
“Hahaha... Lihatlah keuntungan dari yang kita dapat”. Kata Erik yang tak lain bos dari anggota 7 preman. Kini mereka telah berada pada bangunan toko yang terbengkalai, telah menjadi hal yang wajar anggota kepolisian tak menemukan mereka karna wilayah tersebut terpencil.
“Bos, apa makhluk itu menipu kita”. Tanya anak buahnya yang bernama Ter. Kini, terlihat hanya mereka berdua didalam gedung itu dan sedang duduk diatas motor.
“Ha, apa maksudmu”. Tanya Erik.
“N_ngak, maksudku, kau ingat apa yang dikatakan makhluk itu, saat pertama kali kita bertemu dengannya? ”. Tanya Ter. Erik pun teringat, akan kejadian mereka bertemu dengan Drageors.
...*****...
Ya, pada saat itu, Erik dan beberapa anak buahnya melarikan diri karna telah merampok di sebuah bank besar hingga sampai membunuh 6 orang petugas dan 3 pengunjung, hingga anggota kepolisian hampir saja menangkap mereka. Saat melarikan diri, mereka bersembunyi dibawah gorong-gorong yang agak jauh dari kota.
Dalam keadaan panik dan was-was, secara tiba-tiba, sebuah bisikan mengerikan menyapa mereka. Mereka kembali panik, dan terlihat, sesosok bayangan hitam pekat, mata yang terlihat mengerikan dan juga mirip dengan seorang pria yang umurnya rata-rata hampir sama seperti Erik.
Makhluk itu berkata.
“𝘛𝘶𝘳𝘶𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘱𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵”.
“A_apa maksud lo hah! Siapa lo! ”. Balas Erik sambil mengajungkan sebuah pistol ditangannya kearah Drageors dan diikuti juga oleh anak buahnya. Drageors santai saja berjalan kearah mereka, merasa terancam, Erik langsung menembak makhluk itu dengan peluru yang keluar dengan secepat kilat tapi, tak akan mampu menyentuh makhluk itu, Drageors meluruskan tangan kanannya dan...
𝘚𝘵𝘳𝘢𝘴𝘩!...
Peluru tersebut tertepis dan mengenai salah satu anak buah Erik. Mereka seketika tegang dan kaku. Drageors tertawa dengan suara yang cukup keras dan mencekam, dan dengan santai melangkah kearah Erik. Erik dan yang lain tak dapat menggerakkan tubuh mereka karna hal ketakutan yang menjalar dan mengurung mereka.
“𝘐𝘯𝘨𝘢𝘵, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘶, 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘪𝘯𝘵𝘢𝘩𝘬𝘶”.
Kata Drageors dengan tatapan tajamnya kearah mereka.
“A_apa mau mu hah!. Enyah lah! ”. Teriak Erik.
“𝘏𝘦𝘩, 𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘯𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘱𝘪𝘬𝘪𝘳 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘯𝘶𝘴𝘪𝘢 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢, 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩, 𝘦𝘨𝘰𝘪𝘴 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘳𝘢𝘬𝘢𝘩”. Balas Drageors sambil memegang pinggangnya.
“Apa yang kau mau hah! ”. Balas Erik.
“𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘰𝘩 𝘺𝘢, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘬𝘪𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘥𝘢”. Katanya dengan nada yang serius.
“Hah, dasar makhluk brengsek, lo pikir gue babu hah”. Balas Erik memberanikan dirinya sedangkan anak buah, hanya diam memperhatikan atasan mereka.
“𝘛𝘦𝘳𝘴𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘳𝘯𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘶. 𝘋𝘢𝘢𝘯... 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶, 𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘶𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘫𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬, 𝘩𝘦𝘩𝘦... 𝘉𝘪𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘯𝘺𝘢𝘸𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘢𝘨𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘦𝘩𝘦 𝘏𝘈𝘏𝘈𝘏𝘈𝘏𝘈”. Katanya semberi tertawa menyeramkan.
Mendengar hal itu, Erik lalu terpancing, ya mana ngak mau, kalo menolak, ya bakal mati, kalo menerima ya... Kenikmatan pun terjadi.
Erik pun menyetujui dan bersepakat. Drageors cukup senang akan rencananya.
