
Darah kental dari tubuh wanita lembut dan penyayang itu deras menyembur kesegala arah. Semua syok dan tak percaya. Angga seketika kaku dan beku melihat sang Ibu yang menggantikan nasip hadapan maut.
Jantung dan nafasnya seketika tak lagi terasa.
Devan yang memeluk Angga membelakangi tantenya Dan Ia menyadari Dan mulai syok saat darah segar yang menyerbu tubuhnya yang membuat jaket Dan tubuhnya basah Karna terpaan darah. Angga hanya terkena di bagian rambutnya.
Ayah Dika terpaku saat sasaran parang salah korban yang akan menyebabkan wanita tanpa dosa itu kehilangan nyawanya.
Aryana namanya, yang tak lain nama wanita yang paling disayangi, dicintai oleh suami dan putra putrinya yang tersayang dan kini, beliau rela pergi demi kehidupan anaknya terutama Angga yang kehidupannya kacau.
Dengan darah yang terpisah dan keluar dari raganya yang lembut. Tubuh beliau melemah dan terjatuh dengan keadaan pucat disertai dengan darah yang ikut keluar dari mulut beliau.
“IBUUUUUU! ”. Teriak anaknya histeris dengan suara tangis yang tentu keluar. Karin, Kaila dan Arga beserta sang ayah langsung berlari menujunya. Rangga yang kondisinya masih lemah berusaha bangkit dengan langkah yang sempoyangan bahkan dengan iringan tangis yang sesak dan tersedu-sedu.
“Hiks hiks... Bu.... IBU! ”. Tangis Rangga, air matanya tak berhenti mengalir membasahi wajahnya yang putih tampan.
Devan memalingkan pandangannya lemah dan Angga tak dapat ber kata-kata melihat sesosok yang Ia cintai itu terbaring dengan pengorbanan untuknya.
Angga layaknya air berada dititik dingin dan membeku. Hatinya begitu terpukul, dadanya cukup sesak dengan tubuh yang melemah.
“Tan.. Te? ”. Seru Devan sesak.
3 bapak yang berada diluar mencoba sekali lagi usaha mereka untuk mendobrak pintu tersebut. Hingga akhirnya...
GEDUBRAK!...
“Astagfirullahulazim! ”. Seru Mulan dan Sarah seri syok bahkan Jesika dan Jian. Mereka pun langsung menghampiri dengan langkah melemah.
“IBU! IBU hiks”. Panggil Kaila Sambil menggoyang-goyangkan tubuh sang ibunda.
“Ryana? Ryn?... ”.
“Sayang.... ”. Akhirnya, satu suara lembut nan lemah keluar dari wanita ini di pangkuan suami nya yang tercinta.
“Ryana? Kamu ngak apa... Bantuan segera datang bertahan lah! ”. Kata Gidran sang suami dengan air mata yang tak berhenti menetes.
“hiks hiks... IBU.... Ibu”. Panggil Kaila dengan tangisnya yang membuat semua yang mendengar suara tangisnya mulai terharu.
“Kaila... Ja.. Ngan nangis ya sayang ya... IBU disini kok”. Jawab Aryana sesak menahan sakit. Kaila langsung memeluknya dengan tangisnya yang pecah.
“... Untuk... Sementara”. Lanjut Aryana hingga membuat tangisan semakin menjadi-jadi. Angga benar-benar diam kaku tak dapat mengeluarkan suara bahkan, air mata.
“Jangan gitu ryana, bertahanlah... Mereka masih membutuhkan mu disini... ”. Kata sang suami yang ikutan menangis.
“Tidak sayang... Ini terakhir kalinya... Aku dapat melihat wajah yang aku cintai”. Jawab Aryana lemah.
“Bu... Jangan gitu bu, kami disini”. Kata Rangga.
“Tak ada yang dapat menepis takdir Allah Rangga... Jadi anak yang baik ya”. Balas Aryana Sambil mengelus pipi Rangga lembut hingga Rangga semakin menangis bahkan adik-adiknya.
“Jadilah... Kakak yang baik untuk adik-adik mu ya.... Berikan contoh yang baik pada mereka ya nak... Dan kalian... Patuhi kakak mu... Dan juga... Ayah yang akan menggantikan Ibu ya nak”.
“Kalau Kaila sayang Ibu... Dengarkan nasehat Ibu ya nak, patuhi Dan dengarkan apa kata ayahmu ya sayang”.
“Haaaaa.... ”. Seru Kaila dengan tangisnya yang pecah, anak kecil sepertinya tak seharusnya melihat kejadian yang mengerikan yang terjadi kali ini.
