The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Perencanaan Dimulai



Malamnya, menunjukkan pukul 11 malam. Angga duduk sendiri didalam kamar ayahnya di sebuah kursi roda, dengan terpaan cahaya bulan purnama dari jendela besar.


Tak ada yang dapat dilakukan, Angga duduk diam dengan matanya yang tertutup perban putih yang sedikit bercak darah dipermukaannya. Dalam ketenangannya... Drageors kembali mengusik pikiran Angga. Ia tiba-tiba muncul dibelakangnya dengan bayangan hitam yang menyelimuti Angga.


“Sekarang apa yang akan kau lakukan heh... Hehe hahahahaha! ”.


“Biarkan kulakukan ini.... Sendiri”. Sahut Angga yang membuat makhluk itu menghentikan tawanya dan kembali menatapnya senang.


“hehe hahahaha! Baiklah kalau itu mau mu hehe”. Katanya dan pergi menghilang.


Angga lalu bangkit berdiri, dan tersenyum seram. Ia seperti hendak ingin melakukan hal gila yang terlibat dengan pikirannya. Dengan langkah yang belum stabil dengan kondisi dirinya saat ini, Angga berjalan keluar kamar. Aura seram dari dalam dirinya belum tercabut pada dirinya, Ia terlihat murka, dendam, marah dan... Perencanaan akhir yang ada dipikirannya.


Malam yang terasa sangat sunyi. Suasana rumah mewah ini hawanya begitu dingin dan... Seram. Masing-masing berada dikamar mereka dan Devan, yang terlelap pingsan akhirnya membuka matanya dengan perlahan. Pandangannya gelap hanya sementara.


Ia pun bangun dan memegang lehernya yang masih perih ditambah kepalanya yang masih sakit dan pusing. Ia melihat kedua orang tuanya yang terlelap tidur di sana.


Ia pun teringat dengan kejadian mengerikan yang terjadi beberapa jam yang lalu, pada saat Angga melukai Vero.


“Angga!… kejadian tadi!…. Tidak…. Itu nyata! Diamana Ia sekarang…”. Seru Devan dalam hati panik dan jantungnya mulai berdetak kencang.


Devan memaksa dirinya, Ia pun turun dari ranjang tanpa diketahui oleh orang tuanya. Suasana terasa sunyi, Devan pun membuka pintu dengan perlahan lalu... Terdengar suara langkah kaki yang membuat Ia sedikit merinding.


Ia pun mengikuti arah suara tersebut dan... Devan melihat sahabatnya, Angga berada didepan dengan jarak, berdiri diam membelakanginya.


“Ang... Angga”. Panggil Devan dengan nafas yang belum teratur dan suaranya yang sulit keluar dengan lancar. Namun, Angga hanya diam mematung hingga membuat Devan semakin merinding.


Devan merasa perasaannya tak enak sekaligus curiga, Ia pun memberanikan dirinya untuk mendekati Angga.


Beberapa langkah kemudian, Devan berada dibelakangnya. Tapi... Angga layaknya patung, ia seperti tak menyadari siapa yang berada dibelakang.


“Angga? Kau sedang apa? Kau baik-baik saja?”. Tanya Devan yang sedikit gemetar. Angga tak menjawab, Devan mencoba untuk mempercayai kalau itu benar-benar sahabatnya, Ia pun memegang pundak Angga hingga membuat Angga tertawa misterius.


“Ang... Ga... Kau... ”.


“HAHAHAHAHAHAHAHA.... ”.


Lalu, Angga berbalik dengan senyuman gila dan tatapan mata yang tajam dengan warna biru khas mata batinnya. Devan yang syok mulai melemah, tubuhnya kembali pucat melihat sesosok sahabatnya yang ternyata itu adalah Drageors.


“K... Kau”.


“Hahaha... Ya... Bagaimana kabarmu”. Jawab Drageors semberi melangkah mendekati Devan yang tak dapat bergerak akan karna ketakutannya.


“Apa kau mencari sahabatmu?... Benarkan? Hehe… sayangnya Ia telah pergi”. Kata makhluk itu yang membuat Devan tak dapat bernafas... 𝙿𝚎𝚛𝚐𝚒 𝚐𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊? 𝙺𝚎𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚗𝚢𝚊𝚠𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚑?!. Itu yang ada dipikiran Devan kalau tidak... Apa lagi.


