The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Kembali lah... kumohon



โ€œBukankah kalian tak ingin melihat ku didunia ini laluโ€ฆ. Mengapa tak menyingkirkan matamu ini sajaโ€. Kata Angga dengan sentuhannya pada didaerah mata pria itu dengan tatapannya yang mengerikan.


Semua ingin berseru ๐˜ˆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜•๐˜จ๐˜จ๐˜ข! . Namun, apa dayanya, tak dapat mengeluarkan suara bahkan Rangga yang kini baru sadar.


Dengan sadis dan kejam, Angga menekan dibagian kelopak mata atas yang membuat pria itu menjerit, namun Ia hanya bisa menerimanya, Mana mata yang siap dicongkel teriakannya yang tak dapat keluar membuat tenggorokannya semakin sakit.


Angga tertawa seram, matanya yang biru hitam menunjukkan pembalasan dendamnya. Pria itu tak dapat berbuat apa-apa, Ia hanya bisa berpasrah ketika matanya akan copot nanti nya.


Darah pekat kental dan segar mengalir dari mata yang membuat Angga semakin senang dan semakin menjadi- jadi. Tangan kiri yang memegang leher pria itu, Ia lalu mencolokkan jari telunjuknya keleher pria tersebut yang dalam hitungan perdetik, jari telunjuknya masuk sedikit demi sedikit keleher pria itu.


Pria itu berseru namun tak terdengar, Ia terus berteriak kesakitan alhasil, bukan suara lah yang keluar melainkan darah dari mulut nya.


Semua berbidik ngeri dan syok, sedangkan Angga terlihat begitu senang seakan-akan seperti sedang memainkan permainan favoritnya. Sang Ibu yang melihat putranya yang kini berubah hanya bisa menangis dengan air mata turun dengan deras.


Devan semakin tak tahan, Ia yang berada tepat tak jauh dari belakang Angga berusaha untuk bergerak meski tubuhnya yang kini lemah total. Tubuhnya semakin sakit jika berusaha untuk bergerak seperti layak nya akan lumpuh, namun, usaha yang akan Ia lakukan.


โ€œHem? Bagaimana menurutmu? Bukankah menyenangkan untuk menyakiti seseorang heh! โ€. Kata Angga seram dan semakin mencongkel mata pria itu hingga darah terus mengalir ditambah darah keluar dari mulut nya karna teriakannya tak kunjung keluar.


โ€œAngga! Ku mohon sadarlah! โ€. Seru Devan dalam hati, Ia menggeramkan tubuhnya untuk berusaha bergerak. Angga yang didepannya semakin membuat mangsanya kembali lemah.


โ€œMengapa diam?! JAWAB! JAWAB! โ€.


AAAKKH!


Pria itu merintih kesakitan dan tebak saja, matanya ikut keluar dari tata letaknya. Semua syok, kaku Dan terdiam melihat bola mata jatuh bergelantung dengan darah segar kental yang deras mengalir.


โ€œUps! Maaf aku terlalu senang ha hahahahaโ€. Ucap Angga, kini remaja tampan itu layaknya, pembunuh, spikopat atau gila.


Dirinya kini telah berubah 100%. Angga yang lemah lembut, ramah, penyabar kini... Pembunuh yang penuh rasa dendam, benci Dan amarah. Wataknya yang dulunya lembut kini keras dan tak terkendali. Angga yang dulunya dikenal seorang tahfis, kini Ia dikenal sebagai manusia yang berhati iblis. Entah perubahan ini hanya sementara... Atau untuk selamanya.


Korban terlihat lemah dan pucat, mulutnya terbuka Karna seruannya yang tak keluar. Angga lalu kembali mencekiknya hingga jari-jarinya menembus leher pria tersebut.


Devan semakin berusaha untuk bergerak hingga akhirnya... Tubuhnya tersentak dan terjatuh dan mendorong Angga yang kehilangan sebagian dari dirinya. Dan pria itu pun terlepas dengan mulut dan mata yang terbuka lebar, pucat dan tentu... Dengan tiadanya nyawa.


Angga terjatuh yang ditimpa dengan sahabatnya, Devan, terlihat Devan mulai lemah dengan nafasnya yang tak teratur dan berat.


Tapi Angga, terlihat tak mengenal siapa pun bahkan sahabatnya sendiri. Ia memberontak dan Devan langsung memegang kedua tangan sahabatnya itu.


โ€œLEPASKAN TANGAN KU! โ€.


โ€œGa sadar Ga! Gue Devan! โ€.


โ€œGue ngak peduli! Lepasin gue bang**t! โ€.


โ€œNgga, sadar. Gue mohon sama lo sadar Gaโ€.


โ€œHAAAAAAAAA! โ€. Teriak Angga.


โ€œGa! Lo ngak ingat Dilan? Dia masih Ada disini Ga, โ€.


Devan tak tahan, air matanya jatuh menetes kearah Angga yang tak mengenal dirinya. Devan menunduk yang kini Ia mulai menangis tersedu-sedu hingga membuatnya semakin sesak.


