The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Mengendalikan 4



Kaila mengangkat panggilannya. Mulan pun langsung memberitahukan Kaila tentang kejadian pada kakaknya. Kaila yang syok langsung memberitahukan ayah dan ibunya.


Sang Ibu terlihat cemas, meski putranya telah mengatakan bahwa Ia baik-baik saja dan sedang dalam perjalanan pulang, tapi, ada saja yanga membuatnya gelisah.


“Bu, biar Rangga saja yang jemput Angga”. Kata Rangga yang melihat Ibunya gelisah.


“Yasudah kamu berhati-ha_ …”.


“Ayah! …Ibu! ….”. Teriak Kaila sambil berlari.


“Adaapa nak …”.


“Ibu! Ayah!, kak Angga pinsan!”.


“APA”. Semua syok


“Darimana kamu dapat kabar ini?!”. Tanya sang Ayah khawatir.


“Dari temannya, kak Mulan tadi menghubungi Kaila. Kakak pinsan di lorong menuju rumah!”. Jelas Kaila, sang Ibu khawatir berat hingga membuatnya menangis.


Rangga dan adiknya Arga pun bergegas pergi ketempat kejadian dengan menaiki motor.


Sesampainya disana, mereka melihat Angga terbaring lemah dijalan. Mereka pun langsung menghampiri.


“Kau siapa? …apa yang terjadi?”. Tanya Rangga.


“Eee… saya Mulan temannya. Tadi saya juga tidak tahu mengapa Angga tiba-tiba pinsan disini …”. Jawab Mulan.


“Kak …tolong angkat Angga”. Panggil Arga, Rangga pun menolong Angga untuk naik ke motor yang dibantu Arga adiknya.


“Makasih telah mengkabari kejadian ini. Omong-omong kamu pulang kearah mana …? Biar nanti diantar”. Kata Arga.


“Kearah sana, tapi ngak jauh kok. Bisa jalan sendiri”.


“Baiklah kalau begitu, sekali lagi, terima kasih”. Kata Rangga. Mulan mengangguk, Mereka pun membawa Angga pulang.


Mulan yang kembali ke rute perjalanannya, langsung berpikiran tentang kejadian yang mencurigakan dari Angga.


Mereka telah sampai ke rumah. Keluarganya syok melihat Angga yang pinsan tanpa sebab. Lalu, mereka pun membawa Angga masuk kekamarnya.


Jam menunjukkan pukul 19.55. Angga masih terbaring pinsan dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya dan wajah yang masih pucat. Hal tersebut membuat keluarga semakin cemas, apalagi ibunya.


Ibu masih duduk disebelah putranya itu sambil mengelap keringat dan mengusap-ngusap rambutnya. Wajahnya semakin cemas.


“Ibu makan dulu ya. Biar Karin jagain Angga”. Kata kakak Angga yang bernama Karin. Sang Ibu menolak, beliau ingin tetap disamping Angga. Apalagi pak Ridwan telah memberitahukan kabar tentang kenekatan Angga di atap sekolah, yang menambah kegelisahan dan kecemasan.


Di dunia lain, Angga berada ditempat yang hampa dan sangat gelap. Dengan heran dan bingung, Ia memutuskan untuk berjalan mencari tahu, meski Ia tidak tahu arah dan tujuannya.


Baru beberapa langkah, Ia melihat sebuah cermin besar di depannya. Angga menatap cermin tersebut, tiba-tiba Ia tersentak syok dengan mengeluarkan mata birunya.


Angga melihat bayangan disana, dimana pada saat Ia berumur 12 tahun, tepat pada saat kejadian kakaknya yang bernama Ryan terbunuh. Terlihat Angga pada saat itu menangis histeris didepan kakaknya yang kehilangan nyawa.


Dan tiba-tiba, terlihat bayangan hitam dengan mata birunya yang terang. Terlihat Ia pada saat itu, Ia mengangkat tangannya dan mencekik pembunuh tersebut hingga tewas.


Angga yang melihat kejadian dibalik bayangan cermin, seketika menggeram.


Lalu, muncul kembali kejadian yang terjadi pada Dilan. Dimana disana Ia melihat Dilan menahan rasa sakit karena luka. Tapi, yang membuat Angga terkejut adalah, ada 7 pria dan Ia yang tidak terkendali tertawa lepas melihat temannya, sambil memegang sebuah pisau.


“Angga! Apa yang kau lakukan! …”. Teriak Dilan dengan nafas tidak teratur di cermin.


“Hehehe… kau pikir aku mau apa heh!”. Jawab Angga yang berupa dibayangan tersebut sambil mengangkat tangan dan mencekik Dilan. Angga yang sebenarnya yang melihat hayalan tersebut, dikelilingi bayangan misterius disekeliling tubuhnya.


“Ak …AKH!! …Angga …kumohon_ Ang ….!”. Teriak Dilan tersiksa karena di cekik.


Lalu, bayangan Angga menusuk Dilan dan melemparnya. Mereka tertawa puas melihat kematian Dilan.


“Aku …yang melakukannya?”. Tanya Angga sesak setelah melihat halusinasi tersebut.


“Kau sebagai pembunuh!, pembawa mala petaka, …dasar iblis!!”. Kata seorang pria di hayalannya dan beberapa orang yang lain.


“Heh! ..puas lo!, dasar Iblis!!“.


”Dasar Iblis!! ….“. Sebuah hinaan gaib tanpa rupa menusuk perasaannya.