The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Apakah Kau Akan Kembali



Rangga membawa adiknya untuk duduk dikasurnya. Rangga dapat merasakan tubuh Angga yang dingin berkeringat dan gemetar hebat. Rangga memeluk dan mengelus lembut adiknya untuk menenangkannya.


“Karin, bisakah kau mengambil kotak obat, Arga, tolong ambilkan air untuk Angga”. Perintah Rangga, Karin dan Arga pun menurut.


Keadaan dirumah Sakit


Dokter beserta perawat pun keluar dari ruangan, dengan wajah yang menunjukkan kegagalan menyelamatkan pesiennya, membuat keluarga Dilan bahkan dari sahabatnya ikut khawatir.


“Dok, dok?!… bagaimana dengan putra saya dok?!”. Tanya ibu Dilan sambil mendekati dokter tersebut.


“….. Kami minta maaf sebesar-besarnya bu, pak. Kami telah berusaha semak simal mungkin tapi, nyawa putra bapak dan ibu…. Tak dapat tertolong”. Kata Dokter.


Mendengar hal itu, membuat keluarga Dilan menangis histeris, keluarga kedua sahabatnya ini mengeluarkan air mata tak percaya. Devan begitu syok dengan air mata yang terus berderai turun, nafasnya terhenti seketika dengan menghadapi kenyataan yang terjadi.


“Kami, turut berduka cita…. Kalau begitu, sampai nanti”. Lanjut Dokter dan pamit. Mereka pun langsung masuk kedalam. Ibu dan ayahnya langsung memeluk putranya yang telah kehilangan nyawa. Devan hanya berdiri terpaku dengan air matanya yang terus mengalir melewati pipinya.


“ innalillahi, wainna ilaihirajiùn Dilaan… Dilan bangun nak…”. Kata sang ibu sambil mengelus kepala putranya.


“Bu, pak, kami turut berduka cita atas kepergian Dilan…. Iklaskan ya bu, semoga Ia selalu disisi yang maha kuasa”. Kata Ibu Angga sambil menenangkannya.


Devan menggeram tangannya, entah Ia sedang bermimpi atau tidak. Ia berpikir, kalau Angga mengetahui ini maka, keadaan pun semakin buruk, pecah, dan hilang. Devan hanya bisa menerima semua kenyataan yang telah terjadi.


TING!…


Lalu, ponsel Devan pun berdering. Ia menerima pesan dari teman-temannya. Devan pun memutuskan untuk keluar sebentar.


Jesika: Devan? Kau telah mengetahui bagaimana kondisi Dilan?


Bagas: Bagaimana kondisi Dilan?


TRING!….


Sarah: Bagaimana dengan Dilan, apa Ia telah siuman?.


TRING!…


Jian: Dilan baik-baik saja?


Devan: Di… Dilan telah tiada.


Balas Devan, sontak teman-temanya syok sekaligus ikut menangis. Mereka tak percaya kalau keadaan memang benar-benar telah terjadi.


Mulan: Innalillahi wainna ilaihirajiùn… sabar ya Dev.


TRIIING!…


Jesika: Apa!


TRING!…


Sarah: Innalillahi wainna ilaihirajiùn. Kami turut berduka cita Dev.


Bagas: yang sabar ya kawan.


TRING!…


Dito: Sabar Dev… kita doa kan semoga Ia tenang disisi Allah.


Mereka membalas pesan dengan air mata yang terus berderai. Devan tak tahu haru membalas apalagi, Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya dengan isak tangis tanpa henti.


Devan pun kembali masuk, Ia mendekati Dilan yang tertidur tanpa nyawa.


“Dilan aku akan merindukanmu… kuharap Angga juga dapat menerimanya Dilan. Kami… akan merindukanmu. Tapi…. Kumohon!… pasti ada harapan lagi untuk kau kembali Dilan!!… kumohon bangunlah!!!….”. Seru Devan dalam hati, air matanya tetap tak berhenti turun, sang ayah pun kembali menenangkannya.


Cahaya bulan begitu bersinar terang, sinarnya dapat menembus kaca jendela hingga menerpa wajah pucat Dilan. Dan tiba-tiba….


TIT!…. TIT!…. TIT!… TIT……!


Alat EKG berbunyi kembali. Sontak membuat yang ada didalam ruangan kaget. Lalu, jari telunjuk Dilan perlahan bergerak. Sungguh!, suatu keajaiban yang nyata mulai terlihat.


“Ja… jari Dilan! Bergerak ma”. Seru Mawar, kakaknya Dilan. Semua berpaling kearahnya, mereka pun berseru memanggil dokter untuk kembali memeriksa Dilan.