
“Assalamuàlaikum”. Kata pak kepala sekolah, mereka pun menjawabnya.
“Ini ada apa ya pak? Bu?. Mau memasalahkan lagi?! Kan saya dah bilang tidak perlu lagi untuk mempermasalahkan lagi sampe kekeluarganya kan!”. Tegas kepala sekolah, mereka hanya diam.
“eeeh… bu pak. Bagaimana kalau kita masuk dulu dan bicarakan ini baik-baik”. Balas Ibu Angga. Mereka pun dipersilahkan masuk dan bibi pun membantu menyiapkan air untuk mereka.
Kaila terus berlari menuju rumahnya. Ditengah perjalanan, Rangga dan Karin yang baru pulang dengan berboncengan motor melihat adiknya berlari pulang.
“Heh …makin cape aja disekolah”. Omel Karin dibelakang kakaknya.
“Beh… cape urusan sekolah apa cape ama beby lo?!”. Ledek Rangga sambil melajukan motornya.
“Hiiiih!… punya kakak laki emang gini amatlah”. Balas Karin kesal. Ya… memang disekolah mereka ada banyak juga penghianatan yang terjadi pada mereka. Tapi, mereka tetap berpikiran positif untuk menghilangkannya.
“Eh kak!”. Panggil Karin yang menghentikan tawa Rangga.
“Apa? Baby lo?”. Ledek Rangga.
“hih! Bukan. Tu liat tu kan Kaila”.
“Iya kok pulang sendiri. Devan katanya sekolah hari ini, terus?, Angga mana? biasa kan pulang barengan ama dia?”. Tanya Rangga curiga.
“…. KAILA!”. Panggil Karin, namun Kaila tetap tidak menjawab dan terus berlari.
“Lah napa Kai! KAILA!”. Lanjut Rangga dan melajukan motornya. Kaila tetap tidak merespon, Ia terus berlari. Tak berapa lama kemudian, Kaila tiba dirumah dan disusul olek kedua Kakaknya dibelakang. Mereka bingung karena begitu melihat ada mobil yang terparkir. Mereka bingung siapa kerumah.
Rangga memarkirkan motornya, Karin pun turun dan Kaila langsung memasuki rumah sambil dengan keadaan menangis.
“Ada apa?”. Tanya Karin. Mereka berdua pun menyusul Kaila.
Kaila berlari memasuki rumah dimana para tamu dari anak pemberontak dan yang lain sedang berbicara. Kaila tidak mempedulikan dan langsung berlari menuju kamar Angga.
Rangga dan Karin masuk, mereka syok melihat pak ustad, kepala sekolah, wali kelas dari sekolah Angga dan 3 tamu anak pemberontak datang. Mereka berdua hanya memberi salam dan langung pergi mengikuti adik mereka.
“Kak, ada apa ya? Kok guru dari sekolah Angga datang?”. Tanya Karin berbisik sambil berjalan.
“Entahlah, apa mungkin ada hubungannya dengan Angga?”. Tanya kembali Rangga.
Kaila yang telah berada di depan pintu kamar Angga hanya diam sebentar. Ia lalu membuka pintu dan mengintip. Kaila melihat Angga yang terbaring ditempat tidurnya tak sadarkan diri. Kaila telah menduganya, Ia menghapus air matanya dan pergi mendekati kakaknya.
Rangga dan Karin mengikuti Kaila, mereka pun berdiri dengan keadaan kaget melihat Angga dikamar. Kaila naik ke kasur Angga dan duduk di dekatnya. Rangga dan karin menyusul berada didekat Angga dengan khawatir dan bingung.
Kaila yang duduk didekat Angga, melihatnya lamat-lamat dan kembali mengeluarkan air matanya.
“Ada apa dengan Angga”. Tanya Rangga dengan heran.
Saat para wali murid anak preman sedang memprotes atas pertanggung jawaban pada keluarganya Angga, tak sengaja terdengar oleh 4 adik kakak ini.
“Pokoknya saya tak mau tahu ya pak! Saya mau anak kalian dihukum atau kalian yang akan saya penjarai!”. Ucap ayah Ian.
“Tenang dulu …”.
“Mau tenang bagaimana! Anak kita udah dijadiin begituan apanya yang mau tenang!”.
“Bapak dan Ibu! Tolong tenang dulu. Coba pikirin dulu yang baik-baik. Anak bapak dan Ibu memang pembuat masalah, itu juga harus diperhatikan. Mereka mengganggu Angga hingga keadaan bisa seperti ini. Bukan hanya Angga, tapi pada anak yang lainnya”. Jelas kepala sekolah.
“Bapak kepala sekolah keras kepala juga ya! Enak banget ngebela anak iblis itu”. Kata ibu Siran.
“Ibu kepala sekolah telah mengatakan hal yang sebenarnya. Memang perlakuan anak ibu dan bapak telah terjadi berulang-ulang dari dulu, tapi kami berusaha menutupinya. Tapi karena memang udah berlebihan, maka kami dapat menyampaikannya sekarang”. Kata pak Ridwan.
“Ibu dan bapak, kami tahu kalau Angga memabg udah kelewatan batas, cuma saya mohon pada kalian untuk mengerti sedikit tentangnya”. Kata Ayah Angga.
“Heh! Udah keterlaluan gitu! Disuruh dimengertiin”.