โ€œHiks... Lo bukan lagi Angga yang gue kenal. Hiks... Angga yang gue kenal orang pengertian dengan keluarga, teman bahkan sahabatnyaโ€. Kata Devan yang tatapannya Ia palingkan ke arah Angga. Mendengarnya, membuat Angga diam terpaku, entah Ia telah sadar atau tidak, tapi... Matanya masih berwarna hitam dan biru.


โ€œGa... Sadarlah. Kembali lah menjadi Angga yang dulu... Ku mohon hiks. Gue mau Angga yang peduli seperti dulu! Yang peduli Dan mengerti dengan sahabat Dan keluarganya! Lo makhluk apa tolong kembalikan Angga! โ€.


....


โ€œKami percaya sama lo Angga! Gue berani mati biar lo kayak dulu Angga! Gue mohon... Jadilah Angga! Gue setia nemenin lo! Haaโ€. Ucap Devan dengan tangisnya, air mata menetes mengalir deras melewati wajahnya yang pucat hingga, Angga kembali teringat saat Ia baru akrab dengan dua sahabatnya itu tepat pada kejadian saat kelas 4 SD.


Angga mengingat kenangan itu saat Devan dibully oleh anak kelas 6. Jujur, Devan dulu dikenal sebagai murid yang cengeng Dan manja. Dan tak heran jika Ia menjadi sasaran untuk Korban dari Dilan.


โ€œ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ท ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข? โ€. Tanya Dilan cemas saat Devan menangis karna Ia dibully oleh anak kelas 6.


โ€œ๐˜๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข... ๐˜ ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜จ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด, ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ญ 10 ๐˜ณ๐˜ช๐˜ฃ๐˜ถ ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ข! โ€.


โ€œ๐˜Š๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ต ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ช๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜จ๐˜ช ๐˜ข๐˜ต๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ฐ๐˜ณ ๐˜ฌ๐˜ฆ ๐˜จ๐˜ถ๐˜ณ๐˜ถ! โ€.


โ€œ๐˜ ๐˜ข๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฉ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ถ๐˜ญ๐˜ถ, ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ญ๐˜ฐ ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ด๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช! โ€. Balas mereka.


Lalu, Angga yang dingin maju kearah mereka Dan menatapnya dengan tajam hingga sekilas mata birunya muncul. Mereka syok Dan berlari terbirit-birit Dan berseru ketakutan. Devan dan Dilan sempat kebinguan karna mereka belum tahu Angga sebenarnya. bahkan dapat membuat geng itu kabur ketakutan tanpa penyerangan dari Angga.


Angga lalu melihat kearah dua sahabatnya, sebenarnya... Ia saat itu masih menjadi murid yang dingin, namun...


โ€œ๐˜’๐˜ข๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ-๐˜ฃ๐˜ข๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข? โ€. Ucap Angga sambil mengajukan tangannya untuk membantu Devan berdiri. Lama kelamaan, hatinya menjadi hangat Dan menganggap mereka berdua layaknya seperti saudara kandung.


Bukann hanya itu, kata-kata penyemangat dari Ryan, almarhumah kakak nya.


โ€œ๐˜œ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฉ, ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ช๐˜ด ๐˜บ๐˜ข. ๐˜ˆ๐˜ฅ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ญ๐˜ฆ๐˜ฉ ๐˜ค๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ, ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ข๐˜ต ๐˜บ๐˜ขโ€.


Mengingat hal itu, Angga mulai mengenal siapa didepannya dan menyadari apa yang telah Ia lakukan termasuk pada para pria itu.


Devan yang tak tahan dengan tangisnya, langsung memeluk Angga dengan erat dan menangis dipelukannya. Mata birunya Dan hitam pun menghilang dan kembali normal, diwaktu yang bersamaan, cengkraman gaib pun menghilang yang membuat mereka kembali bergerak.


Dalam pelukan Devan yang erat, Angga terpaku oleh kesalahan, Ia menyadari dirinya yang mulai kejam bahkan membuat sahabatnya gemetar ketakutan.


โ€œAngga,.... Gue sayang sama lo Angga. Jangan seperti ini lagi... Hiks.... โ€. Ucap Devan dengan tangisnya yang sesak bahkan tubuhnya yang gemetar hebat. Tapi... Entah Mengapa Angga merasa kalau dirinya tak memiliki hati, bagaimana tidak, jangankan untuk membalas perkataan dari Devan bahkan membalas pelukan nya saja berat.


Tapi... Kematian bukan akan berakhir disaat ini, Ayah Dika yang tertusuk perutnya bangkit berdiri dan mengambil parang dan menuju kearah Angga dan Devan. Angga kali ini tak dapat merasakan bahaya yang datang padanya bahkan Devan.


Semua berseru syok dan sayangnya masih lemah untuk bergerak. Ayah Dika yang kini berada didepan mangsanya langsung melayangkan senjata. Ibunda tak tinggal diam dan.....


SRENG....!!


IBUUUUUU!