Drageors pun, menyuruh mereka untuk membuat aura gelap dari batin biru akan bangkit. Oleh karna itu, Erik merencanakan untuk membunuh orang yang Angga sayangi seperti, Dilan.
...****...
“Lalu, kenapa”. Tanya Erik kembali setelah mengingat kejadian yang lalu.
“Kurasa, makhluk itu... Tak memegang janjinya, contohnya seperti kasus pembunuhan pada Jons Anggota kita”. Jelas Ter.
“Hahh, kau masih saja memikirkan itu, kita kebal, apa yang jadi masalah hah... ”.
𝘋𝘢𝘴𝘩!....
Ditengah pembicaraan, terdengar suara keras, seperti ada seseorang yang melempar sesuatu di depan. Erik dan Ter seketika syok namun, mereka harus memikirkan dalam keadaan positif.
“Rethan! ”. Panggil Erik yang mengira itu salah satu anak buahnya lalu,...
𝘋𝘢𝘴𝘩!...
Kembali bersuara. Erik dan Ter pun memberanikan diri, mereka pun melangkah kearah suara dan bejaga-jaga sambil menggenggam erat sebuah pistol ditangan.
Saat hampir tiba diambang pintu, alangkah syoknya mereka saat melihat 3 mayit yang terletak sembarangan tempat dengan mata yang putih dan mulut yang termanga
Ter langsung kaku, Ia kembali gemetar ketakutan sedangkan bosnya, terlihat waspada sambil mengarahkan pistolnya didepan.
“Drageors! Apa telah lo lakuin hah! telah melakukan semua keinginan lo! Napa lo ngak .... ”.
“𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢... 𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢... 𝘒𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘬𝘢𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯? 𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘳𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘩𝘶𝘸𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢”.
Jawab makhluk itu tapi, tanpa terlihat wujud. Erik dan Ter langsung waspada.
“𝘛𝘪𝘢𝘱 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘵𝘪𝘢𝘯”. Dan ini, 50% suara berubah, terdengat seperti suara Angga, cukup mencekam.
𝘛𝘳𝘢𝘴𝘩!
“Akh! ”.
𝘉𝘳𝘢𝘬!
Satu serangan keras dan cepat dari belakang hingga Ter terlempar dan terpental jauh hingga terbentur tembok dan besi-besi yang ada di atas langsung menimpa badannya. Erik syok, Ia lalu membalikkan tubuhnya kebelakang dan ternyata.... Sesosok Angga yang terjiwai dengan aura kegelapan. Angga berdiri merunduk, rambut hitamnya berantakan dan matanya yang ter perban hingga menambah aura yang mencekam.
Ia menggerang giginya kesal, lalu, mengeluarkan sebuah pisau dan berlari kearah Angga untuk menyerangnya.
...****...
Dalam keadaan yang was-was, Devan semakin yak tenang dengan kondisi yang kian memburuk, apalagi Dilan bahkan keluarga. Karin telah menghubungi anggota kepolisian tapi, tetap saja itu membuat mereka masih gelisah.
Lalu, Devan teringat dengan bangunan toko yang terbengkalai yang pernah membuat Ia curiga saat melihat sesosok Dilan berdiri disana.
“Apa mungkin”. Kata Devan.
“Ada apa Dev”. tanya Dilan cemas yang melihat Devan.
“Aku teringat akan kejanggalan ditoko yang terbengkalai itu, apa mungkin Ia disana”. Jawab Devan yang membuat Dilan syok dan tak mengerti.
“Apa maksud mu”.
“Itu tak penting, ku akan mengikuti kata batin ku sendiri”. Jawab Devan dan melangkah pergi keluar lalu, Dilan menarik tangannya.
“Dev, gue juga ikut”. Pinta Dilan bermohon.
“Lan, gue ngak mau liat kondisi lo lagi parah gini, gue janji bakal jaga Angga tapi lo perhatiin kondisi lo dulu Lan”. Mohonnya.
“Dev, gue tahu tapi, gue ngak mau liat sahabat kita begini Dev, walau gimana pun, kita kan berjuang sama-sama, kau tak ingat apa kata-kata yang bermakna dari gelang ini”. Kata Dilan sambil menunjukkan gelang bertali hitam ditangan mereka yang membuat Devan tercengang.
