
Devan telah memasuki daerah persekolahannya. Ia melihat kesana kemari, tak ada satu pun murid yang berlalu lalang menuju kelas mereka. Entah Ia masuk ke gerbang dimensi lain, atau memang Ia sedang ketiduran.
“Eneh bener jadinya. Apa emang satu sekolah jadi terbengkalai gini ya… atau mereka libur dan gue yang dilupain”. Celoteh Devan, saat menuju coridor, Devan tersentak dengan salah satu murid yang menabraknya.
“Astagfirullah!… bisa ngak kalo jalan liat-liat?!!”. Tegas Devan, tapi, siswa itu terus berjalan tanpa mempedulikan Devan. Dan anehnya, Ia seperti berjalan layaknya seperti orang sakit, ( pernahkan liat Zombie).
“Ada apa dengannya”. Gumam Devan merasa ada yang aneh akan situasi yang Ia curigai. Ia pun melanjutkan langkah menuju kelas dan tiba-tiba, seorang murid yang tak sengaja menghadap didepannya yang membuat Devan tersentak kaget hingga seakan-akan membuat jantungnya kabur ke alam semesta.
“Weh BUSET MASUK KLOSET!”. Seru Devan syok melihat seorang murid yang lemas dan pucat.
“Ma…af”. Kata murid itu lemas dan pergi.
“Ada apa sih”. Lanjut Devan yang tak mengerti dengan peristiwa yang terjadi kali ini. Ia pun memutuskan masuk kekelasnya dengan tepat.
Mulan dan friendly nya sedang duduk-duduk didalam kelas. Mereka juga merasa ada yang aneh dengan beberapa penghuni kelas mereka dan lainnya, hanya datang beberapa saja dan dengan kondisi yang tak mendukung.
“Mereka, pada kenapa semua sih”. Tanya Jian berbisik pada temannya.
“Entahlah, tidakkah mereka semua murid kayak mayat mati aja kan”. Sambung Dito.
“Mayat memang mati bego!”. Seru Jesika.
“Oh ya, mayat idup maksudnye mak”. Ledek Dito, Jesika yang kesal langsung menjewernya.
“Tidakkah tadi malam situasi aneh banget?”. Kata Sarah.
“Tadi malem,…. Oh ya. Masyarakat diapartemen kami tadi malam kebangun semua woi!, yakan To”. Jawab Raki dan Dito mengangguk benar.
“Bener, sampe pada semua bawa anak dan orang yang berperilaku aneh kerumah sakit”. Kata Dito.
“Omong-omong… lebih terperhatian sama keadaan Devan sama dua sahabatnya ngak sih”. Kata Jesika yang membuat ekspreksi temannya berubah.
“Iya, gua cukup berduka cita atas kepergian Dilan. Moga… Devan sama Angga dapat menerimanya”. Lanjut Bagas.
“Hari ini, pasti Devan ngak sekolah… tegang banget deh”. Balas Jian.
“Jangan lesu gitu… tiap orang ada batas hidup masing-masing dan kehidupan masing-masing. Udah jadi takdir semua… termasuk kepergiannya Dilan dan kondisi Angga. Kita hanya bisa memberikan doa dan semangat yang baik”. Jelas Mulan yang ikut ngobrol, temannya mengangguk paham dan mengerti.
Dan seketika ekspreksi mereka syok saat melihat Devan hadir ke kelas. Devan masuk dengan membuka pintu dan celingak-celinguk melihat keadaan kelas.
“De De Devan”. Seru mereka terbata-bata.
“Oh… halo guys”. Sambut Devan semangat bak tak terjadi apa-apa. Menurut mereka, Devan seharusnya datang ke acara pemakaman Dilan.
“Napa kaget syok gitu kalian?… kena virus kayak mereka?”. Tanya Devan dan menarik kursi untuk duduk bergabung bersama teman-temannya.
“Kagak… kami sehat walàfiat semua… kayaknya lo yang… otaknya oleng”. Jawab Bagas dengan menatap Devan tak percaya.
“Ngak. Otak gue masih ditempat kagak kabur”.
“A anu Dev”. Sambung Sarah, Devan hanya memperhatikan bingung.
“Kami turut berduka cita ya”.
“Ha! Siapa yang meninggoy woi!”. Seru Devan kaget. Temannya syok dan mengira Devan gila kehilangan kewarasannya.
“Bu bukannya… tadi malem… Dilan…”. Jawab Jesika putus-putus.