The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Menelusuri



“Eh!? Ya? ”.


“Napa dari tadi bangong mulu”. Lanjut Sarah yang membuat Jesika dan Bagas memperhatikan.


“Emph… ngak ada”. Jawab Devan sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“Devan… kalo punya masalah jangan sembunyiin, kita kan ada, siap membantu kok”. Kata Jian semangat, Devan hanya mengngguk dan tersenyum.


“Dia bener, kite akan tetap ada untuk lo. Oke”. Balas Bagas dengan merangkul Devan.


“Iya ya,”. Jawab Devan. Mereka pun berhenti disekolah dasar untuk menunggu Kaila dan Zaki. Memang keadaan kota cukup sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang, tapi tak ramai.


“Beh~~ engak ada satu pun pedagang disini. Laper amat aku”. Kata Jesika sambil memegang perutnya.


“Emang bener jadi kota setan pada kota hantu”. Balas Dito.


“Setan sama hantu ngak sama kah”. Tanya Sarah.


“Ya ngaklah! Cara baca aja beda”.


“Kaum ajaran sesat!”. Balas Sarah melotot. Biasanya, Devan akan ikut menyambung pembicaraan saat seperti ini, tapi, kini Ia telah masuk ke kaum kalem dan melongo.


“Woi Devan!”. Panggil Bagas, namun Devan tak merenspon. Ia hanya duduk diam di kursi panjang sambil memainkan ranting.


“𝘕𝘢𝘱𝘢 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘪 𝘢𝘯𝘢𝘬, 𝘩𝘢𝘣𝘪s 𝘫𝘪𝘸𝘢 𝘳𝘢𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢”. Seru Bagas dalam hati.


“Devaaaaaan”. Teriaknya, Devan auto dibuat syok seakan-akan jantungnya menghilang.


“Heh! Kagak ada kerjaan apa”. Kata Devan kesal.


“Ada, lo ada kagak. Dari tadi bengong ngak jelas”.


…..


Devan hanya diam dengan ekspreksi khawatir. Temannya semakin cemas dengan kelakuannya.


“Dev, lo kurang badmood?, biarin gue nyanyi ye… ekhem!…. Ooooo….”.


“Eh Stop!”. Balas Jesika yang menghentikan nyanyian Bagas. Bagas menatap Jesika kesal dengan tatapan santetan.


“Napa sih lu garong!”. Kata Bagas.


“Lo, gue ingetin jangan nyanyi oke”. Jawab Jesika pro ala anime.


“Dih… berharga. Weh! Keadaan kota udah cukup sepi oke…. Masih mending ada beberapa orang. Dari pada nanti kalo lo nyanyi bakal hilang semua gimana”. Ledek Jesika dengan tatapan menantang Bagas.


Bagas tak terima, Ia menatap Jesika kesal dan melipat tangannya. Semua temannya kini tertawa melihat akal mereka.


“Dev… napa sih”. Tanya Mulan yang mengalih ke Devan yang sedang duduk kalem.


Devan menatap Mulan lamat-lamat, Ia kembali teringat akan Mulan yang mengetahui sedikit tentang Angga.


“Eee… ngak cuma agak kepi…kiran dikit”. Balas Devan ragu.


“Ha? Kepikiran apa”. Tanya Jian.


“Aku dengar dari, adiknya Angga”. Kata Devan yang mulai mengatakan penjalasannya. Semua temannya kini ikut memperhatikan dan mendengarnya.


“Angga, sebenarnya saat malam kepergian Dilan, Ia dapat melihat”. Ucap Devan yang membuat semua temannya kaget tak percaya.


“Apa! Ba… bagaimana bisa?!!”. Seru Bagas termanga syok.


“Ya… aku juga ngak tahu… tapi Kaila yang menceritakannya pada ku”. Jawab Devan dengan ekspreksi yang bercampur aduk antara panik, cemas, dan ketakutan jika terjadi sesuatu pada sahabatnya.


“Terus?”. Tanya Mulan.


“…. Saat tengah malamnya, kaila mengatakan tentang kelakuan mengerikan dan kakaknya”.


“What?!!”. Seru Jesikan dan Jian. Sarah, Bagas dan cowo yang lain serasa tidak merasakan nyawa mereka masih ada, sedangkan Mulan, semakin serius untuk menanggapi tiap ceritanya Devan.


“Kaila bilang, Angga tertawa ngak jelas pada malamnya. Dan itu… sangat mengerikan dan… bertindak gila seperti kejadian beberapa hari yang lalu disekolah”. Jelas Devan… mereka yang mendengarkan membuat nafas mereka terhenti akan tak percayanya kendali Angga diluar batas.


“Apa… Ia lagi kesurupan kali ya?”.


“Bagas! Bisa-bisanya kau asal bar-bar gitu menanggapi masalah!… jangan gitu lah… kasian Angga”. Omel Jesika kepada Bagas.


“Terus… apa Angga mengatakan sesuatu saat itu?”. Tanya Mulan yang secara terang-terangan. Temannya yang lain semakin penasaran hingga Devan harus menjaga nafasnya.


“Angga, Ia bilang…. Ia puas atas pembalasan dendamnya”.


“Apa!?”.


“Pem… pembalasan! Dendam?!!”.


Seru mereka yang dihajar oleh kesyokan yang bertubi-tubi. Mereka sungguh tak percaya kalau anak batin ini akan membalaskan dendamnya.