The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 5



Tak lama dari kejadian itu, salah satu pria melihat sekumpulan remaja itu hendak ingin melarikan diri lewat jendela.


Ia berseru yang membuat pria yang lainnya ikut memperhatikan dan semakin emosi. Ayah Dika yang seperti orang mabuk langsung melempar parang kearah mereka dan... Untunglah meleset dan hanya mengenai kaca jendela hingga pecah.


Tak sampai disitu, mereka lalu bergegas kearah mereka yang tak lain untuk membunuh anak batin itu.


Rangga tak tinggal diam dan lengah untuk satu penghianat pun. Ia langsung menghadang mereka dan....


BAGH!....


Ia menendang mereka dengan kuat dan cepat hingga 4 pria ambruk. Dan sialnya, Rangga lengah dan...


BUGH!...


“AKH!.... ”.


“RANGGAAAAA! ”.


Salah satu pria yang berada dibelakangnya memegang balok kayu dan menyerangnya dari belakang yang membuat Rangga jatuh dan kehilangan kesadarannya yang membuat keluarganya berseru panik.


*******


Tim cewe mencoba panggilan kembali diluar, namun masih gagal. Mulan bergegas mencari telepon rumah dan akhirnya Ia menemukannya di antara barang-barang yang jatuh berserakan dilantai karna ulah para pria tadi.


Ia lalu menekan nomor darurat dengan cepat namun...


TUUT TUUT TUUT...


Tetap tak tersambung.


“AAKH! ”. Seru Mulan kesal sambil langsung mencobanya kembali. Zaki yang tak tinggal diam, langsung berlari keluar dan berteriak meminta pertolongan dengan berlari sekencang-kencangnya.


“Seseorang tolooooong! ”.


.........


Dan akhirnya, terdapat 5 orang bapak-bapak yang baru pulang dari gotong royong masjid.


“Pak pak pak.... Tolong pak”. Kata Zaki dengan nafasnya yang terengah-engah.


“Nak? Ada apa? ”. Tanya pak ustad.


“I... Itu... Tolong pak”. Jawab Zaki yang tak tahu harus jawab apa. Tak mau banyak bertanya, 5 bapak itu pun langsung meminta Zaki untuk menunjukkan jalan. Zaki mengangguk dan berlari yang disusul oleh pria ini.


“Kak!? Kak Rangga! Bangun kak! ”. Teriak Karin sambil menggoyang-goyangkan bahu Rangga.


“Rangga?! Bangun nak! ”. Dilanjut oleh sang ibu, namun, Ia masih menutup matanya.


Para pria itu melanjutkan niat mereka, dengan senjata tajam kuat yang mereka angkat siap menyerang.


STRAP!....


“Tolong! Hentikan hal gila kalian! KOMOHON!”.


Lanjut dengan sang ayah yang menghentikan mereka. Tapi apa jadinya? Sia-sia juga, mereka mendorongnya.


Tetap tak diam dan tak membiarkannya, sang ayah bangkit berdiri dan memegang mereka hingga...


ZUH!...


Ketajaman pisau terkena goresan besar di lengan yang membuat beliau terjatuh dengan darah deras mengalir dari lengannya.


Para pria itu tertawa sinis dan mendekati mereka.


“LEPASKAN DIA!”. Teriak sang ayah, tapi apa gunanya mereka tak mendengar.


Arga memegang tali tersebut dan bersiap meluncur kebawah dengan Angga dibelakangnya.


Para pria itu mendekat, ayah Dika menarik dan melempar Bagas yang membuat Ia dan dua anak buahnya ikut tersungkur jatuh dan begitu jauh. Mereka merintih kesakitan, apalagi bagian dada dan kepala yang menjadi korban. Arga dan Devan mulai panik dan berusaha untuk membawa Angga pergi tapi,... Lagi dan lagi...


Para pria itu datang dengan cepat. Salah satu dari mereka memukul Devan dibagian perut sebanyak empat kali dengan kuat, hingga membuat Devan jatuh terbatuk-terbatuk, sesak dan membuat Ia memuntahkan liurnya. Ia tertidur dengan tangan yang Ia geramkan di perutnya.


Angga yang setengah sadar, dapat melihat kejadian yang menyakitkan dan menyiksa tanpa memalingkan pandangannya yang membuat Ia menggeram marah.


Arga yang siap meluncur dengan Angga malah langsung ditarik oleh para pria hingga membuat Arga jatuh ke bawah.


Kepalanya terbentur di tembok rumah hingga berdarah dan untungnya Ia dapat menangkap dan berpegangan pada tali tersebut.


“ARGAAAAA!!... ”. Teriak mereka syok, tapi, untunglah Arga dapat bergelantungan pada tali tersebut meski kepalanya sakit.


“Kak Arga! ”. Seru Devan yang melihat Arga dibawah bergelantungan sambil berdiri menahan sakit.


“Aku ngak apa, lindungi Angga! ”. Teriak Arga dari bawah.


Angga ditarik dan tersungkur jatuh dihadapan para pria itu dengan senjata yang siap menjemput maut. Angga yang setengah sadar terlihat gemetar dan menggeram dengan mengandalkan topangan tangannya.