The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kenangan Yang Menyakitkan 4



Angin pun menghilang, Angga melepas cengkraman di kepalanya dengan menunduk.


A“Angga... ”. Seru Devan sambil berjalan mendekati Angga yang kehilangan kesadarannya.


Baru beberapa langkah Devan mendekatinya, Angga secara tiba-tiba meluruskan tangannya kearah Devan, Devan syok dan memberhentikan langkahnya.


Seketika, bayangan hitam menyelimuti tangannya. Devan syok bercampur khawatir, dan tiba-tiba, leher Devan tercekik hingga sulit bernafas.


“Haa hah a akh! .... ”.


“hehehe... ”. Tawa Angga ngeri yang tiba-tiba rupanya sang at mengerikan, matanya mengeluarkan warna biru bercampur hitam, wajah dan badannya sangat pucat.


“Heh... Apa yang akan kau lakukan sekarang... ”. Kata Angga tak sadarkan diri sambil mencekik Angga dari jauh dengan aura batinnya.


“Ang... Ga.. Hah! Sadarlah”. Kata Devan yang tercekik.


Angga yang masih dalam pikiran nya tersenyum lebar dan men cengkraman tangannya yang membuat Devan terangkat dan semakin tercekik. Terlihat kondisi Devan juga pucat berkeringat hingga air liurnya mengalir Keluar karna semakin sesak nya bernafas.


Angga yang kehilangan kendalinya tertawa menyerakan dan untunglah pak Ridwan yang tadinya mengikuti Devan berhenti di depan WC mendengar seperti suara tawa yang mencurigakan.


Karena semakin curiga dan khawatir, pak Ridwan mencoba untuk membukakan pintu, tapi pintu tersebut seperti ditahan oleh sesuatu.


CKREk! CEKREk!...


“Halo! Halo?!! ... Ada orang di dalam!! To long bukakan pintu nya! ”. Teriak pak Ridwan sambil terus berusaha membuka pintu.


Setelah berusaha, pintu pun terbuka. Pak Ridwan syok bukan main. Ia melihat Angga dengan bayangan hitam mencekik Devan,


Lalu, Sidiq dan Ray si kakak kelas member osis salah satu teman Angga, tak sengaja lewat ingin pergi ke toilet.


“Heh? Ngapain Pak Ridwan disitu? ”. Kata Sidiq ke Ray.


“Iya ya, tapi kok kayak ketakutan gitu? ”. Balas Ray.


“Pak Ridwaaan!!! ”. Panggil Sidiq.


Lalu, Ridwan berlari menuju Angga yang membuat Sidiq dan Ray syok sekaligus bingung. Mereka pun bergegas menghampiri pak Ridwan.


Pak Ridwan dengan panik menghampiri dua muridnya itu. Angga yang kehilangan kendalinya dapat merasakan pergerakan wali kelas nya dan...


PAM....!!!...


Sebuah bayangan hitam yang muncul tiba-tiba menyambar pak Ridwan yang tak lain dikendalikan oleh Angga yang membuat wali kelas nya terlempar dan kepalanya terbentur finding hingga kepalanya berdarah.


Sidiq dan Ray yang telah tiba di depan pintu sangan syok dan sangat syok melihat Angga mencekik Devan dan kepala pak Ridwan berdarah.


“Pak!!!.... ”. Seru mereka sambil menghampiri gurunya yang terluka. Angga belum selesai, Is pun menyambar Ray hingga terlempar dan terbentur ke pintu hingga kepalanya pun berdarah.


Sidiq yang tadinya berniat ingin BAK kini malah mendapat Kemerindingan yang membuat saluran pembuangannya terhenti sementara. Sidiq pun menghampiri Ray yang pinsan yang seketika darah kembali Keluar dari hidung nya.


“Ray! Astagfirullah kamu baik-baik kan?!!! Jangan mati! ”. Kata Sidiq panik dan satu bayangan menyambarnya, tapi, Ray menolak teman nya hingga bayangan tersebut mengenai udara kosong.


“Diq!!... Cepat panggil bantuan!!! ”. Kata Ray sambil memegang kepala dan menahan sakit. Sidiq tak perlu menanyakan lagi, Ia mengannguk dan langsung pergi meminta bantuan siapa pun yang Ada.


“Heh!... Ini sekolah terbengkalai atau sekolah apaan sih!!... Guru satu pun ngak Ada... ”. Omel Sidiq sambil berlari kencang.


Sedangkan keadaan di toilet begitu menegang kan.


“Eh... Pak Ridwan?!”. Seru Ray.


“Kamu ngak apa-apa? ”. Tanya pak Ridwan khawatir sambil bangkit berdiri, darah nya terus mengalir. Devan semakin lemah.


