
Begitu syoknya Dika saat melihat sesosok mengerikan itu, ternyata adalah Angga yang berada disebelahnya sambil memegang sebuah pisau. Angga menatap tajam dengan mata biru, senyuman gila seram, dan bayangan hitam disekitarnya.
“Ang… Angga!”. Seru Dika panik ketakutan.
“Ya…. Ini aku… hehe… mau bermain he?!”. Jawab Angga bagai pembunuh gila. Ia merangkak sambil mengangkat tangannya yang berpegang pisau yang membuat Dika mundur ketakutan.
“Ang… Angga. Kumohon jangan lakukan itu”. Kata Dika.
“Mengapa!…. Aku sudah lama tak se senang ini…. Melihat reaksi wajahmu begitu berbeda saat bertemu denganku…. Heh… kau takut??!”. Kata Angga yang terus mendekati Dika. Dika tak dapat menjawab satu huruf pun, Ia hanya bisa mundur perlahan mendekati pintu.
“Atas semua kesensaraan yang kurasakan… akan kubalas pada detik ini juga! Ha!….”.
SRENG!!!…
Kata Angga sambil menyerang Dika dengan ketajaman pisau yang Ia pegang. Tapi, untungnya Dika langsung menghindar hingga serangan Angga meleset.
Melihat Dika ketakutan membuat Angga semakin senang. Ia semakin tertawa gila dan terus menyerang Dika.
“OOO… Kau mau bermain juga ternyata… baiklah…. Mari kita melakukan ini… hihi HAHAHAHA!!!….HIYAAA!!!”.
SRENG!!!
SRAK….
“Hehehe… kau suka!”.
TRAK!..
Dika semakin kewalahan dengan ketakutannya. Kali ini entah hanya mimpi atau bukan, tapi yang pasti…. Inilah yang paling menyeramkan bertemu dengan Angga.
“Hah…. Hah…. BU! BU! IBU! AYAH! …. TOLONG DIKA!…. AYAAAAAH!…”. Teriak Dika meminta pertolongan sambil mengedor-ngedor pintu kamarnya dengan panik.
“Hei ayolah…. Kau ini. Ayo kita bermain sekali lagi…. Ini menyenangkan….. haha… DALAM HIDUPKU!”. Balas Angga sambil berjalan mendekati Dika yang ketakutan sambil menatap tajam dan tersenyum seram.
“A… aku mohon Angga…ampuni aku”. Kata Dika gemetar.
Lalu, ibu dan ayah Dika mendengar ada keributan dikamar anaknya dan membuka pintu. Begitu syoknya mereka saat melihat Dika jatuh terduduk ketakutan seperti melihat yang begitu menyeramkan didepannya.
“Dika?!… Dika!!? Kamu napa nak?!”. Seru orang tuanya.
“Tidak! Tidak! Mohon jangan membunuhku! Jangan membunuhku! AMPUNI AKU! AMPUNI AKU!”. Teriak Dika ketakutan melihat Angga yang semakin dekat dengannya. Ternyata…. Itu adalah bayangan batin Angga yang Angga rencanakan untuk membalas dendam. Bayangan Angga itu hanya terlihat san dirasakan oleh Dika saja, tapi tidak dengan orang tuanya.
Angga telah mendekati Dika dengan tatapan dan senyuman gilanya. Angga lalu memegang pisau dengan kedua tangannya.
“ANGGA….! TI…”.
“Hahah terlambat untuk semua itu…. HA!”.
“AK!!! AAAAAAAAKH!!!”.
Angga lalu menusuk Dika dengan pisau ditangannya. Namun, tak mengeluarkan darah, hanya saja…. Pisau tersebut seperti masuk kedalamnya dan membuat Dika muntah-muntah hingga seperti kejang-kejang. Dalam sekejab, bayangan Angga menghilang meninggalkan Dika dan teriakan orang tuanya.
“DIKA! DIKA! KAMU NAPA NAK!…. DIKA!”. Teriak ibunya. Ayahnya pun langsung bergegas membawa Dika kerumah sakit.
.
.
.
.
Tidak hanya pada Dika, tapi pada semua orang yang telah menghianatinya juga. Lalu,… bagaimanakah kondisi Robin dan kakaknya….?.
Robin yang tertidur diranjangnya. Ia rencananya besok akan pulang. Tapi, ada yang membuat Ia terjaga, yaitu… sebuah cekikan yang ada padanya.
“HAK!… AKH… A… ADA APA?!”. Kata Robin yang tercekik.
“Malam kak Robin…. Apa aku mengganggumu?”. Kata sesosok Angga yang mencekik Robin disampingnya.
“Angga!… HAAAAAAAKH!!!”.
“Ku harap kakak bisa menerimanya…. Apa aku membuatmu tersiksa?”.
“Ang…..ga…. Kumohon”. Seru Robin.
Kejadian itu langsung terlihat oleh ibunya. Ibu Robin yang melihat anaknya langsung memanggil dokter.
Lalu, Angga pun menghilang setelah Robin pinsan. Semua anak buah Robin yang juga berada diruang yang berbeda juga mengalami kejadian yang sama. Hal itu membuat mereka bingung.