“Apa maksudmu”.


“Hahaha!... Tidak. Dia belum mati cuma.... Dia akan mengakhiri kejadian ini dengan kematian”. Jawab Drageors yang kini berasa tepat dan dekat dengan Devan, Drageors menatap mata Devan yang kemudian mengeluarkan mata biru hingga membuat jantung dan kesadaran Devan berhenti.


Devan layaknya terhipnotis, kepalanya terasa sakit dan pusing, pandangannya seakan-akan berputar dan mulai gelap lalu... Ia pun jatuh dalam keadaan pinsan. Drageors tersenyum dan menghilang.


Lalu, di belahan lain, Devan berada ditempat yang cukup asing baginya, ya! Tempatnya gelap dan kosong. Ia merasa bingung dan gelisah mencari jalan keluar. Ia melihat kesana dan kesini untuk memutuskan Ia berada dimana, tempat apa, dan, tentu mencari jalan keluar.


“AAAAAAAAAAAKH!!............. ”.


Sebuah suara jeritan yang keras layaknya seperti terjadinya kekerasan hingga membuat telinga Devan sakit dan tentu saja, Ia syok mendengar suara tersebut.


Karna perasaannya yang kini bercampur aduk menjadi satu, Devan pun berlari mencari asal suara jeritan yang masih terdengar keras dan... Beberapa menit pun menghilang.


“𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢? 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪? ”.


Devan berlari kencang dengan nafasnya yang telah benar-benar sesak dan....


𝘋𝘦𝘨~~~~


“𝘛𝘰... 𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨.... ”. Ucap Angga lemah dengan satu langkah dan tangannya yang ingin menggapai Devan dan tiba-tiba...


𝘋𝘳𝘢𝘴𝘩!....


“!......... ”.


Sesosok bagian dari dirinya yang tak lain Drageors kembali merasukinya yang seketika Angga terjatuh dan...


𝘡𝘪𝘯𝘨~~~~


“Angga! ”. Teriak Devan yang telah kembali pada dunianya yang dimana Ia kembali didalam kamar dengan orang tua dan kaka dan adiknya Angga. Mereka menemukannya pinsan tadi.


“Nak... Kamu baik-baik saja”. Tanya ibu Devan khawatir yang melihat putranya yg kini begitu pucat namun, Devan semakin panik dan langsung mengarahkan topik pada apa yang Ia lihat.


“Angga! Angga!... Dalam masalah! ”. Tegas Devan dengan detak jantung yang semakin kencang dan tentu seisi ruangan mulai syok. Rangga tanpa menanyakan pertanyaan lagi langsung bangun menuju kamar ayahnya untuk melihat kondisi adiknya dan diikuti oleh Arga.


Rangga berlari dan langsung membuka pintu dan ternyata.... Hanya kursi roda yang berada di sana, nafasnya seketika tertahan. Begitu juga dengan Arga... Jantung mulai berdetak kencang menanggapi kejadian tengah malam yang mengerikan.


“Angga! Ga! Angga!.... ”. Panggil Rangga dengan suara bagai auman macan. Kedua orang tua Devan mulai panik dan tak lama dari itu kaila pun keluar dari kamarnya saat mendengar kepanikan keluarganya.


“Rangga ada apa”. Tanya Ayah Devan.


“Om.... Om... Angga ngak ada di kamar! ”. Jawab Rangga panik yang langsung membuat jantung langsung berhenti secara berjamaah. Kaila benar-benar tak bisa berkata apa-apa, kejadian yang terjadi sebelumnya sudah mampu membuatnya diam.


Ayah Devan, Rangga dan Arga langsung bergegas mencari Angga dan benar saja, pintu terbuka lebar yang menunjukkan Angga benar-benar keluar.


“ANGGA! ”. Teriak Rangga dan Arga secara bersamaan dan langsung berlari keluar mencari adik mereka. Ayah Devan langsung menyusul dan meminta yang lain untuk berada dirumah saja namun, Devan memberontak tapi... Ayahnya kini bertindak tegas.


Kaila menangis khawatir dan Karin langsung menghubungi Ayahnya tentang kabar mengerikan ini dan tentu, beliau kembali syok dan langsung ingin bergegas pergi.


Avyna yang terjaga dari tidurnya langsung menanyakan hal yang membuat Gibran panik seperti itu.


“Gidran, ada apa”.


