
“Haha... Gila banget lo bego haha”.
Diantara tempat-tempat yang sepi, 3 pria ini sedang menikmati air yang menyenangkan bagi mereka. Ya, bicara asal apa yang terlintas di kepala tapi jelasnya pun ngak.
Yang pasti! Mereka tak mengetahuinya siapa tamu spesial yang akan mendatangi mereka.
...××××××××××...
“He he he he.... Boleh gabuung”. Satu suara yang dapat menaikkan hawa mistis dalam 5 menit pun terjadi. Ketiga pria ini syok saat melihat lelaki didepannya, pose berdiri, kepala yang merunduk, rambut menutupi wajah dan seram.
“Heh... Woi! Bocah macam apaan lo”. Kata salah satu dari mereka dengan ucapan pikiran seadanya, ya kan lagi mabUuuuk! 😒.
Angga tertawa seram dan memperlihatkan mata biru yang menampilkan sedikit bercahaya ditempat gelap hingga, dapat menyadarkan 3 pria bahwa, mereka akan menikmati karma mereka.
Mereka termanga, diam dan kaku melihat bocah incaran mereka yang kini akan membalasnya.
“Haha... Apa kabar. Salam kenalan”. Kata Angga lalu, Ia sedikit mengangkat tangan kanannya dan menggeram!
“Hakh!.... ”.
Hal tersebut langsung dapat mengangkat para pria itu keatas dan mencekik mereka. Angga menggeram gigi putihnya dan semakin menguatkan cekikan dan...
𝘒𝘳𝘦𝘬!...
Tulang leher patah, tubuh pucat, mulut termanga, mata terbuka, bola mata putih dan tiadanya nyawa. Angga melepas cekikan dan 3 mayat itu jatuh berhamburan.
Angga menutup matanya dan kembali membukanya yang seketika mata Yang biru yang dibalik perban kembali hitam namun, tidak dengan kesadarannya, Ia lalu memegang mayat tersebut untuk melanjutkan rencana selanjutnya.
...**********...
Mulan tertidur didalam kamarnya tiba-tiba, ada hal yang Ia rasakan yang membuat Ia tak bisa tidur dan akhirnya terbangun. Ia memegang lehernya yang mulai merasakan aura aneh yang terjadi.
Lalu, buku disampingnya, yang terlihat kuno, bersampul tebal berwarna coklat tiba-tiba saja...
𝘋𝘳𝘢𝘱!...
Terjatuh dengan sendirinya. Mulan syok dan kaget melihat buku kuno itu jatuh dari mejanya. Mulan pun mengambil buku itu lalu...
Terlihat corak lingkaran permata biru bercahaya hingga membuat Mulan syok akan pertanda suatu hal yang buruk. Ia reflek dan terjatuh dari kasurnya.
“Ini.... Tidak mungkin... Terlambat”. Ucap Mulan syok dan panik karna Ia mengetahui bahayalah yang akan menghampiri Angga.
Cahaya biru dari permata itu berterus berkedap-kedip, Mulan dengan cepat mengenakan jaket merahnya dan kabur dari jendela.
...*****...
Dilan mulai merasa ada hal yang aneh kan terjadi, Ia tak bisa tidur. Entah apa yang menggaung dan melayang dipikirannya, benar-benar membuat Ia gelisah.
“Heh, napa perasaan ku tiba-tiba ngak enak gini ya. Astaghfirullahalazim, yaAllah jauhkan segala keburukan yang terjadi”. Kata Dilan cemas sambil membuang nafasnya yang sesak.
“𝘒𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯? 𝘏𝘦𝘩𝘦.. 𝘛𝘦𝘮𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘢𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬-𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘩𝘢𝘩”. Kata sesosok makhluk yang tak lain adalah Dregreos. Dilan seketika tercengang, badannya seketika kaki tak dapat bergerak karna secara tiba-tiba, Ia masuk ke dunia lain seperti ruangan yang cukup gelap.
“K_ka_kau”. Kata Dilan terbata-bata saat melihat Dregreos di depannya.
“Apa kabar Dilan, bagaimana keadaan mu heh”. Jawab makhluk itu ketus.
“Apa yang akan kau lakukan! ”. Kata Dilan murka karna makhluk itu telah macam-macam dengan sahabatnya.
“Tenanglah... Hehe”.
𝘻𝘶𝘩....
Makhluk itu menampakkan mata birunya dan seketika, Dilan dengan jelas dapat melihat apa yang akan dilakukan Angga dengan sekilas dan sekejap, Ia kembali dari kesadarannya.
“Ngga”. Ucapnya. Ia pun mengambil resiko. Dilan lalu mencabut impus yang ada pada tangan kirinya yang seketika, kakaknya terbangun dan syok atas kelakuan adiknya.
