
Devan pun berlari pulang ke rumah nya. Karna sang Ibu memberitahukan Ada yang ingin menemuinya, maka Ia segera bergegas.
Sesampainya di rumah, baru saja tiba dihalaman depan rumahnya, Devan kaget bercampur heran, karena Ada beberapa orang reporter ingin menemuinya.
Para reporter itu, mengetahui kalau Devan telah datang. Mereka langsung berhamburan untuk menanyakan pertanyaan mereka kepada Devan.
Devan syok, Ia kini berdesakan dengan mereka, apa lagi, ditambah dengan lampu dari kamera yang menyilaukan Mata nya. Para reporter itu, tanpa basa basi langsung menanyakan pertanyaan mereka kepada Devan.
Devan tak tahan, mana Ia memakai seragam, kerumanan mereka membuat Ia sesak, Mata nya silau karna lampu dari mereka dan, ditambah kerumunan pertanyaan yang membuat telinganya bisa saja akan budeg.
Ia pun menutup kedua telinganya dan menerobos antrian. Saat bebas, Devan menghembuskan nafas kesalnya. Kedua orang tuanya, langsung menghampiri Devan dan menenangkan para reporter yang datang.
“Hah huh... Mereka napa pada kesini”. Tanya Devan dengan nafas yang tak teratur bercampur dengan wajah kesal.
“I ibu juga ngak tahu nak. Kayak nya... Ada keperluan sama kamu deh”. Jawab sang Ibu.
“Ha?! Keperluan apaan. Mau masukin aku kepenjara gitu”. Jawab Devan tanpa memikirkan perkataan apa yang harus Ia lontarkan.
Lalu, tanpa basa basi salah satu dari mereka menjawab tujuan mereka datang ke rumah nya. “Devan, kami sebenarnya membutuhkan beberapa informasi dari anda”.
“Ha?!! Informasi? Informasi apa? ”. Balas Devan bingung.
“Informasi tentang teman anda yang bernama Angga. Yang memiliki kekuatan Indra mata batin”. Jawab mereka sekaligus sebagai pertanyaan inti mereka kepada Devan. Mendengar hal itu, Devan kembali kesal akan amarahnya. Ia pun berdengus kesal. Kedua orang tuanya hanya saling tukar pandang.
“Ha?! Apa?! Kalian butuh informasi teman gue untuk apa ha?!! Untuk apa?!! ”. Balas Devan dengan nada yang kurang sopan. Kedua orang tuanya beserta reporter itu syok dan tak menyangka kalau Ia akan seperti itu.
“De Devan”. Panggil sang Ibu menenangkan emosinya.
“Apa hah apa?!! Untuk apa gue tanya”. Brontak Devan.
“Bapak dan ibu semuanya, kalian harap pergi dari sini”. Cegah ayah Devan, namun, mereka tetap saja keras kepala.
“Pak... Kami mohon... Kami membutuhkan nya pak”. Jawab mereka.
“Hehe! Lo pikir gue mau bantu segalaan gitu! Dasar Gila… GILAAAA!!!. Kalian buat aja berita tentang diri kalian yang bodoh itu! Jangan seenaknya buat tentang orang lain! ”. Jawab Devan kesal dan masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan mereka dengan langkah kasar, ibu nya langsung menghampiri putranya yang emosi. Sedangkan sang ayah, menyuruh para gangguan itu pergi dari rumah.
Devan yang kesal langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia langsung melempar tasnya Sembarangan tempat dan merebahkan dirinya dikasur. Devan kembali membuang nafas kesal dan menggaruk-garuk kepalanya.
“Haaaaaaaaah!... Gila! Gila amat orang NGAK ADA OTAK!!! ”. Teriak Devan kesal dan amarah yang tak terkendali. Rambut hitam rapi tersisir kini berantakan karna dirinya sendiri.
Sang ibu pun masuk, beliau mendengar putranya bertindak kesal dan memutuskan untuk masuk ke kamarnya. Beliau pun melihat perilaku putranya yang rebahan dengan menutup wajah nya kesal.
“Devan”. Panggil sang ibu sambil duduk disampingnya yang sedang rebahan.
“Coba tenang dulu, istigfar biar ngak gampang emosi gitu”. Kata ibu sambil melihat tingkah putranya yang geram.
Devan semakin sesak akan amarahnya.Ia menarik kasar rambut nya, membuka mata dan berkata....
“Huf! Coba deh mama pikirin! Apa Devan kagak emosi! Kalau keadaan kacau gini terus. Orang gila itu mau buat lagi pembuktian batin Angga untuk merendahkannya lagi! Apa Devan ngak emosi! Napa ngak buat berita betapa bodoh nya mereka! ”. Oceh Devan kesal sambil mengarah-ngarah tangannnya kedepan.
