The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Luka



Kau baik-baik saja”. Kata Rangga sambil mendekati adiknya. Angga tidak menjawab, sekilas tubuhnya tampak lemah karena kejadian tadi. Meski Rangga tidak mengetahui apa yang dilakukan Angga di kamar mandi, Ia juga dapat mengerti dan menanggapinya. Ia pun memeluknya agar tetap tenang.


“Tenanglah Angga ….jangan khawatir ….”. Kata Rangga sambil memeluk dan tersenyum ke arahnya. Angga tetap tidak menjawab.


“Bersihkan dirimu dulu ….jangan berpikir yang aneh-aneh”. Katanya sambil meninggalkan Angga.


Setelah membersihkan dirinya, Angga memasuki kamar dan mengobati luka yang ada ditangannya tadi. Tak lama kemudian, Devan menghubunginya.


Angga pun mengangkatnya, “waàlaikum salam, ada apa ….”. Kata Angga sambil menahan kesedihannya. Terdengar suara tangis Devan yang tersedu-sedu disana. Angga pun mulai menjatuhkan air matanya.


“Ga ….apa Dilan …._____”. Jawab Devan diiringi dengan tangisnya.


“ya ….. semua ini salahku ….maaf ….”. Balas Angga yang menahan tangisnya.


“tidak Angga …kau bukan bagian dari ini”. Balas Devan.


“aku pemilik batin yang tidak berguna Dev….penyebab masalah …”. Kata Angga.


Ketiga kakaknya yaitu, Rangga, Karin dan Arga mendengar percakapan mereka dan membuat mereka khawatir.


“tenangkan dirimu kawan ….aku yakin …Dilan akan baik-baik saja”. Kata Devan menenangkannya. Angga tidak dapat menjawab karena dadanya yang sesak.


“Ga …aku tahu kau disana …kumohon …jangan menangis ….kau tidak sendiri kawan …. Kita bantu doa bersama oke”. Kata kembali Devan dengan suara tangis yang begitu jelas terdengar.


Angga menundukkan kepalanya, air mata terus mambasahinya.


“baiklah …tidak baik untuk selalu membahasnya ….bagaimana kalau kita istirahat dulu …kumohon ….jangan khawatir …baiklah sampai jumpa …”. Kata Devan, Ia pun menutup telfonnya.


Angga pun duduk di kasurnya dan menutup wajahnya, air matanya terus mengalir. Kakaknya yang melihatnya di balik pintu kamarnya, mencoba masuk ingin menenangkannya, tapi dicegah oleh Rangga.


“Biarkan Ia menenangkan dirinya dulu ….”. Kata Rangga, kedua adiknya Karin dan Arga menanggapi. Tiba-tiba terdengar suara yang mengetuk pintu. Mereka pun menuju ruang tamu dan meninggalkan Angga di kamar.


Saat membuka pintu, ternyata tiga anggota kepolisian yang datang dan meminta keterangan dari saksi tentang kejadian tadi.


Keesokan paginya, Angga kelihatan lebih dari beda, Ia terlebih banyak diam dari tadi malam. Kini, tidak ada lagi yang berangkat sekolah dengannya kecuali, adiknya Kaila. Adik dan keluarganya tak tega melihat Angga seperti itu.


Sesampainya disekolah, semua murid seperti biasa memperhatikannya. Berita tentang pembunuhan yang terjadi pada Dilan telah tersebar, semua beranggapan Angga dibalik semua ini. Meski tak tahan, Angga tetap memasuki kelasnya.


Angga pun duduk di bangkunya, Mulan, Sara, Jian, dan Jesika datang menghampiri Angga. Mereka tidak bertanya tentang kejadian tadi malam, karena mereka tidak mau membuat Angga memikirkannya.


“Angga …bagaimana keadaan mu”. Tanya Jesika menghibur, Angga tidak menjawab.


“Sekarang dia sendiri loh …tu ditemenin sama anak cewek”.


“Devan dah pindah karena pekerjaan orang tuanya terganggu …..Dilan hampir meninggoy karena terbunuh ….apa ini semua karenanya ….”. Ucap salah satu murid yang bernama, Dika dan Sejan.


“Apa …..coba sekali lagi gue gak dengar!!! ….dasar bangsat! …beraninya kalian membicarakannya seperti itu ….apa hak kalian heh!! ….”. Kata Jesika marah.


“Alahh ….sok pembela banget …biarlah kan memang watak anak batin seperti itu ….lihat! ..Bagas saja tidak sekolah karena kejadian kemarin …..ulah siapa …..heh siapa! ….. KAN KARENA DIA!!”. Balas Dika kasar. Angga yang mendengar hanya mengeramkan tangannya.


“Diam!!”. Kata Mulan yang mulai angkat pembicaraan. Semua menoleh padanya.


“Apakah kalian tidak memiliki hati dan pemikiran sedikit pun ….Angga sedang dalam masalah …temannya terutama Dilan yang sedang dirawat. Kalian disini …datang untuk menghinanya ….dimana hati kalian heh ….”. Kata Mulan.


“ woi …lo cuma anak baru disini ya! Ngak usah sok ikut campurlah!”. Balas Dika.


“Aku bukan mau ikut campur ….aku cuma mau bilang doang …walau Angga seperti ini …Ia juga manusia, Ia juga memiliki hati dan perasaan ….”. Kata Mulan yang membuat Angga menoleh kearahnya.


“Yaelah …bilang aja kalo suka napa”. Kata Dika.


“Kalian ini ….”. Teriak Jian.


Tak lama kemudian datanglah pak Ridwan memanggil Angga keruang kepala sekolah. Semuanya heran, Mulan dan tiga temannya merasa khawatir.