
Angga pun menuruti, Ia pun pergi dengan pak Ridwan. Sesampainya disana, terlihat Bagas dan Ayahnya dan kepala sekolah duduk menunggu.
Saat Angga baru memasuki ruangan, Ayahnya Bagas bangun dan berkata, “oh jadi ini anak batin yang hampir ngebunuh anak saya! …emang ga tau malu ya ……”. TRAK !!!…… Kata Ayah Bagas sambil menampar Angga dengan keras sehingga Ia mengeluarkan darah dari hidungnya. Angga tetap berdiri kokoh dengan sikap awalnya, sedangkan Bagas ketakutan melihat tindakan ayahnya.
“Pak! …jangan ada kekerasan terhadap anak disini atau keluar!!. Tegas kepala sekolah. Ayahnya Bagas menatap tajam ke arah Angga dan pergi duduk ke sofa. Angga tetap dengan pose dan wajah datar yang sama. Ia dan pak Ridwan pun duduk yang berhadapan dengan Bagas, pak Ridwan pun memberikan tisu kepada Angga untuk membersihkan darah di hidungnya.
Saat pak kepala sekolah baru memulai pembicaraan, datanglah ayahnya Angga, Ia pun duduk disamping putranya.
”jadi pak, apa yang terjadi dengan anak saya“. Tanya Ayah Angga.
”Lah pake nanyak segala! …anak lo dah hampir bunuh anak gue! ….masa jadi orang tua gak tahu apa-apa!! ….tu ajarin anak lo adab biar jadi orang tua pun yang becus“. Jawab ayah Bagas kasar yang membuat Angga menggeram marah tapi, ayahnya memegangnya agar Ia tenang.
”Pak harap tenang!, kita bisa bicarakan ini baik-baik“. Kata pak kepala.
”Baik-baik apanya pak!! ….anak saya dah sakit parah ni pak gara-gara dia pak ….saya gak mau tahu! Mulai sekarang bapak harus keluarkan murid itu dari sekolah ini“. Kata Ayah Bagas marah.
”PAK!! …anda tidak punya hak untuk mengatur disini jadi harap diam!!“. Tegas kepala sekolah yang membuat ayahnya Bagas diam.
Pak kepala sekolah pun, menceritakan kejadian yang dilaporkan oleh pak Ridwan.
”Saya minta maaf atas tindakan anak saya pak, tapi, apakah anak bapak telah diperhatikan betul-betul“. Kata ayah Angga, ayahnya Bagas hanya diam.
Berbagai pembicaraan telah terjadi, akhirnya keputusan telah diterima dengan baik. Tapi, tidak dengan ayahnya Bagas, Ia masih geram dengan keluarganya Angga.
Saat sudah selesai mereka pun keluar dari kantor bapak kepala sekolah. Ayahnya Angga berterima kasih kepada pak Ridwan, pak Ridwan pun menerima dan pergi. Tak lama kemudian datanglah Bagas dengan ayahnya, Bagas yang berada dibelakang tampak masih pucat dan ayahnya berkata, ”kalian pikir akan berakhir sampai disini …tidak! …saya akan membuat keluarga anda sensara …terutama si batin gak berguna ini!!! …baik sampai jumpa“. Kata ayah Bagas menantang dan meninggalkan mereka, Angga dari tadi seperti hendak ingin menghabisinya.
Lalu, tak sengaja Mulan dan temannya melihat dari jauh Angga dan ayahnya.
”Ayah ….maaf kan Angga“. Kata Angga sambil menunduk.
”Tidak apa nak ….jangan khawatirkan itu, sebaiknya kamu ke UKS dulu untuk mengobati ini“. Kata ayahnya sambil memegang pipi putranya yang sudah mulai lembam karena kejadian tadi.
”Iya ….“. Jawab Angga mengangguk..
”Angga!!“. Sapa Jian, Angga menoleh dan tersenyum.
”Hah!! ….apa yang terjadi di pipimu“. Kata Sara kaget melihat pipi Angga yang lembam.
”Ah …ngak ada“. Jawab Angga.
”Lebih baik kita ke UKS dulu“. Kata Mulan.
”Tidak perlu ….aku bisa sendiri“. Jawab Angga.
”Ayo!! …“. Jawab anak cewek serentak yang mengepung Angga agar ikut pergi ke UKS.
Sesampainya disana, bu Hira langsung memberikan obat yang berupa salap ke pipinya Angga. Angga mencoba menahan rasa sakit saat bu Hira mengolesi obat di pipinya.
”Baiklah selesai, nanti dirumah di kompresi lagi agar tidak bengkak“. Saran bu Hira, mereka pun berterima kasih dan keluar dari UKS.
Kini Angga berjalan dengan anak cewek, ya …memang bukan pengalaman yang biasa, tapi, mereka teman yang luar biasa.
”Oh ya Angga …omong-omong …apa yang terjadi di kantor tadi sampai pipi yang imutmu lembam gitu?“. Tanya Jesika.
”Huh …ceritanya panjang“. Jawab Angga.
”Emmm …kalau boleh nanyak …bagaimana kondisi Dilan“. Tanya Sara.
”Aku belum tahu …rencananya nanti sepulang sekolah aku akan pergi kesana“. Kata Angga.
”Kalau boleh …kami ikut ya“. Balas Jian.
”Boleh …nanti sekalian aja“. Jawab Angga.
Jam pulang pun tiba, Angga dan temannya pun pergi menjemput Kaila dulu. Lalu, pergi ke minimarket untuk membeli buah dan berangkat ke rumah sakit.