The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Petunjuk



Dimana disana, masih ada beberapa anggota kepolisian yang sedang menyelidiki.


“Hey Nak …sedang apa kamu disini malam-malam?!”. Tegur seorang polisi yang telah mengenal Angga.


“Eee …”.


“Sebaiknya kau pulang saja, jangan khawatir …kami akan berusaha mengungkapkan kasus ini”. Kata pak polisi, Angga pun mengangguk berharap.


“Pak …bisakah anda kesini sebentar”. Panggil rekannya, beliau pun menuruti.


Tapi, Ada hal yang dilihat oleh Angga di antara para petugas. Dimana dibelakang para petugas terlihat sesosok Dilan yang berdiri, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Angga. Sosok tersebut seperti menyuruh Angga untuk mendekatinya, Angga pun mendekat pada sosok Dilan tersebut.


“Aku tahu kau juga tidak terima atas apa yang terjadi, tapi tolong jangan sampai bergentayangan seperti ini”. Kata Angga, Dilan hanya diam melihat Angga, lalu Ia menunjuk sesuatu di antara dinding yang gelap.


Angga pun mengambil sebuah benda yang ditunjuki sosok Dilan itu, dan ternyata, benda tersebut berupa sebuah kunci sepeda motor. Lalu secara tiba-tiba, matanya berubah menjadi biru dan Angga menuju ke penglihatan batinnya, yang dimana Ia melihat seorang pria dengan kumis melintang di wajahnya dan terdapat sebuah goresan di bagian kelopak matanya.


Disana terlihat, pria dan 6 anak buah yang lain, sedang mengepung Dilan. Pertama, Angga melihat seorang anak buah pria tersebut menutup mulut dan hidung Dilan dengan menggunakan kain yang dicampur dengan obat bius. Meski terhirup, Dilan dapat mencegahnya dan dapat membalas pukulan beberapa penjahat yang lain.


Lalu, bos dari anak buah tersebut membenturkan kepala Dilan ke dinding hingga mengeluarkan darah. Dilan bangkit berdiri lalu membalas pukulannya dan mengenai bibirnya hingga terluka. Dilan pun mencoba kabur, tapi tubuhnya lemah karena menghirup obat bius dan juga dikepung oleh para pria jahat tersebut.


Lalu bos penjahat tersebut mencekiknya dari belakang dan berkata, “Aku akan menghabisi mu …untuk temanmu”. Katanya pria tersebut dan menusuknya. Tak berapa lama kemudian, Angga bangkit dari kesadarannya, matanya kembali normal, kepalanya sakit, nafasnya sesak, jantung berdetak kencang dan juga keringat yang membasahinya. Seketika sesosok tersebut pun menghilang.


Angga lalu bergegas memberikan barang bukti kepada petugas tapi, mereka juga telah menemukan sebuah kain yang bercampur obat bius di tempat kejadian, seperti yang Angga lihat di penglihatannya.


“Pak …apa bapak menemukan kain itu disekitar sini?”. Tanya Angga dengan nafas yang tersengal sesak.


“Ya …”. Jawab petugas.


“Nak …darimana kamu mengetahui itu”. Tanya petugas.


“Saya melihatnya pada penglihatan saya pak”. Jawab Angga.


“Nak …kamu bercanda …tapi maaf, kami tidak bisa mengambil bukti dari rekayasa penglihatan mu itu”. Jawab petugas yang tidak percaya.


“Tapi pak ….”.


“Nak maaf, kami disini sedang berusaha, jadi kamu pulang dan istirahat dulu. Kami janji, kasus ini akan selesai”.


Angga tidak dapat menjawab apa-apa, akan sangat sulit jika dijelaskan melalui penglihatannya ke orang lain. Ia hanya menghembuskan nafas panjangnya dan pulang.


Sesampainya dirumah, sang ayah melihat raut wajah putranya yang berubah drastis. Ia juga tidak melihat barang yang Ia mau beli


”Nak …kamu ngak beli perlengkapan mu. Kok kamu kesal gitu?“. Tanya ayah.


”Ah …eee …tidak, perlengkapannya sudah tidak ada lagi, jadi …Angga kesal sudah cari sana sini ngak ada“. Alasan Angga.


”Emang mau cari apa?“. Tanya Ibunya.


”Eeemmm …“. KRIIIIIINGGG!!. Bunyi panggilan dari tempat kerja ayahnya.


”Eee …baiklah Angga masuk ke kamar dulu“. Kata Angga agar ibunya tidak bertanya kembali. Kaka-kakaknya pun sangat curiga akan kelakuan Angga, termasuk adiknya. Mereka berpikir, Ia pasti menyembunyikan sesuatu.