
Heeeeei ….kok bengong?”. Sapa Devan sambil duduk satu kursi berdua dengan Angga.
“Kau memikirkan sesuatu?”. Lanjut Devan.
“… tidak”. Jawab Angga singkat sambil memainkan pulpen ditangannya.
“Kau …sedang memikirkan …Dilankan?”. Sambung Devan yang membuat ekspreksi Angga berubah tanpa menjawab pertanyaannya.
“Kau tahu, aku juga merindukannya. Andaikan dia hadir”. Kata Devan dengan muka yang sedih.
“Aku tahu itu, maaf. Coba saat itu aku cepat akan penglihatan yang menimpanya …pasti Ia tidak akan seperti ini. Ia bahkan tidak tahu kau sudah kembali dan kita sedang bersama”. Kata Angga, kini perhatian teman dan Devan ada padanya dengan wajah yang sedih.
“Hei …! Jangan seperti itu. Ini semua bukan salah mu. Aku yakin Dilan akan kembali. Aku yakin …Ia tahu kalau aku ada disini. Dan yang perlu kau tahu …Dilan ingin kau tetap tersenyum meski keadaan seperti ini”. Kata Devan menenangkan Angga sambil merangkulnya dan tersenyum.
Perasaan Angga masih belum bisa menerimanya, apalagi waktunya Dilan tinggal 2 hari lagi. Bahkan saat ini belum ada perkembangan.
“Ayolah jangan khawatir. Ah hei …kau mau kue”. Kata Devan menghibur Angga sambil menyuapi kue pada sahabatnya.
“Tidak …nanti saja”.
“Aku tahu kau tidak terlalu suka yang manis, setidaknya satu saja. Bilang Aaaaaaa!”. Rayu Devan nakal yang membuat yang lain tertawa.
“Tidak! Kok nakal gini heh!”. Kata Angga kesal.
“Ayo Angga! Ayo Angga! Ayo Angga”. Sorak anak cewe kompak, Mulan hanya menahan tawa dan menepuk tangannya.
“Nah kan. Mereka aja setuju, oke Aaaaaa!!”. Balas Devan sambil mendekatkan kue ke mulut Angga.
“Udah dibilang ngak! Eh!”.
“Ayo Angga pliiiiis my friend. Buka mulut mu bukaaaaa!”. Kata Devan sambil bersandar dan menggoyang-goyangkan tubuh Angga. Semua perhatian ada pada mereka berdua.
“Heh! Ya! Ya. Senang kau!”. Kata Angga pasrah, tingkat kesabaran -10%.
Teman cewe dan Bagas sampai terkekeh melihat Angga berpasrah diri.
“Hahahaha …yaudah ni”. Kata Devan sambil tertawa dan menyuapi Angga. Angga terlihat malu, dan kue yang hampir mendarat di mulut Angga, tiba-tiba ….
“Am …nyam enak banget! Kuenya manis dan lumer dimulut. Wah …benerkan Angga?!”. Kata Devan. Saat hampir tiba dimulut Angga, ternyata Ia memakan kue itu sendiri. Yang lain tertawa terbahak-bahak melihat tipuan Devan kepada Angga. Angga terlihat dipermainkan memasang muka kesalnya.
“Hahaha …ya maniiiis kok. Semanis ini!”. Kata Angga tertawa geram dan menjewer telinga Devan, temannya yang lain sampai sakit perut menahan tawa. Apalagi murid yang lain.
“Aw aduh-aduh. Sakit-sakit! Aaaaa!”. Teriak Devan sakit karena dijewer telinganya oleh Angga.
“Bagaimana? Manis bukan? Hem”. Balas Angga geram karena telah dipermainkan.
“Hahahaha …A A A A aw sakit. Iya ya ampun-ampun. HahahahA!“. Balas Devan, Ia masih tertawa meski telinganya dijewer seperti itu. Inilah yang mereka inginkan dari Angga, tetap dapat merasa kesenangan bersama temannya.
Mulan yang melihat, hanya tersenyum-senyum akan kelakuan dua sahabat itu.
Dan …jam istirahat pun tiba. Tanpa aba-aba, semua murid langsung keluar ke kantin, ya …kebiasaan kan …, dan ada juga yang masih dikelas seperti Angga dan beberapa temannya.
”Hah …malas banget mau keluaaaar“. Kata Bagas bosan sambil menaikkan kakinya diatas meja.
”Heh! Tumben lo“. Balas Devan.
”Ya iyalah. Berdesak tahu“. Kata Bagas.
”Berdesak …orang kaliankan yang paling jago membelah antrian“.
”Hei …itu dulu. Sekarang mereka tahu aku dah jinak jadi ngak ada yang takut“. Jelas Bagas.
”Yaelaaah …sekarang juga bisa!“.
”Hah? Dengan apa? Bagaimana?“.
”Hihihi …dengan ketek maut lo hahahah!“. Balas Devan yang membuat semua tertawa terkekeh tanpa henti, Bagas yang tak terima diledek siap berperang.
”Ooooh …lo mau cium emangnya?!“. Kata Bagas sambil mendekati Devan.
”Aaaa …hehehe“. Balas Devan, kini Ia tahu apa yang akan dilakukannya.
”Ha nah ni ketek gue! Bagaimana heh? Wangi semerbak bukan?! “. Balas Bagas, Ia mendekatkan keteknya ke Devan dan semakin mendesaknya. Devan mencoba menghindar, ya tapi Bagas semakin mendekatinya. Angga hanya tertawa kecil melihat kelakuan mereka.
”Andai ada kamu Lan. Kamu pasti ikut bertingkah seperti mereka. Ku harap …kau akan segera sadar dan dapat menikmati waktu bersama. Dan ku berjanji, kasus ini akan selesai ditanganku sendiri“. Kata Angga dalam hati. Ia tetap mencemaskan Dilan yang masih kritis. Dan Ia masih dendam akan kejadian yang menimpa sahabatnya.
Sementar diluar koridor, terdapat satu geng preman dari kakak kelas beranggota 4 orang datang menuju kelas 2A. Sontak semua murid yang di ada dikoridor syok dan panik akan kedatangan mereka. Kengerian mereka diatas gengnya Bagas, karena mereka adalah …..