The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Saat yang Sempit



Waktu menunjukkan pukul setengah tiga. Yang cewe pun menunggu yang laki di depan mesjid. Tak berapa lama kemudian, mereka pun telah selesai dan langsung berangkat.


Saat hampir sampai didepan lorong, mereka pun bertemu dengan Devan.


“Devan!”. Panggil Sidiq.


“Eh, kak?… pada mau kemana”.


“Mau jenguk Angga”. Jawab Ray, Devan mengangguk.


“Napa ngak hubungin sih kalau mau berangkat”. Omel Jesika.


“A..hehe… ponsel ku lagi dicas”. Jawab Devan sambil menggaruk kepalanya.


“Yaudah… kita berangkat aja sekarang”. Kata Sidiq, mereka yang setuju langsung pergi kerumah Angga.


Sesampainya disana, mereka langsung masuk dan langsung disambut dengan hangat, Kaila pun langsung bersemangat melihat Devan.


“Mm… tante, Angga ada didalem ngak”. Tanya Devan.


“Ada, yaudah silahkan masuk aja”. Kata ibu Angga senang. Beliau berpikir Angga pasti senang karena kedatangan banyak temannya.


Devan dan yang lain pun langsung menaiki tangga dan menuju kekamar Angga.


Mereka melihat pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Devan pun dengan perlahan membuka pintu. Semua teman Devan begitu tak percaya akan kondisi Angga.


Ia duduk seperti orang misterius beserta perban yang ada di mata dan lengannya.


“Dev?… apa separah ini yang terjadi tadi malam?”. Tanya Ray.


“Ku rasa kakak mengerti”. Jawab Devan dengan muka yang tak pas. Mereka pun langsung masuk kekamar Angga.


Devan pun mencoba mendekati Angga, lalu, Angga mengangkat tangannya dengan wajah yang tak berpaling kemana-mana. Semua yang masuk kekamarnya hanya saling tukar pandang.


“Angga… ini aku, Devan”. Kata Devan, lalu Angga membalas…


“Menjauh dari ku…. Aku tak ingin membuat kalian terluka”. Kata Angga tanpa memalingkan penglihatan kemana-mana.


Semua mengerti akan keadaan Angga. Devan merasa tak kuasa menjauhi Angga meski Ia juga korbannya.


Devan lalu semakin mendekat dan duduk berhadapan dengannya. Semua temannya termasuk 2 kakak OSIS hanya bisa melihat mereka berdua.


“Dengar, aku tak akan menjauh dari mu. Kau sahabat ku kan”. Kata Devan yang membuat Angga membisu dengan kepala menunduk.


“Kita sudah melalui tantangan dari dulu bersama, bahkan sekarang. Aku tetap tak akan menjauh dari mu, sampai,… kapan pun”. Lanjut Devan yang membuat Angga teringat akan kebersamaan Devan dan Dilan saat SD.


Angga tak kuasa menahan apa yang ingin keluar dari matanya. Devan yang melihat sahabatnya, langsung memeluk Angga demi menenangkan hatinya. Semua seisi kamar ikutan menangis.


“Kau lihat, mereka masih bersama dengan kita”. Kata Devan sambil menunjuk kepada teman-temannya.


“Heks … hiks …. Hai Op… oppa”. Kata Jesika dengan tangis tersedu-sedu melihat kondisi Angga. Angga hanya melihat dengan separuh matanya.


“Angga, kau Oke”. Lanjut Sidiq, namun Angga tetap diam.


Mereka kini lebih sulit untuk berbicara selama dalam kamar Angga. Entah mau bicara apa, mau tanya apa… pokoknya canggung gitu lah.


Lalu, Karin pun membawakan air minum untuk mereka bersama sang Ibu.


“Ya ampun tante, buat repotin aja”. Kata Sidiq.


“Ngak kok, malah kalian yang repot-repot datang kemari”. Jawab ibu Angga.


“Eh! Ngak dong tante. Kami juga rindu sama Angga”. Kata Jian.


“ya loh tan, tadi ulangan aja… rasanya hampa kalau ngak ada Angga”. Lanjut Jesika, yang membuat mereka saling senyum-senyuman. Tapi… Angga lebih dari kata diam, Ia bagai boneka ditengah keramain, sama sekali tak terpancing.


Devan yang berada disamping Angga tetap tak menyerah, Ia melihat Angga yang tatapannya terus kebawah atau yak berarah.


“Eh Angga, soal ulangan, tadi tahu ngak. Satu soal yang ngak aku ngerti”. Kata Devan.


“Hei Dev!… tanya apaan sih”. Balas Jesika.


“Diam lu ah”.


“Ya emangnya soal apa”. Tanya Kaila.


“Hehe… soal… memikirkan ….. siapa gadis yang selau berada disisi Angga untuk menemaninyaaaaaaaa!!!!”. Jawab Devan kocak dan memeluk Angga. Angga tetap kaku sedangkan yang lain hanya tertawa.


Pikiran Angga tetap tak tenang menerima semua kenyataan, Ia mengkhawatirkan Dilan yang tak jauh dari kata pergi.