“Dilan apa yang kau lakukan! ”.
“Lepaskan! ”.
Berontak Dilan hingga kedua orang tuanya pun terbangun.
“Bu, Ayah, Angga dalam bahaya”.
“Dari mana kau mengetahui nya! ”. Tanya sang ayah syok.
“Itu tak penting yah, aku melihatnya”. Tegas Dilan.
“Nak, tapi kondisi mu itu belum normal kak, biar ayah yang pergi ya”. Cegah sang ibu sambil memegangnya.
“Tidak bu! Lepaskan Dilan AKH! ”. Kata Dilan, saat turun, baru menopang tubuhnya saja Dilan seketika langsung terjatuh karna pedihnya dibagian perut belum mereda ditambah dengan kondisi tubuhnya yang belum stabil.
“Dilan, biar ayah yang mengurus ini”.
“Lepaskan! ”.
“DILAN! ”.
Dilan langsung melesat lari keluar dari rumah sakit, dengan menahan sakit yang pada perutnya, tak ada kata halangan dan tidak baginya untuk menolong sahabatnya itu.
Usman dan ayahnya langsung berlari mengamankan Dilan. Pak satpam, penjaga rumah sakit sedang tertidur, Dilan tak kuat dalam larinya, perutnya tak kuat menahan tekanan paksaan dari tubuhnya.
Dilan melihat di posko, terdapat 3 orang bapak ojek yang sedang tertidur pulas disitu. Dilan berusaha berjalan dan menghampiri bapak itu.
“Pak pak saya mohon tolong pak”.
“Astaghfirullah ada apa kak! ”. Bangun menerima syok saat melihat Dilan panik seperti dikejar setan.
“Pak, saya mau pinjam motornya ya pak, saya mohon”. Pinta Dilan.
“I iya, tapi kenapa nak. Tubuh kamu pucat lemah gitu, gimana bapak aja yang anter kamu”. Kata beliau cemas.
“Baik pak, cepet ya pak”.
Dilan pun langsung pergi dengan ojek dan tak berapa lama dari itu, ayah dan kakaknya berada diluar rumah sakit. Sang ayah pikirannya mulai panik, beliau pun melihat posko dan menghampiri bapak-bapak tersebut.
“Pak, apa kalian, liat seorang anak lelaki yang setinggi ini? ”. Tanya ayah Dilan dengan menyebutkan ciri dari anaknya.
“Duh, pak. Tadi dia keliatan panik. Jadi tadi udah pergi dengan salah satu dari teman kami pak”. Jawab salah satu dari mereka yang membuat Usman dan ayahnya syok.
“Yah, kemungkinan menuju rumahnya Angga, tak lain, pasti tujuannya disana”. Sahut Usman yang membuat dang ayah mengangguk.
...****...
“Disini aja pak, terima kasih ya pak”.
Ucap Dilan dan menuruni ojek ini. Pak ojek itu pun langsung pergi dan tentunya Dilan lansung ke rumahnya Angga.
Devan semakin cemas, Ia duduk semberi memegang kepalanya. Jantungnya berdetak kencang, bahkan berdiri saja Ia tak kuat untuk menopang tubuhnya sendiri.
“Assalamu'alaikum! ”.
Terdengar suara salam yang terlihat panik yang tak lain dari Dilan, sontak demua ikutan syok. Dilan yang kini melemah, hanya bisa menyender tubuhnha didinding.
Devan langsung menghampiri sahabatnya itu. “Dilan, kamu kabur dari rumah sakit! ”.
“Itu tak penting, Dimana Angga”. Tanya Dilan yang membuat disekitarnya ikutan bingung, bagaimana Ia mengetahui kalau Angga sedang dalam tragedi besar. Semuanya pun diam, Devan sendiri tak dapat menjawab atau menjelaskan apa-apa, apalagi kini Dilan begitu khawatir sampai-sampai kabur dari rumah sakit.
“Dev”. Panggil Dilan khawatir berharap Sahabat nya akan menjawab.
Lalu, Usman dan ayahnya pun tiba dengan menaiki motor sport warna hijau, miliknya Usman. Dengan panik mereka langsung menghampiri Filan yang dirangkul oleh Devan.
“Dilan, kau gila apa! Kondisi mu belum stabil untuk gini Lan”. Sergah kakaknya, Usman.
“Akh ngak peduli”. Jawab Dilan.
“Nak, kami tahu gimana perasaan mu, tapi jangan sampai gini juga nak”. Sahut ayahnya.
“Ayahmu benar, kondisimu lagi berat gini diperhatiin dulu... ”.
“Aku tak peduli. Sekarang katakan dimana Angga! ”.