The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Together



“Ya ya.... I'm Bagas. Kau mengingat ku... Omg”. Jawab Bagas terharu sekaligus konyol. Temannya yang lain hanya bisa geleng-geleng Kepalanya.


“Lah lah... Kok bisa ko kesini heh! ”. Tegas Dilan, Ia masih belum tahu kalau Bagas sudah sah untuk tobat.


“Lan Lan, denger dulu”. Kata Devan menenagkan Dilan.


“Denger apa sih”.


“Lan, kita udah baik jadi salah satu temen lo”. Ucap Raki.


“Gue masuk ke jaman apa coba”.


“Nak, Ia juga udah banyak membantumu”. Kata sang ibu yang membuat Dilan berkedip tak percaya.


“Dia udah menyumbangkan darah ke kamu Lan”. Jawab Jian yang membuat Dilan melotot syok.


“Ya... Saat kamu kehilangan banyak darah waktu itu”.


“What the.... ”. Kata Dilan yang kembali melihat ke Arah Bagas. Ia hampir tak percaya bahwa preman yang akalnya setengah Jin itu juga bisa berhati malaikat.


“Lan, gue Dan dua temen gue ini... Bener-bener ingin berubah dan bergabung dengan kalian... Sungguh... Gua minta maaf banget atas kelakuan kami kepada kalian”.


“Bos Bagas benar, kami minta maaf ya... Kami berjanji kok, akan setia”.


Kata mereka sambil berlutut ke arah Dilan yang pikirannya masih dengan pertanyaan. Tiga preman itu terus menerus memohon kepada Dilan hingga... Sampai menangis akan kesalahan yang mereka perbuat. Devan Mulan, temannya yang lain dan keluarganya Dilan kembali bersyukur atas ketingkatan keberhasilan yang mulai tumbuh.


Dilan yang melihat hati tiga preman itu yang mulai rata dengan ketulusan... Tersenyum senang melihatnya. Dilan pun memegang bahu mereka dan membantu mereka berdiri.


“Dengar... Aku, udah memaafkan kalian kok. Gue bener-bener berterima kasih banget karna udah banyak membantu, baik gue, Devan... Dan... Angga”. Kata Dilan lembut sambil tersenyum lembut dan manis. Semua kembali tersenyum melihatnya.


Bagas dan dua anak buahnya begitu terharu dan berterima kasih atas kesetiaan balasan maaf salah satu korban buliannya. Mereka pun langsung memeluk Dilan sambil menangis tersedu-sedu hingga membuat orang disekitar terutama Devan, syok sekaligus... Aneh dan... Kocak juga sih. Ya mana ngak coba, liat preman yang dulunya pernah dianggap gila berbahaya, kini, tergurai dengan air mata.


Dilan yang berada ditengah ya yang pastinya tercekik dong.


“Lan makasih banget udah maafin kami.... Hiks”.


“Maafin gue Lan his hiks”.


Ucap mereka sambil terus memeluk dan berterima kasih pada Dilan, ya.... Meski begitu, Dilan dapat menanggapi dan memafkan mereka.


************


😨


“ANGGA! TENANG ANGGA! JANGAN LAKUKAN ITU NGA! SADAR! ”.


Seru kakaknya Angga yang berusaha menyadarkan Angga dengan berusaha menarik cengkraman tangan sang adik. Sang Ibu semakin panik dengan perbuatan Angga yang diluar kendali, Kaila hanya bisa berdiri terpaku melihat kakaknya.


Angga semakin memberontak dan berteriak, bisikan hinaan masih berdenguan di dalam dirinya. Cenkraman kepala yang terluka karna ulahnya sendiri, masih belum Ia lepaskan. Seruannya yang kesakitan bercampur dengan tangis hasil dari kesensaraannya.


“Angga Angga tenang Angga ya nak”. Seru sang Ibu. Beliau akhirnya berhasil menarik geraman tangan putranya dan langsung memeluknya dengan erat.


Angga yang berada dipelukan erat Ibunya hanya bisa mengeluarkan suara tangis kesensaraannya. Air mata dan darah segar yang mengalir terus mengalir dan membasahi hijab hijau Ibunya.


Sang Ibu semakin erat memeluknya dengan hati yang begitu khawatir. Beliau mengelus kepala nya dengan lembut, hingga dapat merasakan tubuhnya gemetar hebat dengan keadaan pucat.


“Hah... Yaudah bu... Kami ganti baju dulu ya, kalau ada apa apa, panggil aja”. Pamit Rangga sambil mengambil ponselnya yang telah terlempar tadi. Sang Ibu pun mengangguk dengan masih memeluk Angga.


Ketiga kakaknya itu langsung keluar kamar tapi, Kaila tetap berada didalam melihat salah satu kakak kesayangan.


Diluar kamar, Rangga kembali menelpon Dilan agar Ia tak berpikiran lain dengan Angga. Dilan yang melihat ponsel Ibunya berdering, Ia pun langsung mengangkatnya.


“Halo”. Jawab Dilan yang mengangkat panggilan Rangga.


“𝘚𝘰𝘢𝘭 𝘵𝘢𝘥𝘪.... ”.


“Ngak apa kak, Dilan ngerti kok”. Jawab Dilan yang berusaha menanggapi semua ini. Devan, tak tahu harus mengatakan apa, terkadang Ia sendiri merasa bersalah dan pencundang.


“𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘪𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳... 𝘋𝘢𝘯.... 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢”.


“Ngak apa kak... Semoga Angga cepet sembuh ya kak... Kami bantu bersama kok! Iya kan Dev”. Kata Dilan menyemangati sambil juga menghibur Devan agar Ia tak dapat merasakan beban berat sendiri. Devan... Berusaha tersenyumuntu agar Dilan tak terlalu mencemaskan dirinya.


Beberapa menit mengobrol, Rangga pun menutup panggilan. Ia menyandarkan kepalanya didinding kamarnya sambil menghembuskan nafas panjang.


“Kak....! Udah jangan terlalu banyak pikiran. Sana ganti baju dulu”. Ucap Arga yang melihat kakaknya yang gelisah. Rangga pun menuruti adiknya dengan anggukan.