
“Di… Dilan”. Seru Devan syok dan bangkit berdiri. Sesosok Dilan hanya diam berdiri menatap sahabatnya.
“…. Aku tahu kau tidak akan menerima ini, tapi… kami akan berusaha mengurusnya… jadi kumohon… jangan berkeliaran seperti ini Dilan”. Kata Devan.
“Aku hanya ingin mengatakan… berhati-hatilah pada sekumpulan pria yang mendekati mu dan Angga”. Jawab Dilan.
“A… apa maksud mu… tapi, tunggu!. Jadi…. Apakah yang dalam penglihatan Angga tentang 7 orang pria yang terluka di bibir dan mata itu adalah benar”. Kata Devan.
“Aku… tak ingin mengatakannya”.
“Apa”.
“Justru Angga lah yang harus kita jaga”.
“Apa… maksud mu”.
“Mereka, bekerja sama dengan makhluk bayangan hitam yang ada dalam diri Angga”.
“Makhluk… bayangan hitam?”. Jawab Devan yang teringat akan kebampakan makhluk menyeramkan itu.
“Makhluk itu memengaruhi manusia lain agar Ia mendapat jiwa Angga untuknya… jika tidak segera menanganinya, Angga dalam gengaman makhluk itu… ini ganya tergantung padanya… apakah Ia akan kehilangan nyawa, atau Ia akan melupakan siapa dirinya”. Jelas Dilan yang membuat Devan semakin cemas.
“Apa! Jadi apa yang harus kita lakukan”.
“Ini hanya tergantung pada Angga sendiri. Orang sepertinya begitu sensitif dilingkungan sosial… kau ingat pada kejadian sekolah?!”.
“Ya… aku tahu”.
“Kita hanya dapat mendukung dan memberikan perhatian padanya”. Kata Dan dan langsung menghilang.
“Hah! Dilan!”. Seru Devan yang melihat sahabatnya menghilang. Tulisan darh dicermin pun hilang.
Devan sejenak memikirkan tiap petunjuk yang diberikan oleh Dilan. Meskipun itu begitu rumit, tapi Ia akan berusaha.
“Berarti benar apa yang dikatan dalam penglihatan Angga,… makhluk itu…”. Kata Devan dalam hati.
Hingga keesokan harinya, Ia pun berangkat kesolah. Yang kini kelihatan berbeda, Ia pergi sendiri tanpa didampingi 2 sahabatnya.
“Nak, perlu ayah antar”. Kata sang ayah.
“Mmm… ngak perlu yah, Devan bisa berangkat sendiri”. Jawab Devan sambil tersenyum.
“Hemm… yaudah, dijalan hati-hati ya”.
“Baik Ma. Kalau begitu, Devan berangkat duluan. Assalamuàlaikum”.
“Waàlaikum salam”.
Devan pun berangkat, Ia terpikirkan Kaila. Ia pun memutuskan menghubunginya.
Kaila yang berada dirumah pun hendak ingin berangkat. Saat telah mangambil tas dan keluar dari kamarnya, Kaila menoleh khawatir dengan kondisi kakaknya.
Ia pun masuk kekamar kakaknya yang pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia melihat Ibunya yang sedang merapikan Angga. Kaila pun masuk kekamar dan berdiri disamping ibunya. Ia melihat kakaknya diam membisu, seperti patah semangat.
“Kaila, belum berangkat?”. Kata sang ibu sambil mengelap tangan Angga.
“Kaila? Napa senyum-senyum sendiri gitu”. Tanya sang Ibu yang melihat tingkah putrinya.
“Hahaha… bu. Kak Angga ganteng ya”. Kata Kaila sambil tertawa kecil.
“Haha… iya… kakak siapa coba”. Jawab sang ibu, tapi Angga tetap diam tanpa mempedulikan apa-apa. Ia seperti di kurung sendiri diruang yang hampa tanpa warna.
KRIIIING…. KRIIIING….
Terdengar suara ponsel Kaila panggilan dari Devan. Kaila pun langsung mengangkatnya.
“Waàlaikum salam kak Devan, ada apa?”.
“Oh La, udah berangkat?”.
“Lagi mau berangkat nih”.
“Barengan aja, Kak Devan lagi diperjalanan”.
“Oh… Ok Kak, Kaila akan tunggu didepan”.
“Woke”. Jawab Kaila dan akhirnya menutup panggilan. Angga yang tadinya mendengar percakapan antara adik dan sahabatnya menyadari bahwa, sahabatnya masih peduli.
“Kaila… berangkat sekalian sama Kak Arga yuk, sekalian diantar sama ayah”. Ajak Arga.
“mmm Kaila mau berangkat sama kak Devan aja, tadi baru hubungin”.
“Oh… ok”.
“Yaudah bu, kami berangkat dulu ya”. Pamit mereka. Sang ibu hanya tersenyum.
“Kak”. Panggil Kaila sambil mendekati Angga.
“Kaila berangkat dulu ya…. Jaga diri kakak”. Lanjut Kaila dan mencium pipi kakaknya. Ibu dan Arga tersenyum sedangkan Angga hanya diam seperti patung. Mereka berdua pun berangkat.
Didalam kamar kini tinggal Angga dan ibunya. Sang ibu lalu menyuapi nasi ke putranya. Namun, Angga tak membuka mulutnya sedikit pun, tingkahnya kini dingin.
“Angga, makan dulu nak”. Kata sang ibu dan mendekatkannya ke Angga, tapi Ia mengelak.
Sang ibu hanya menghela nafasnya. Beliau pun memegang kedua tangan putranya dengan duduk berlutut ke Angga.
“Wajah putra ibu memang tampan, sama seperti ayahnya ya”. Kata sang ibu sambil mengelus wajahnya.
“Coba senyum dulu sayang… ibu mau lihat kamu tersenyum…”. Lanjut sang ibu yang mengangkat sedikit wajahnya. Tapi, Angga langsung menyingkirkan wajahnya. Ibunya hanya melihat keadaan putranya yang memorinya hancur lebur. Beliau pun berusaha menaikkan semangatnya.
“Nak, coba liat muka ibu”. Kata sang ibu, Angga tetap diam membungkuk.
“Angga… coba liat wajah ibu… bentar aja”. Lanjut sang ibu, Angga, tetap tidak memalingkan kemana-mana.
“Angga… jangan bersedih seperti ini terus ya nak”. Kata beliau dengan langsung dengan isak tangisnya. Angga pun sedikit memalingkan wajahnya kearah ibunda tercinta.
“Ibu hanya berharap supaya kamu akan…. Tersenyum… ceria… bahagia… tapi… mengapa…”. Lanjut beliau yang tak kuat menahan tangisnya dan menyandarkan wajahnya dipangkuan Angga.
“Maaf”. Kata Angga singkat. Sang ibu yang mendengar suara Angga langsung menoleh.