The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 5



Kepala tersentak kebelakang terkena peluru dengan darah yang keluar. Dua temannya benar-benar syok ketakutan, mereka pun langsung membantu Jhon yang terkapar dijalan.


“J… JHON JHON BANGUN JHON!”. Seru mereka. Namun, apa daya, jhon terbaring tanpa nyawa dengan darah dari kepala dan mata yang terbuka.


Mereka berdua diam ketakutan terpaku, dan melihat bocah SMP yang kesurupan iblis.


“Mati, bukankah harus dibayar dengan mati kan?~~~”. Kata Angga seram dengan senyum seram, menampakkan wajahnya, membuka mata yang bersinar biru terang.


Dua preman yang tersisa ini perlahan bangkit berdiri ingin kabur menjauh dari kekejaman maut.


“Bagaimana, kita akhiri dengan kekejaman yang selembut dendam kematian Dilan”. Kata Angga halus, kejam, seram dan mengankat senjata parangnya.


Dua preman ini langsung bergegas naik ke motor dan melajukannya dengan panik. Angga tertawa seram dan….


SRASH…..


Angga berlari mengejar mereka dengan parang yang siap membunuh. Kcepatan larinya sangat cepat, seperti kecepatan hantu teke-teke yang mengejar mangsa.


“Bro…. Bro! Anak itu anak itu!”. Seru temannya dari belakang yang melihat sesosok Angga dengan cepat menyusuli mereka dari kaca sepion. Temannya didepan berusaha menikkan kecepatan, tapi, sia-sia, karna Angga lebih cepat.


Semua lampu apartemen, rumah dan yang lain menyala… hal yang sama terkadang terjadi.


“Hahaha… kalian pikir bisa lolos heh!”. Kata Angga seram, Ia mempercepat kecepatannya dan….


SRENG!!….


Dua kepala preman itu putus! Karna serangan Angga dengan parangnya. Sepeda motor itu pun menabrak tembok dengan tubuh tanpa kepala yang berhimpit. Dan bayangan Angga pun menghilang dengan tawa dan mata biru yang seram.


Sesosok Angga yang asli yang berada dirumah, begitu menikmati pembalasan dendamnya. Ia mendengar semua teriakan orang-orang yang dulunya selalu menyambutnya dengan, kini… Angga dapat membalasnya dengan adil.


Dengan jeritan siksaan mereka, Angga tertawa puas bak orang kesurupan dan kehilangan kewarasannya. Dengan mata birunya yang masih menyala, Ia tertawa terbahak-bahak seram dengan memegang kepalanya.


Hal ini, membuat seluruh anggota keluarganya terbangun oleh syok mendengar tawa seram itu. Apa lagi ketiga kakak dan adiknya yang bersebelahan kamar, mereka begitu syok dan merinding jika Angga mulai lagi.


“Entahlah…. Angga”.


Tok tok…


“Angga”.


Tok tok…


Panggil Rangga sambil mengetuk pelan pintu kamar adiknya. Mereka tak mendengar jawaban Angga, hanya saja, tawa yang jelas terdengar oleh mereka. Lalu, kedua orang tua mereka pun datang.


“Ada apa”. Tanya ayah.


“Ng… ngak tahu Yah. Dari tadi… Angga tertawa tengah malam gini… tadi kami juga baru bangun”. Jelas Rangga.


“Bu….”. Seru Kaila yang berlari menuju ibunya.


“Coba buka dulu….”. Kata ibu mereka. Suaminya pun mengangguk dan perlahan memutar pegangan pintu dan membukanya.


Suara tawa Angga semakin jelas dan jelas. Betapa syoknya mereka melihat Angga bertindak seperti orang kehilangan kewarasan… dan… tawa tanpa jelas… seram pula.


“Astagfirullah Angga”. Seru Ayahnya. Tapi Angga hanya tertawa menghadap cermin.


“Angga… nak”. Seru ibunya… Kaila kembali memeluk Karin, Rangga dan Arga hanya diam termanga.


“Ha?!??…. I… bu… he he hahahahaha…..”. Balas Angga menghadap kepada mereka dengan gila.


“Nak… Angga sadar. Ada apa”.


“Dendam… dan balaskan… hahahaha”. Balas Angga. Dan sekian membuat firasat kakaknya muncul dibenak mereka. Angga hanya terus tertawa puas atas pembalasannya.