“Kau masih ingat? Kau masih ingat janji dari gelang ini? ”. Lanjut Dilan yang membuat mereka teringat akan kejadian masa lalu dimana, persahabatan pertama mereka dimulai.
*****
Mereka teringat akan moment mereka saat masih kelas 3 SD.
“𝘐𝘯𝘪 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢, 𝘱𝘢𝘬𝘢𝘪”.
“𝘞𝘰𝘸, 𝘵𝘩𝘢𝘯𝘬𝘴 𝘌𝘷𝘢𝘯”.
“𝘔𝘦𝘯𝘨𝘢𝘱𝘢 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨? ”.
“𝘌𝘦𝘦... 𝘔𝘢𝘬𝘴𝘶𝘥 𝘮𝘶? ”.
“𝘒𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯, 𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨. 𝘈𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘢𝘮𝘦𝘳 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯? 𝘉𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴𝘢𝘯, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨”.
Kata Angga, dua sahabatnya ini hanya tersenyum, meski kata Angga tadi terdengar dungu, tapi, itu memang benar dan berarti. Ya, untuk apa memakai gelang persahabatan jika hubungan pertemanan saja ngak beres.
“𝘏𝘢𝘩𝘢𝘩𝘢, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳. 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵 𝘬𝘶, 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘪𝘮𝘣𝘰𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢”. Jawab Devan sambil tersenyum.
“𝘓𝘪𝘩𝘢𝘵, 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘭𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘯𝘫𝘢𝘯𝘨, 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨... 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘭𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢, 𝘵𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴, 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘶𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘱𝘵𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘢𝘬𝘳𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯”. Kata Devan sambil tersenyum ke arah dia sahabatnya ini. Angga seketika termenung, Ia mulai mengerti, apa itu.... Sahabat.
...*****...
“Heeh... Baiklah”.
Setelah memikirkan, dengan berat, Devan mengizinkan Dilan untuk mencari Angga bersama. Mereka pun menghidupkan motor milik Arga yang terparkir disana. Suara motor yang melesat pergi membuat Karin dan yang berada dirumah syok, mereka memanggil-manggil, namun... Dua remaja ini tak mempedulikannya.
...******...
Rangga, Arga dan yang lain mulai kebingungan, entah kemana Angga pergi. Dengan nafas yang ngos-ngosan yang dihantui oleh rasa panik, tiba-tiba, ponsel Usman berdering panggilan dari adiknya, Dilan.
“Ada apa Lan! ”.
“𝘒𝘢𝘬, 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦 𝘨𝘦𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘵𝘰𝘬𝘰 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘦𝘯𝘨𝘬𝘢𝘭𝘢𝘪 𝘪𝘵𝘶”. Jawab Dilan yang diiringi dengan suara motor yang dibawa oleh Devan.
“Toko itu?! Kau lagi apa woi! Jangan macam-macam ya! ”.
𝘛𝘶𝘶𝘵 𝘵𝘶𝘶𝘵 𝘵𝘶𝘵...
“Dilan! ”. Panggil Usman tapi, apa gunanya, Dilan telah menutup panggilannya duluan.
“Ada apa”. Tanya Ayahnya.
“Dilan mengatakan kalau Angga berada di sebuah gedung yang terbengkalai itu, sepertinya.... Dilan dan temannya pergi memeriksanya”. Jawab Usman dengan nafas yang sesak dan tentu, masalah semakin bertambah.
Lalu, ayahnya Angga melihat Rangga dan yang lain berada dijalan kota, beliau pun menghentikan laju mobil.
“Ayah?! ”. Seru anaknya.
“Dimana Angga?! ”. Tanya sang ayah sambil memegang kedua bahu anaknya.
“Pak, kita sekarang menuju ke gedung terbengkalai itu, kemungkinan Angga disana. Kami pun telah menghubungi anggota kepolisian untuk membantu”. Kata ayah Devan, dengan keadaan syok, seakan-akan telah terkena serangan jantung rasanya.
“Baiklah! ”. Jawab Gidran. Rangga, Arga dan ayahnya Devan pergi dengan beliau dan Usman beserta sang ayah langsung pergi mengendarai motor.
...****************...