“Makanya kalau punya anak gitu diajarin dikit! Kalau sekarang begitu nanti kedepan jadi apa?! Heh jadi tukang pembunuh?! Apa pendukun?!!!!”. Ucap ayah Ian kasar. Tentu mereka begitu terpukul akan perkataan mereka, termasuk Rangga dan adiknya. Mereka berharap Angga yang pinsan tak dapat mendengarnya.
Sedangkan dikamar keadaan begitu lengang. Mereka begitu benci, terhianati dan terpukul akan perkataan mereka meski perkataan itu untuk Angga.
“Mengapa, mengapa begitu keji kepada kakak”. Kata Kaila sambil menangis melihat Angga.
“Mereka kejam! Kakak tak bersalah! Mereka yang bersalah! Mereka JAHAT!”. Lanjut Kaila sambil menangis histeris, air matanya tak berhenti turun mengaliri pipinya. Kedua kakaknya juga ikut menangis melihat adiknya.
“Kaila, jangan seperti itu, pasti ada jalan untuk mengakhiri semua. Suatu saat nanti, mereka pasti mengerti”. Kata Karin sambil duduk didekat Kaila sambil menghapus air matanya.
Tiba-tiba ponsel Rangga berbunyi panggilan dari Arga, adiknya, Ia pun mengangkatnya.
“Ya, ada apa”. Tanya Rangga.
“Oh kak. Udah pulang?”. Balas Arga.
“Kak boleh tolong jemput bentar? Ngak ada ojek dan taxi online. Mau naik bus kelewat tadi”. Jelas Arga.
“Em yaudah bentar, aku segera kesana”.
“Ok”.
Mereka pun menutup panggilan.
“Aku mau jemput Arga dulu”.
“Oh, baiklah hati-hati dijalan”. Balas Karin, kakanya pun meninggalkan kamar dan kembali menyalakan motor untuk menjemput Arga.
“Yaudah, jangan nangis lagi. Kaila ganti baju, terus makan dulu ya. Biarkan kak Angga istirahat dulu”. Ajak Karin, Kaila mengerti dan menuruti perintah Karin. Mereka pun meninggalkan Angga sendirian dikamarnya.
Rangga pun tiba disekolahnya Arga di MSN Unit Kembang Karya. Ia melihat Arga duduk di halte bis sendiri dan langsung menghampirinya.
“Eh kak”. Seru Arga. Rangga melihat kebiasaan Arga barengan bersama temannya kini sendiri, yang juga sama senasip tapi, tetap ada senyum terukir, Ia seperti menerima apa adanya.
Tetapi, siswa yang baru lewat pulang memperhatikan mereka berdua.
“Oh ya, pulang sekarang? Apa mau kemana dulu”. Kata Rangga.
“Langsung pulang aja”. Kata Arga, Kakaknya pun mengangguk.
Murid yang memperhatikan mereka dan langsung mulai straigt gosipan.
“Eh liat tuh, Kakak-kakak dari adik dukun”.
“Hehehe… saudara kandung yang tampan, cantik tapi sayang kalau adiknya mirip Iblis”.
“Bener tuh, gue denger perusahaan ayah mereka juga bangkrut”.
“Ya. Gue kalau punya adek kayak mereka tu mah dah bunuh duluan lah”.
Dan bermacam-macam lagi. Arga hanya mengeram marah mendengarnya. Bahkan Rangga.
“Ga… cepat. Biarin aja”. Kata Rangga datar, Arga pun langsung naik kemotor.
Diperjalanan pulang, Rangga melihat dari spion adiknya tampak kesal dibelakannya sambil memainkan ponsel. Ia pun memulai berbicara guna menghentikan keheningan.
“Dilarang main ponsel saat lagi berkendara”. Kata Rangga.
“Apasih, yang kendarain kakak kan bukan aku”. Balas Arga sambil fokus ke ponselnya. Rangga hanya tertawa kecil dibalik helmnya.
“Oh ya, ayah tadi bilang jemput Arga. Ada apa?”. Tanya Arga.
“Ya mana ku tahu. Pas pulang Ia pinsan dirumah”. Jawab Rangga.
“Ha!”. Seru Arga syok. Ia jadi berhenti memainkan ponselnya.
“Pinsan?! Napa”. Lanjut Arga panik.
“Ngak tahulah. Dirumah aja ada tamu, ada guru sekolahnya, ayah Devan, pak ustad dan kayaknya ada orang tua dari murid sekolah, tadi …Kaila juga pulang sendiri”. Balas Rangga.
“Ha! Bukannya Devan sekolah hari ini? Biasakan pulang barengan? Kok jadi serius gini”.
“Pertanyaan yang sama, jadi, tak dapat ku jelaskan”. Jawab Rangga, mereka berdua hanya menyimpan kebinguan.
Mereka pun memasuki jalan pintas yang lumayan kosong. Dan tiba-tiba, tampak geng bermotor yang menabrak Rangga dan Arga, mereka berdua pun terjatuh dari motor.
“Arga!”. Seru Rangga melihat adiknya.
“Ngak apa-apa”. Balas Arga.
Dan bos dari geng itu pun turun, mereka beranggota 7 orang. Dan si bos terdapat luka di bibir dan goresan dimata kirinya. Rangga jadi teringat akan perkataan Angga saat ditemukan pinsan dilorong menuju rumah kemarin.