“Angga lepaskan temanmu”. Balas pak Ridwan. Ray hanya ketakutan dan cemas.


“Heh! Dia?! ... Mengapa harus terburu- buru? Inilah yang kuinginkan! ”. Balas Angga dengan menatap seram.


“Angga bapak mohon sadarlah!... Kau tak ingat siapa sahabatnya mu sendiri! ... ”.


“Diam!!... ”. Balas Angga dan kembali menyambar gurunya dengan bayangan hitammnya.


“Pak Ridwan!!!... ”. Seru Ray sambil mendekati gurunya. Angga tertawa bagaimana orang kesurupan, Devan hampir kehilangan kesadarannya.


Dan untunglah pak Salman, Rizal, Dani dan juga pak satpam datang. Mereka juga syok melihat pemandangan maut di depan mata.


“Amankan Ridwan dan murid”. Perintah pak Rizal. Pak Satpam dan Dani langsung menurut dan membantu membawa pak Ridwan dan Ray pergi ke rumah sakit dan diikuti oleh Sidiq.


Angga Kehilangan kendalinya menatap pak Rizal di depannya.


“Nak, lepaskan teman mu.... Dia tak bersalah”. Kata pak Rizal, guru yang mengejar mendengar keributan Ada yang datang menghampiri. Angga hanya diam dengan amarah yang membara.


“Jangan biarkan dendam dan kebencianmu dapat mengendalikanmu nak, Ada yang selalu berada disisi mu nak, guru mu, teman mu, bahkan sahabat mu kan”. Kata Rizal sambil mendekati Angga.


“Lalu apa, selalu ada juga kan yang membuat hidupku sensara! Untuk apa ku pedulikan mereka! ”. Balas Angga.


“Kau sendiri yang tak sadar diri”. Balas pak Rizal yang membuat Angga diam terpaku, cekikannya pun mereda.


“Bapak tahu kamu sangat berat menghadapi hidupmu, tapi, ingatlah akan tiap perkataan orang yang selalu yang kau sayangi?! ”. Kata Pak Rizal yang sudah berada didepannya dan memegang bahunya. Angga hanya diam berkeringat mengingat memory indah bersama orang yang Ia sayang. Nafasnya Devan pun mulai sesak.


Dan tiba-tiba, pak Rizal memegang kepala Angga sambil membacakan ayat suci Al-Quràn guna menyadarkan atau dapat menenangkannya.


Angga seperti tercengang seketika, semua yang melihat ikut merinding. Pak Rizal terus membacakan ayat yang membuat Angga semakin sesak, tubuh nya seperti diikat dengan rantai dari bawah hingga ke leher nya. Keringatnya semakin banyak, bayangan disekitarnya hampir memudar.


Devan hampir terlepas dari cekikan Angga. Semakin pak Rizal membacakan ayat Al-Quràn, Angga semakin tercekik dan semakin sesak hingga Ia tak sanggup untuk berdiri.


Tak berapa lama kemudian, Angga semakin melemah dan pak Rizal pun melepas pegangan pada kepala Angga dengan kuat hingga Angga jatuh pinsan dengan nafasnya yang berat. Bayangan hitam hilang dengan mata birunya. Devan pun terlepas dan terjatuh dari cekikan Angga. Nafasnya Devan pun terengah-engah setelah cekikan berakhir.


Mereka berdua pun pinsan.


Ayah nya Angga yang terburu-buru langsung memasuki lingkungan sekolah dengan berlari. Ia begitu syok melihat seorang murid dan guru yang tak lain adalah pak Ridwan, terluka parah.


“Pak! Pak! Ini... Ada apa ya”. Tanya Ayah Angga khawatir.


“I... Itu... Itu anak bapak dah hilang kendalinya pak”. Jawab pak satpam ketakutan, ayah nya semakin syok.


“Dimana?!!! ”.


“Di... Lantai 2 di Toilet”. Jawab pak satpam.


Ayah Angga langsung pamit dan berlari menuju lantai 2. Sesampainya disana, Ia melihat banyak kerumunan. Ayah Angga langsung masuk, beliau pun syok, melihat putranya pinsan dengan keadaan yang mengenaskan, begitu pulan dengan Devan.


“Angga! ”. Teriak ayah nya sambil menghampiri putranya.


“Ya Allah... Devan, nak bangun nak”.


“Pak, ini tak apa-apa, Angga dan teman nya hanya pinsan dan lemah, jadi kita bawa Ia ke rumah sakit atau ke rumah dulu…saya juga sudah menghubungi orang tuanya Devan”. Kata Pak Rizal.


Sang Ayah sangat cemas akan keadaan putranya, Ia pun mengendong Angga dan membawakannya ke rumah saja.


Orang tuanya Devan pun datang, mereka pun membawa anak nya pulang.