
Angga semakin dekat, Ia menatap Robin dengan mata birunya yang agak tertutup dengan rambutnya yang menambah aura keseraman padanya. Semua termanga tak dapat mengeluarkan suara,Bobi dan Qira ( anak buah Bagas yang lain) membantu Devan berdiri.
“Hehehehe …sekarang! Siapa yang menjadi Bangsat. Aku, atau kau! Kak ROBIN!!”. Kata Angga dingin dan ….
SUKK!! …
Pisau tajam itu melayang kearah Robin, tapi dengan cepat Ia menghindar hingga hanya terkena lemari kayu dibelakangnya. Sontak semua murid termasuk sahabat dan temannya berseru ketakutan. Mereka seperti melihat hukuman, atau aksi pembunuhan didepan mata.
“Hei! Mengapa?! Kau takut ?!”.
TAK!! …
Kata Angga dan kembali mencoba menusuk Robin. Tapi, Robin dengan cepat menagkap tangan Angga. Angga semakin menjadi-jadi, Ia semakin menekan serangan dengan kuat yang membuat Robin semakin melemah.
Semua mulai panik, Devan mencoba melepas pegangan dari Bobi dan Qira. Tapi, Ia terjatuh karena kakinya terkilir. Devan tak menyerah, Ia bangkit berdiri dan berlari menuju Angga meski kakinya sakit.
“Angga hentikan! Sadarlah!”. Seru Devan sambil menarik tangan Angga yang mencoba membunuh Robin.
“Lepaskan!”. Tegas Angga sambil melawan Devan.
“Angga sadarlah …ini aku Devan”.
“Lepaskan!”.
GEDUBRAK!! …
Lalu, Devan terjatuh karena didorong Angga. Angga melanjutkan misinya, Ia kembali melayangkan pisau ditangannya ketubuh Robin.
Devan kembali bangkit berdiri, dan berhasil menangkap Angga. Ia memeluk Angga agar tak memberontak. Tapi, sahabatnya masih belum sadar, Ia berusaha melepaskan diri dari sahabatnya. Semua panik, apalagi Robin sebagai sasaran pertamanya.
Mulan yang melihat Angga semakin tak terkendali langsung menghampiri. Angga semakin meronta-ronta dan pegangan Devan pun terlepas. Lagi-lagi saat menyerang, Devan dapat menghentikannya. Tapi, tangan kanan yang memegang pisau lanjut menyerang dan …
ZAP!! …
Disambar oleh Mulan. Semua berseru syok. Devan dan Mulan kembali fokus menyadarkan Angga.
“Angga! Bangun Angga. Sadarlah!“. Kata Mulan sambil berusaha merebut pisau dari tangan Angga.
Angga semakin menjadi-jadi, Ia dengan kuat mendorong Mulan dan Devan hingga terjatuh.
”Mulan!“. Teriak temannya.
”Kamu ngak apa-apa?!“. Tanya Jian panik, Mulan hanya menggeleng.
Bagas dan yang lain membantu Devan berdiri. Angga yang masih belum sadar memalingkan pandangan ke arah Devan yang bangkit berdiri. Mulan memperhatikan dan mempunyai satu cara.
”Devan berusahalah menyadarkannya. Dan tataplah mata Angga“. Tegas Mulan. Devan mengangguk mengerti. Teman-temannya yang lain sedikit heran pada Mulan yang sedikit mengetahui tentang Angga.
”Angga cukup! …sadarlah dirimu!“. Kata Devan, Angga kembali menatap kearahnya dengan tajam dan senyum seram. Ia lalu maju kearah Devan dan siap menyerang dengan pisau. Semua benar-benar syok dan berteriak.
Devan terdorong hingga tersudut ketembok. Angga menyerang pada bagian leher sahabatnya. Tapi, Devan dapat menahannya, Angga semakin kuat dan Devan semakin berusaha.
Bagas dan 4 temannya menyusul. Bagas lalu membantu Devan, Ia menarik tangan Angga dan bayangan disekeliling Angga menghentikan Bagas dengan serangan tak terlihat. Bagas terpelanting jatuh, lalu temannya membantunya.
Sekarang, hanya Devan yang harus menghentikan sahabatnya sambil menahan serangan pisau yang ingin mendarat di lehernya.
”…. Angga! Sadarlah ini aku! De …van“. Kata Devan sambil menatap sahabatnya. Keringat membasahi tubuhnya Ia mencoba menahan serangan tersebut.
”Ku …mohon Angga“. Lanjut Devan.
Tak berapa lama kemudian, Dika, pak Ridwan, dan pak Salman dan temannya datang. Sang Guru syok melihat kelas seperti baru diterjang badai, murid kelas 3 dan muridnya terluka parah, dan terlebih tak sadarkan diri ingin membunuh sahabatnya.
”Angga! …“. Seru pak Ridwan sambil berlari menyampiri Angga, tapi Mulan mencegah gurunya. Ridwan dan Salman melihat Mulan yang seperti mengetahui segalanya.
Sedangkan Angga masih terus berusaha menusuk Devan. Devan terlihat kelelahan, nafasnya tak teratur dengan keringat membasahi tubuhnya.
”Apa yang kita lakukan?!. Kita harus menghentikannya!“. Seru pak Salman panik.
”Pak! Biarkan Devan mengurusnya, atau tidak, itu akan memancing emosi Angga kemana-mana“. Tegas Mulan, semua berpaling kearahnya. Mereka berpikir, bahwa Mulan dan Angga memiliki kesamaan diantara mereka. Salman dan Ridwan mencoba untuk mempercayainya.
Situasi semakin menjadi-jadi, guru yang lain pun ikut menyaksikan. Mereka semakin khawatir akan keadaan Angga.
”Angga kau dengar aku Angga! …aku Devan“. Kata Devan.
”Angga kumohon sadarlah!. Apa kau ingin menjadi seperti ini terus“. Lanjut Devan sambil terus melihat Angga yang sedang dikuasai oleh sesuatu.
”Hahahaha …kalau ya kenapa …kau mau mencoba menghentikan ku heh!“. Jawab Angga dingin dan terus berusaha menusuk Devan.
”Akh! …kau tega melakukan ini bahkan terhadap dirimu sendiri, kau bahkan ingin membunuh dirimu sendiri tanpa memikirkan orang yang selalu berada disisi mu Angga! …“.
”Diam …tidak akan ada orang yang peduli terhadap apa yang kurasakan selama ini. Bukankah kalian senang saat aku seperti ini bukan hahaha“.
”…. Angga! Jangan pikirkan apa yang mereka katakan. Semua ada untuk mu dan menjagamu kawan“.
Devan semakin menyadarkan Angga meski Ia tampak kelelahan menghentikan tangan Angga. Angga semakin menjadi-jadi, Ia semakin menekan kekuatan serangannya.
”Aku hidup dengan dendam tanpa henti menusukku kau tahu!. Walaupun bagaimana kondisiku nanti, tak akan ada yang peduli walau seujung nyawaku lenyap!“. Balas Angga geram dan mulai menyerang Devan dengan kuat. Tapi Devan dengan cepat mengelak.
Angga senyum seram, dan kembali melangkah ke arah Devan. Devan berusaha mengatur nafasnya dan mengatur posisinya. Kepalanya sakit, tubuhnya lelah. Pandangan didepannya kabur. Pada saat mengarah pandangannya kedepan tiba-tiba …
TAP! ….
Angga kembali mengarahkan pisau ke Devan. Dengan cepat Devan menangkap tangannya. Semua berseru kaget dan syok.