


“Lo yang bener”.


“Dilan udah baikan?!”.


“Iya ya. Bener kok. Cuma dia koma dalam beberapa hari. Gua pokonya bersyukur banget”. Jawab Devan dengan senyumnya.


“Masyaallah… akhirnya harapan dan doa kita semuanya terjawab ya”. Kata Mulan, Devan mengangguk dan tersenyum.


“Bagaimana… nanti sepulang sekolah ini… kita mampir yuk”. Ajak Jesika.


“Oke”. Jawab Devan.


“Eh! Guys! Coba liat berita yang baru keluar hari ini deh”. Seru Jian syok sambil memperlihatkan berita diponselnya.


𝘽𝙧𝙚𝙖𝙠𝙞𝙣𝙜 𝙉𝙚𝙬𝙨


[ masyarakat daerah Bandung begitu pula dengan daerah lainnya, memiliki situasi penyakit aneh. Yang dimana tiap seseorang mengalami seperti keadaan syok dan kejang-kejang yang tiba-tiba muncul.)


[ Situasi ini juga terjadi pada anak-anak dan Remaja. Ditulusuri, dikabarkan korban yang menderita penyakit ini hampir ke seluruh kota Semarang. Seluruh sekolah kosong akan tidak kehadiran para murid.]


[Para ilmuan bahkan para dokter tak dapat mendeteksi penyakit apa yang terderita. Hingga, rumah sakit tak dapat menampung banyak pesien yang sevanyak ini. Saya Krisya melaporkan].


“Ih buset! Seluruh sekolah anjir!”. Seru Bagas.


“Ini penyakit apaan sih… ngeri amat kayak kena zombie”. Kata Jian.


Mendengar hal itu, Devan memikirkan tentang perkataan adiknya Angga tadi.


““Kak Angga…. Mulai lagi tadi malam”.


“Ya… kakak tahu, sepertinya kakak mengalami penglihatan saat kejadian meninggalnya kak Dilan… jadi… Kak Angga nganggap kalau kak Dilan udah tiada”.


“Iya, hingga tadi tengah malam, kak Angga sampe ketawa sendiri dan Ia bilang…. Ia puas akan pembalasan dendamnya”. Mengingat apa yang dikatakan Kaila, membuat Devan mengarah kejadian ini pada Angga.


“Hei Dev!”. Seru Bagas mengejutkan Devan.


“Eh?!”.


“Napa ngelamun?! Kesambet sama apaan”. Ledek Bagas.


“Apaan sih”.


“Nah nah! Ini ni lagi. Bikin merinding aku!”. Seru Jian yang baru saja menggeser, geser berita diponselnya.


“Apa apa”.


“Nih ni! Coba liat”.


...Breaking News...


[Diberitakan!, daerah kota Bandung wilayah kota Megah. Terjadi kasus pembunuhan sadis pada tiga orang pria yang tak diketahui identitasnya dijalan Sirjati].


“What the heck is going on!? Really?!”. Seru Jesika syok.


[Seorang korban, terkena tembakan dikepala, dan duanya mengalami kepala puntung, yang mana antara badan dan kepalanya terpisah].


“oh no! this is really bad!”. Seru Jesika, Jian dan Sarah kompak.


“Puntung kepala njir!”. Seru Bagas dan anak buahnya.


“Kenyangka ngak dah kayak kota mati!”. Kata Dito.


“Jangan bilang kalo seytan yang lakuin ini semua”. Lanjut Jesika.


“Weh! Emang ada setan bawa pistol-pistol segala?! Elite bener berarti… seytan jaman now dong”. Balas Raki.


“Pinter bener bahsa inggris”. Ejek Bagas.


“Situasi semakin sulit, kejam dan misterius, pasti ada penyebab dibalik semua ini”. Tanggap Mulan yang membuat Devan semakin serius.