
Melawan senior hebat seperti Rihun. Angga berusaha sekemampuannya, tapi sia-sia juga. Rihun yang melihat lawannya kelelahan, Ia mendapat kesempatan, akhirnya Rihun membalas dan Angga pun terjatuh. Teman-teman dan murid yang lain terlihat tegang.
Tanpa ada yang sadari, Angga masuk dalam bayangan batinnya. Dimana disana, terlihat banyak bayangan orang yang menghinanya, mereka terus menerus menghina Angga. Dari hinaan mereka, Ia melihat orang yang Ia sayangi dicampakan begitu saja.
“Kumohon berhenti!!! ….“. Teriak Angga, dan tiba-tiba, sesosok pengganggu tersebut datang dan berkata; “Memangnya kau tidak memiliki dendam untuk mengakhiri semua! …”. Katanya sambil tersenyum ngeri terhadap Angga. Angga yang mulai terpengaruh, menggegam pedangnya dan matanya secara tiba-tiba berubah biru, dan target didepan adalah, Rihun.
Semua syok, teman dekat dan gurunya kini diam melihat Angga, sedangkan yang lain merekamnya. Rihun kini mulai cemas dengan dirinya. Angga pun maju menyerang Rihun dengan sangat cepat, meski Rihun dapat menghindar, Angga tidak akan henti menyerang sampai pedang tersebut diwarnai dengan darah segar.
Rihun terlihat kelelahan menghindar, Ia bahkan tidak dapat luang untuk menyerang. Sedangkan Angga, dengan muka datar menyeramkan dan mata birunya masih tetap menyerang si sombong itu. Mulan kini sadar akan sesuatu.
“Ada apa dengannya …”. Tanya Raki.
“Entahlah …itu terlihat bukan seperti dirinya bukan?!”. Balas Mulan curiga plus cemas.
“Maksudmu …itu sosok lain yang ada padanya?!!?“. Jawab Sara yang membuat temannya yang lain menganggap serius.
Sang guru terlihat cemas, Ia pun menegur Angga untuk berhenti tapi Angga tidak mempedulikannya. Angga terus menyerang hingga akhirnya, Rihun lengah dan terjatuh. Angga dengan cepat menyerang pada bagian perut tapi, Rihun menangkap pedang tersebut. Semua murid syok, tangan yang merekam pun ikut bergetar. Sang guru memegang bahu Angga dan menyadarkannya, tapi Angga masih belum terbangun dari kendali sesosok tersebut.
Angga semakin menjadi-jadi, Ia semakin menekan pedang tersebut sehingga membuat tangan Rihun berdarah yang membuat murid ketakutan. Ia merntih kesakitan, akhirnya Mulan dan yang lain pun mendekatinya.
”Angga! Sadar Ga sadar!“. Teriak teman dekatnya yang mendekatinya.
”Angga sadar! Ingat teman dan keluargamu?!“. Kata guru.
”Hah …“. Angga akhirnya sadar, matanya kembali semula, nafasnya tersengal, keringat membasahinya kepalanya sakit dan tubuhnya melemah. Teman dan gurunya kini lega, Rihun yang sombong berdiri dengan tangannya yan berdarah. Semua murid berhenti merekam.
Angga melihat tangan Rihun terluka karena dirinya. Ia mulai merasa bersalah.
”Heh! …puas lo. Dasar iblis!“. Kata Rihun yang membuat Angga terpukul akan perkataannya.
”Rihun! …berhenti!“. Tegas sang guru, Rihun yang mulai muak langsung pergi.
”Kalian yang tidak berkepantingan! PERGII!“. Lanjut guru yang membuat murid kaget dan bubar.
Sang guru pun membantu angga untuk duduk avar Ia tenang. Kepalanya sangat sakit dan dadanya juga sesak yang membuat temannya khawatir.
”Ga …kamu baik-baik saja?….“. Tanya Jesika khawatir. Angga pun mengannguk.
”Nak …ada yang harus kamu kuasai dari diri mu“. Kata sang guru, Angga dan yang lainnya pun memperhatikan.
”Setiap hidup semua manusia tidak ada yang tidak akan ada tantangan. Memang, dalam tantangan tersebut, terkadang membuat kita menyerah …tapi, selalu ada yang ikut mendukung“. Lanjut sang guru yang membuat Angga semakin memperhatikannya.
”Apalagi orang sepertimu, kau memiliki kemampuan tersebut juga dapat menolong seseorang bukan?, jadi, apapun yang orang lain katakan …jangan pedulikan. Ingatlah orang-orang yang selalu mendukungmu, mereka peduli, mereka juga menyayangimu. Seperti dua sahabatmu, Dilan dan Devan, dan juga teman-temanmu ini“. Lanjut beliau, temannya pun tersenyum kepadanya.
”Dan …orang tuamu, kaka-kakakmu dan adikmu. Menurutmu, apakah mereka akan bahagia jika kau meninggalkan mereka, seperti yang kau lakukan tadi?“. Kata gurunya barusan membuat Angga menunduk.
”Yang perlu kau ingat …tetap tenang, dan selalu ada yang mendukungmu, kau mengerti?“. Lanjutnya dan Angga pun mengangguk.
”Baiklah, kalian pulang dulu. Karena hari sudah mulai magrib, oke …saya permisi. Angga jaga dirimu“. Kata sang guru minta pamit, Angga pun memberikan hormat dan diikuti teman-temannya.
”Angga!, pulang bareng yuk!“. Ajak Jesika.
”Maaf, ta …“.
”Ayolah! …nanti kau diculik bagaimana?!“. Kata Bagas memotong kalimat Angga dan memegang tangannya. Angga ingin merencanakan sesuatu, tapi Ia teringat akan perkataan gurunya tadi. Ia pun menurut perkataan temannya yang membuat mereka senang.
Saat didepan gerbang, murid yang sedang menunggu dijemput, memerhatikan dan bertanya, sejak kapan Bagas dan temannya baikan dengan Angga. Namun, mereka tidak mempedulikannya.
Saat sampai diseberang, terlihat ayahnya bagas. Beliau kini mengerti sikap Bagas yang berubah.
”Lah …aku dijemput“. Protes Bagas.
”Nak …“. Kata ayah Bagas mendekati Angga dan menunduk kepadanya. Tentu saja semua terlihat syok, apalagi Angga.
”Nak …maaf saya nak, maafkan saya. Saya bersalah …telah menyebar berita yang buruk tentangmu maafkan saya“. Kata beliau, Angga memang bersikap dingin, tapi Ia tidak pernah kasar kepada orang yang lebih tua.
”Sudahlah pak, saya telah melupakannya …dan memaafkan bapak …“. Kata Angga, ayahnya Bagas pun berterima kasih sebanyak-banyaknya kepada Angga.
”Baiklah hari mulai senja, sanpai jumpa“. Kata Angga. Bagas pun pulang bersama ayahnya dan yang lain pulang bersama.