“Sabar nak, mama ngerti. Kan boleh dibicarakan baik-baik”.
“Heh! Baik-baik apa nya... Kalau bukan otaknya ditonjok sekalian! ”. Jawab Devan yang masih kesal. Lalu, ponselnya pun berdering panggilan dari Bagas.
“Siapa? ”. Tanya ibu.
“Emph... Teman... Halo Gas”. Jawab Devan sambil mengangkat panggilan nya.
“𝘋𝘦𝘷! 𝘓𝘰 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘬 𝘩𝘢𝘩! 𝘜𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘯𝘨𝘶𝘮𝘱𝘶𝘭 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘯𝘪𝘩! ”. Jawab Bagas sedikit kesal karna telah menunggunya dari tadi.
“O …Oooh hehehe... Sory-sory, kalian emang dimana?”. Jawab Devan bersalah.
“Oh, ngak usah. Bagaimana kalau kalian duluan aja. Soalnya gue lagi Ada dikit urusan, bentar lagi siap”. Jelas Devan.
“𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳? 𝘌𝘮𝘮𝘮 𝘺𝘢𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘩. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘭𝘰 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘦! ”.
“Iye-iye... Lo pikir gue apaan”. Jawab Devan yang sempat diperhatikan ibu nya dengan senyum Kecil akan putranya.
“𝘖𝘬𝘦... 𝘉𝘺𝘦”. Balas Bagas dan menutup panggilan.
“Bagaimana Bagas? Devan pergi kan? ”. Tanya Sarah.
“Jadi sih. Tapi... Dia bilang Ada sedikit urusan, dan nyruh kita pergi duluan aja”. Jawab Bagas sambil melipat lengannya.
“Ooo yaudah deh, yuk pergi sekarang aja”. Seru Jesika. Mereka pun bersepakat untuk berangkat ke rumah sakit duluan.
“Ada apa? Mau kemana? ”. Tanya sang ibu.
“Tadi baru dihubungin temen. Mau ke rumah sakit untuk... Jenguk Dilan... Em.. Bolehkan”. Jawab Devan yang emosi nya multi padam.
“Hehe boleh, yaudah sana mandi dulu”. Kata sang ibu, Devan pun menurutinya.
Dug Dug dug... Sreng... Bush bush...
Devan yang telah membersihkan diri, langsung bergegas terburu-buru untuk pergi ke rumah sakit. Sampai-sampai, baju, handuk, tas dan segala yang Ada di kamarnya seperti kapal pecah. Kini, giliran emosi ibu nya yang bersabda.
“ASTAGFIRULLAH DEVAAAAAN! ”. Teriak ibu nya.
“INNALILLAHI!.... Astaggirullah Ma... Napa sih. Kagetin aja”. Seru Devan kaget, sambil memakai sepatu putihnya.
“Heh! Kamu ya! Urusin kamu aja buat Mama jadi pusing tahu ngak!… kamar udah bersih! Rapi! Malah diberantakin lagi! ”. Omel ibu nya.
“Yaampun Ma... Gitu doang. Nanti Devan bakal beresin lagi”. Jawab Devan santai.
“Masyaallah ni anak. Anak cuma satu serasa punya seratus! ”. Balas beliau yang tiba-tiba sang suami berada dibelakangnya.
“Wah... Adek Devan banyak amat”. Balas Devan.
“Hiiih! Bandel bener ni anak! Yaaaa!! ”. Kata sang ibu dan...
CIUUUUUUUT...!
Beliau menjewer telinga Devan. Devan tentu merasakan kesakitan yang luar biasa pada telinganya.
“A A A ampun Ma ampun”. Seru Devan meminta ampun, sang ibu pun melepas jeweran mautnya.
“Hehe... Oke. Devan berangkat dulu ye... Hehe... I love you mom”. Pamit Devan kocak sambil mencium tangan ibunya yang ngambek.
“Nak, mau kemana? ”. Tanya sang ayah yang ikut masuk ke kamar.
“Mau ke rumah sakit”. Jawab Devan.
“Oh ya udah... Hati-hati ya”.
“Oke Pa. Salamuàlaikum”. Pamit Devan. Kedua orang tuanya langsung menjawab. Devan pun keluar kamar, lalu kembali menyapa ibunya.
“Jangan marah ya Ma hihi”. Lanjut Devan dan kabur. Sang ibu hanya geleng-geleng kepala nya.
“Bagaimana, Mau punya anak lagi??... ”. Tanya suaminya. Nah, sang istri Mau jawab apa coba.