
Salah satu dari mareka yang merupakan pemimpin, ternyata Ia adalah adiknya Rihun. Ia bertubuh tinggi, berkulit coklat …bukan coklat manis sih …lebih kurang pahit ya guys, berambut keriting dan bernama, Al Robin sar. Biasa sering dipanggil, Robin. Dan 3 anak buahnya yang bernama, Rasya, Ian, dan Siran.
Mereka tiba di kelas 2A. Semua murid yang tadinya asyik dengan gosipan mereka sehari-hari, kini mereka ketakutan melihat preman yang datang. Mereka tahu bahwa semua ini karena Angga.
Saat para sekumpulan teman baru ini bersenang-senang, tiba-tiba …?!
GEDUBRAK!! …
Pintu kelas yang ditutup di dobrak oleh Robin dan teman-temannya. Tentu yang masih didalam kelas syok dan jantungnya yang pasti melayaaaang. Yaaaa …untung pintu kelas inti ini awet sampai berabad-abad ya.
Robin dan geng nya pun masuk dengan wajah kemarahan yang membara.
“Siapa yang ada disini!!! …yang namanya Angga Fattrul Izan! Heh!”. Kata Robin marah. Semua murid yang didalam maupun diluar saling membicarakan dan memperhatikan Angga.
“Malah bisik-bisik segala …jawab! Brengsek SIAPA?!!!!”. Lanjut Robin. Teman dan sahabat Angga mencoba menutupi keberadaan Angga yang masih duduk diam. Angga kembali melihat Devan, karena tindakan mereka telah nekat. Namun Devan memberi kode untuk diam.
“Jawab apa ngak! Atau ku hancurin kelas kalian ngerti!!!”.
“Angga ngak hadir!”. Jawab Jian dengan agak gemetar ketakutan, temannya berpaling kearahnya. Robin dan gengnya tertawa dan mendekati Jian dan temannya.
“Apa?! Ngak hadir?! Hahahaha …tadi gue nanyak ke yang lain. Kalo anak bangsat itu ada disini. Jadi lo berani ngelawan gue heh! ….”. Balas Robin dan bersiap menampar Jian. Tapi, tangannya dihentikan oleh Angga yang dari tadi geram.
“Hentikan, gue Angga! Apa mau lo!”. Kata Angga yang masih memegang tangan Robin yang mencoba memukul Jian. Jian, temannya dan murid yang lain berseru kaget akan kejadian mengerikan itu.
“Heh! Ooo jadi lo… ”.
Drappkkk!! …
Balas Robin sambil menatap kesal dan melempar Angga hingga tersudut ke papan tulis dan memegang kerah bajunya. Angga tetap memasang wajah datarnya.
“Jadi lo Angga si anak indigo batin itu ya. Ooo udah berani banget lo ya”. Kata Robin.
“Bisa ngak udah cukup dengan pengenalannya. Jawab aja kau mau apa”. Balas Angga. Devan dan temannya mengkhawatirkan Angga, karena Angga semakin nekat saja dengan kakak kelas, preman lagi.
“Ooo hahahaha …wiiih berani betul hahaha. Heh! Lo pikir gue takut ya sama lo heh”.
“Woy Robin. Bisa ngak, ngak bikin keributan disini heh”. Tegas Bagas tanpa rasa takut.
“Wooo hahaha. Bagas?!?? …lo, belain dia. Wahaha …ngak nyangka dari preman jadi pembela. Heh dah jadi bawahan dia?!“. Seru Robin yang membuat Bagas dan anak buahnya marah. Bagas yang emosi langsung melempar tinju kearah Robin, tapi berhasil dihentikan oleh Ian.
”Bisa diam ngak heh. Angga bukan orang yang pikiran kayak lo tahu ngak!“. Kata Bagas marah.
”Hei hei. Jawabnya nyantai dulu napa. Jangan main fisik gini dong, coba pikirin baik-baiklah“. Balas Ian sambil menghentikan pukulan Bagas.
”Heh! Pikirin apa?! Heh?! Pikirin otak kalian yang kosong!“. Jawab Bagas yang membuat penonton semakin bertambah. Ia bukan bermaksud apapun, Ia hanya ingin membela temannya.
Dengan jawaban yang Bagas ajukan membuat preman kakak kelas geram marah. Dan …..TRASH!!!….
”Hehehehe …enak bajingan. Hahaha …makanya patuhi atasan lo“. Balas Rasya sambil mendekati mereka.
”Kami bukan bawahan kalian lagi brengek!!“. Balas Dito. Dan ….
TRAMMM!!! …
Serangan dari belakang yang dilakukan oleh Siran. Hingga Dito tersungkur dan terbatuk-batuk. Semua berseru kaget, apalagi teman-temannya. Angga tidak mengerti apa yang terjadi padanya, Ia tidak dapat bergerak untuk menghajar mereka.
”Heh! Lo mau apa, anak batin! …mau nyantet heh!“. Kata Robin yang masih memegang kerah baju Angga. Rekannya hanya tertawa, sedangkan Angga menggeram marah karena kelakuan mereka.
”Hahaha …lo pikir gue mau apa hah. Gue mau coba untuk balas perbuatan lo pada kakak gue kemarin …“.
”Woy! Sebelum mau bela kakak lo minimal liat dulu dong akalnya kek mana, heh dasar pikiran kosong! …“. Balas Bagas, karena tak terima, Ia lanjut memberikan hantaman maut kembali sehingga mukanya penuh dengan memar.
”Bagas! Hentikan!“. Seru Angga.
”Bukankah Bapak dan Ibu lo dah nerima semua?!!, karena apa?!! ….karena mereka tahu bagaimana akal anaknya kayak burik!!“. Lanjut Bagas, dan …
TAMM!! TRAKK!!! …BRUKK!! …!
Ian yang masih disamping Bagas langsung memberikan pelajaran hingga Bagas melemah dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Semua yang melihat ikut merinding.
Angga yang tak tahan langsung berusaha menggerakkan tubuhnya dan berkata dalam hati …..
”Mengapa aku tak bisa melakukan apa-apa saat seperti ini …ada apa“.
Lalu, sesosok bayangan itu menjawab.
”Agar kamu dapat melihat orang menjadi sensara karena ulah mu sendiri. Jadi niat mu akan kembali bukan?!“. Jawab makhluk itu yang membuat Angga syok.
”Kuminta kalian cepat keluar dari sini!!“. Teriak Devan membantu Bagas, dan lagi-lagi preman itu membalas dan Devan terjatuh.
”Bagaimana?! Kau puas dengan permainan kami?! Heh“.
”Pergilag berengsek!“. Balas Angga dan mendorong Robin. Robin tertawa dan mencoba membalas memukul Angga, tapi Devan menangkap tangannya.
”Bisakah kau berhenti untuk mengganggu sahabat ku!“. Kata Devan. Robin menatapnya dengan kesal dan …
PAMM!!! ….
Robin memukul Devan hingga terjatuh dan mengeluarkan darah dihidung. Angga tak bisa berkata-kata, pemandangan semakin mengerikan. Dika dan temannya tak tahan langsung melaporkannya ke guru tanpa ketahuan.
Emosi Angga terlihat tak terkendali, Ia diam menundukkan kepalanya. Teman-temannya merasa ada keanehan dari Angga. Sedangkan Robin dan rekannya terlihat senang.