“Bu, Angga menghilang”. Jawab Gidran semakin panik.


“Hah! Tu anak kamu bilang udah gila, lumpuh kok bisa keluar segala”. Jawab Avyna seenak pikirannya, Gidran yang mendengar ucapan dari beliau hanya berdengus kesal dan tak mempedulikan. Namun, mulut wanita tua itu layaknya tak bisa tenang sekalipun, Ia bahkan merasa puas saat Angga menderita seperti ini. Baginya, Angga adalah anak jadi-jadian yang membuat masalah di keluarga.


“Biarkan saja! Kau disini bersama Vero”. Tegas Avyna sambil menunjuk Veto yang koma karna pendarahan dikepalanya.


“Bu... Jangan buatku seperti babu dan jangan jadikan Angga itu binatangmu”. Jawab Gidran dingin.


“Kau mengerti kalau Ia pembawa masalah itu pun karna keturunan dari ayahmu anak mu seperti ini! ”.


“Bu... Jangan seenaknya bicara ya! Walau bagaimanapun Angga dia tetaplah putraku dan... Jika kau membencinya maka... Aku ngak akan terhalang untuk membencimu sampai kapan pun. Kau membuat putraku patah semangat! Apa kau sebagai nenek yang baik tidak bisa menghargai bagaimana dia. Kau hanya memandang nama baik keluarga dan harta dan memilih-milih untuk mengawetkan nya? Begitu...! Bu... Dia juga bagian dari keluarga, dia juga manusia yang memiliki perasaan, dia juga bisa merasakan sakit jika harga dirinya diinjak dan dikotori seperti itu”. Balas Gidran yang membuat Avyna terdiam.


“Oh ya, aku ingat saat kau mengatakan kepadanya orang tak berguna, pembawa maut kesalahan, jin, iblis! Bahkan sampai bahasa kotor yang kau lantunkan kepadanya.... Lihat... Ia tak pernah untuk membalas ucapan itu kepadamu dan itu yang kau anggap manusia tak berguna?... Hah... Sudahlah. Itu terserahmu... Kalau memang seperti ini terus... Kami memutuskan untuk pindah jauh, jauh! Dari pandangan mu sampai kau puas...... Assalamu'alaikum”. Sambung Gidran, ucapan itu kepada mertuanya saja dapat memilu perasaannya. Ia pun pergi tanpa mempedulikan bagaimana pemikiran mertuanya meski itu larangan besar terhadap adab.


Di jalan kota yang begitu sepiii... Manusia yang dirasuki jiwa kegelapan itu, berjalan dengan langkah yang tejeda-jeda, kini, aura kegelapannya keluar yang menghilangkan setengah bagian dari dirinya.


Lalu,.... Angga mengalami sebuah penglihatan yang menuju kepada mangsa empuknya. Ia dapat melihat... Tak jauh dari tempatnya berada, terlihat 3 pria yang tersangka sebagai pelaku, sedang bersenang-senang dengan air mabukan parah.


“He he he... Ketemu”. Kata Angga dengan keadaan menunduk disertai dengan senyum seram dan mata identik dominan menyeramkan.


......𝙷𝙰𝚕𝚘 semuaaaa👋. 𝚊𝚙𝚊 𝚔𝚊𝚋𝚊𝚛 𝚜𝚎𝚑𝚊𝚝? 𝚗𝚊𝚑 𝚐𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊2 𝚊𝚕𝚞𝚛 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚙𝚎𝚛𝚝𝚊𝚖𝚊 𝚜𝚊𝚖𝚙𝚊𝚒 𝚜𝚒𝚗𝚒... 𝚐𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊2 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚝𝚊𝚑𝚞 akuuu🙏......


...^^^𝚈𝙰, 𝚢𝚊 𝚢𝚊.... ^^^...


...^^^𝙷𝚎𝚑𝚎... 𝚜𝚞𝚊𝚜𝚊𝚗𝚊 𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚊𝚋𝚞2 𝚗𝚒𝚑. 𝙹𝚊𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚕𝚞𝚙𝚊 𝚗𝚒𝚗𝚐𝚐𝚊𝚕𝚒𝚗 𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗,,,, 𝚜𝚎𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚐𝚊𝚗𝚝𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚔𝚞𝚎 𝚔𝚞𝚎. 𝚑𝚎𝚑𝚎... ^^^...