The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Tidak Apa



“Malam harinya, dua sahabat ini dan Kaila berada di ”Les“. Kaila pulang lebih awal malam ini, sedangkan kakaknya pulang agak telat. Jadi, Kaila diminta untuk pulang lebih dulu.


Lima belas menit kemudian, dua sahabat ini pun pulang dengan berjalan kaki. Suasana di jalan tampak sunyi dan gelap. Mereka pun sampai di depan lorong rumahnya Dilan. Hal tersebut membuat Angga kembali teringat dengan kejadian di mimpinya dan membuatnya cemas.


Dilan pun hendak ingin pulang, tapi dicegah oleh Angga yang cemas.


”ada apa ….“. Tanya Dilan.


”ngak ada ….bagaimana kalau aku mengantarmu saja“. Paksa Angga.


”terima kasih tapi tidak perlu, aku bisa pulang sendiri“.


”tapi …___“. Kata Angga tertahan saat menerima pesan dari kakaknya untuk segera pulang.


”tuh kan, kakak mu cemas tuh, lagi pula udah malem“. Kata Dilan.


”huh …..baiklah, kamu berhati-hatilah di jalan, dan ingat, kalau kau ada masalah hubungi aku!“. Kata Angga serius.


”iya, baiklah sampai jumpa pahlawan ku!!!“. Kata Dilan dan melambaikan tangannya.


Angga masih ragu dan cemas, Ia pun menenangkan dirinya dan pulang.


Sesampainya di rumah, Ia langsung ke kamar mandi dan mencuci muka di wastafel. Ia terus memikirkan apa yang ada di mimpinya, tak lama kemudian, Angga melihat cermin di depannya. Terlihat di belakangnya, terdapat sosok Dilan dengan kondisi yang mengenaskan.


Hal tersebut membuat Angga syok, perasaannya semakin khawatir. Ia pun mencoba menghubungi Dilan, tapi, sudah tiga kali panggilannya tidak aktif.


Tak lama kemudian, Ibunya Dilan menghubungi Angga bahwa Dilan belum pulang kerumah.


Angga semakin khawatir, Ia pun memutuskan untuk pergi mencarinya, adiknya pun mau ikut, Ibunya juga khawatir, Ia pun mengizinkan anaknya memeriksa dan jika ada masalah segara menghubunginya.


Angga dan Adiknya pun bergegas menuju lorong kerumahnya Dilan dengan berlari. Sesampainya di sana, alangkah terkejutnya mereka ketika melihat Dilan jatuh terbaring, darah segar mengalir dengan luka tusukan pada bagian perut yang terdapat pisau.


”Di__Dilan …“. Seru Angga tertahan, Ia langsung menghampiri Dilan dan menyentuhnya dengan gemetar.


Angga pun mengambil pisau yang tertusuk di perutnya Dilan dan terlihatlah secara sekilas kejadian yang terjadi.


Dimana Angga melihat ada tujuh sosok pria yang mengkerumuni Dilan. Salah satu dari mereka membawa pisau, tapi, yang terlihat hanya bajunya saja. Mereka mengatakan sesuatu tapi tidak kedengaran, Dilan mencoba melawan tapi sia-sia. Mereka membenturkan kepalanya ke tembok, mencekiknya dan menusuknya sebanyak dua kali.


Angga langsung terbangun dari penglihatannya, kepalanya terasa sakit mata yang biru kembali semula. Adiknya telah menelpon dan berkata bantuan akan segera datang.


Angga pun melepas jaketnya dan berusaha menutupi perut Dilan yang tertusuk agar, tidak kehilangan banyak darah.


”ayo berhenti mengalir kumohon!! …..berhenti!“. Teriak Angga yang berusaha menutupi luka Dilan.


Adiknya dari tadi berteriak meminta pertolongan, rumah Dilan juga masih jauh dari tempat kejadian, jadi mereka terpaksa harus menunggu.


Betapa terkejutnya Angga saat melihat tangan Dilan tiba-tiba menyentuh tangan Angga yang menutupi lukanya.


”te ….rima kasih ….“. Ucap Dilan putus-putus.


”Di lan …. jangan banyak bergerak kumohon“. Kata Angga agak tertahan.


”tidak usah terlalu keras berusaha …..“.


”Kau bercanda ….aku kesini akan tetap membantumu sebelum terlambat“.


”aku tahu kau seperti itu ….dengar ….berhati-hatilah___ pada seseorang yang __melakukan semua ini. Ini semua___rencana mereka untuk menghabisi mu“.


”aku tidak peduli ….aku lebih baik tewas duluan daripada melihat kondisi mu saat seperti ini“.


”kau ini …. Dengar___apakah aku nanti akan tetap hidup atau tidak___ tolong__jangan ada__dendam pada dirimu ….“. Kata Dilan dengan napasnya yang semakin sesak sambil mengusap rambutnya Angga dan tersenyum menahan rasa sakit.


Pergerakan Dilan semakin melemah dan akhirnya, tangannya jatuh dari sentuhan rambut Angga dan menutup matanya.