“Rangga, Karin... Arga... Angga dan Kaila..... Adalah salah satu barang yang paling berharga. Suami ku.... Jaga mereka ya sayang... Jangan berhenti.... Mendidik mereka dengan ilmu agama... Dan jadikan mereka... Menjadi anak yang sholeh ya sayang.... Dan berguna dimasa depan.... Ingat... Mereka yang lebih berharga dan... Sebagai tanggung jawab kita ya”. Kata beliau Sambil mengelus lembut wajah suaminya dan memeluk anak-anaknya dan mencium untuk kepergian terakhir.
“Angga”. Panggil beliau. Angga tak dapat membuka suara nya... Terlihat traumanya bertambah berat yang menjadikan kondisinya seperti itu.
Aryana langsung mendekatkan tangan lembut dan halusnya kewajah pucat putranya itu. Angga yang disentuh ibunya, membuat dirinya semakin tegang dan kaku seperti ketakutan.
Namun Aryana, langsung mengelus dan memegang pipi putih putranya itu semberi tersenyum menahan sakit.
“Angga... Jadilah anak yang berbakti ya nak, dengan ayah dan kakak kakak mu ya…dan… sayangilah adikmu. Ingat... Mereka Ada selalu untuk menemanimu, jangan tinggalkan mereka ya... Jadilah Pribadi yang baik... Jangan nyerah,... Ibu tahu... Kamu pasti bisa, pasti kuat... Ya. Ayo senyum... ”. Kata sang ibu, saat kata 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮... Air mata Angga pecah dan turun deras mengalir melewati wajahnya tanpa suara. Hingga membuat yang melihatnya ikutan menangis dalam keheningan.... Apalagi Mulan dan temannya.
“Jangan nangis... Putra ibu... Ngak boleh nangis, harus kuat ya sayang... Devan.... ”.
“I iya tante”.
“Tante Mau ngucapin terima kasih banget dengan kalian dan Dilan. Yang telah setia menemani dan mendukung Angga ya nak... Tante titip salam atas semuanya”.
“Hiks hiks.... Ya tante... ”. Jawab Devan dengan tangisnya yang tersedu-sedu. Dirinya juga tak tega, melihat ibu dari sahabatnya akan pergi Karna... Ia telah menganggapnya seperti ibu sendiri.
“Angga... Tetap kuat ya nak. Dengarkan nasehat ayahmu ya... .... Dan... Ingat... Jika... Kalian merindukan ibu... Tersenyumlah... Ayo... Senyum”. Kata sang Ibu yang mulai lemah. Dan mungkin... Itu adalah nasehat terakhir... Yang beliau sampaikan ke pada anaknya. Tapi... Angga hanya bisa mengeluarkan air matanya dengan suara nafas yang terisak tangis.
Sang Ibu tersenyum kembali... Dan beliau dengan lembut memeluk Angga Dan mencium dikeningnya Angga dan... Mendadak tubuhnya melemah dan.... Terlepas pelukan nya dari Angga hingga...
Disaat inilah Aryana menghembuskan.... Nafas.... Terakhirnya....
“IBUUUUUU! BANGUN BU! IBUUUUU”.
“ARYANA! ARYA!.... innalillahi... Wanna ilaihirajiún”. Kata sang suami dengan tangis semberi memeriksa nadi istri tercintanya. Alhasil... Aryana tak dapat diselamatkan... Dan mereka... Harus membiarkan Ia tidur untuk selamanya.
Mendengar hal itu, anak-anaknya langsung menangis histeris atas kepergian sang Ibu. Beberapa kali telah menyebut namanya tapi... Apa daya untuk raga yang tanpa nyawa. Apalagi Kaila yang masih kecil... Masih cukup berat untuk kehilangan sesosok yang tercinta ini.
Angga terdiam dengan air matanya yang terus turun mengalir... Ia menangis, tapi... Tak dapat mengeluarkan suara nya... Ia menggerangkan rahangnya dengan air mata. Devan disampingnya... Terus mengelus Angga untuk menenangkannya.
“Ibuuu..... Bu! BANGUN bu! Jangan tinggalin Kaila bu! Ibuu”.
“Kaila, iklaskan Ibu ya nak”.
“Ngak Mau! Kaila Mau Ibu! Ibu jangan pergi huuu”.
Arga dan Karin tak dapat menenangkan sang adik, ya.... Mana mau bisa tenangin sedangkan mereka saja tak dapat menahan yang namanya air mata.
Rangga tak dapat menahan emosinya. Kepalanya mendadak sakit disertai dadanya yang cukup sesak dan berat. Ia menatap tajam kearah ayahnya Dika.
Ia lalu bangkit berdiri, semua berpaling ngeri kepadanya. Angga masih belum tenang, air matanya masih mengalir deras dengan tatapannya yang masih ke pada ibunda nya.