The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Usikan



“Ang....Angga?.... ”. Seru Dilan dengan nafas nya yang sesak.


“Di... Dilan”.


“Apa... Yang terjadi padanya selama ini”. Tanya Dilan yang semakin berharap akan mendapat jawaban dari sahabatnya.


Namun, Devan masih ragu untuk menjelaskan kejadian yang Ia rasakan dan Ia lihat dari Angga, jangankan untuk menceritakannya, mengingatnya saja bikin ngeri.


Semua memperhatikan mereka, terutama Devan, entah Ia sanggup mencerirakannya atau tidak.


“Dev?... Kumohon”. Paksa Dilan, karna melihat sahabatnya yang semakin khawatir, Devan pun menceritkannya dari awal hingga akhir.


***************


“Bayangan... Hitam? ”.


..............


“Siapa kau? Kau bukan Angga! Katakan! Siapa dirimu! ”.


“Huahahahaha! Hahaha! Memang aku bukan dirinya,... Tapi... Bagian dari dirinya hi hihihi”.


“....!? A... Apa maksudmu? ”.


“Aku adalah bagian dari jiwa sahabat mu, makhluk bayangan hitam”.


Sebenarnya, selama Dilan dalam masa kritis, Ia juga pernah bertemu dengan makhluk ini. Ia saat itu berada dalam suatu tempat yang gelap dan hampa tak jelas. Entah Ia menyasar kemana, Dilan dihampiri open makhluk bayangan hitam yang menyerupai sahabatnya.


Devan dan yang lain memperhatikan Dilan yang melamun seperti sedang mengingat sesuatu, terlihat dari perubahan ekspreksi yang pucat seperti ketakutan.


.............


“Aku tak peduli siapa kau! Tapi kumohon Jangan menyakitinya! ”.


“Hahaha!!! Kau manis... Tenanglah... Diriku hanya mengincar jiwa mata batinnya yang begitu kuat akan kekutan magis”.


“.... Jangan bilang... Semua ini karna ulah mu!”.


“Huahahahaha.... Kau pintar juga ya?! Hehe haha hahaha huahahahaha... Iya... Itu ulah ku”. Kara makhluk itu menyeramkan yang membuat Dilan menatap ngeri dan khawatir akan keberadaan sahabatnya.


“Aku memengaruhi para pria itu untuk menghabisi salah satu sahabatnya, dan ternyata... Kaulah sasaran yang paling empuk”.


“Hingga, diriku sukses untuk mengambil alih kendali anak indigo mata biru itu.... Dan kau tahu, aku sukses membuat anak itu lemah dan kehilangan kendalinya... Dan melupakan kalian hehehe hahaha hahahaha!!! ”.


Kata makhluk itu yang membuat Dilan semakin ketakutan hingga membuat nafasnya semakin sesak. Ia benar-benar tak percaya jika kehidupan Angga mulai berantakan.


Makhluk bayangan hitam itu pun, memunculkan bayangannya dan terlihat seperti pemunculan layar hologram. Dimana terlihat bentuk bayangan Angga yang kehilangan kendalinya. Dilan benar-benar tak kuat mendengar atau melihatnnya.


“Ia akan melupakan kalian kau mengerti!! Kehidupannya akan hancur lebur dan menghilang untuk selamanya! Bersama dengan dirinya sendiri Ha! Kau mengerti! Hua Hahahahaha! ”. Kata makhluk itu dengan bayangan yang menyerupai Angga yang hilang lenyap dihadapan Dilan.


“k.... Kau! Dasar makhluk tak berguna! Kuingatkan menjauhlah sebelum kau akan mendapat apa yang harus kau dapatkan An***g!! ”. Teriak Dilan kesal, detak jantungnya semakin berdetak kencang ketakutan dengan apa yang makhluk itu katakan, apalagi hal yang terhubung dengan Angga.


“Heh! Kau hanya manusia biasa, hal ini hanya bisa ditanggapi oleh manusia spesial seperti sahabatmu itu! Ha huahahahaha.... Spesial untuk dijadikan mangsa berhargaku! Hahahaha hahaha”. Balas makhluk itu dengan tawa khasnya. Dilan benar-benar tak tahan, Ia pun mencoba berlari dan menyerangnya tapi....


Makhluk tersenyum Sarah dan memetikkan tangannya, seketika, langkah larian Dilan terhenti saat muncul sebuah pusaran bayangan hitam dibawah kakinya.


ZUH!!!..........


Lalu, muncullah makhluk bayangan lain yang juga menyerupai Angga dengan jumlah banyak, Dilan reflek kaget, sedangkan makhluk itu tersenyum seram.


Beberapa bayangan itu, mengikat dan memegang badan Dilan dan membuatnya sesak. Makhluk bayangan hitam kembali tersenyum dan mulai melangkah meninggalkan Dilan yang terjebak.


“WOI! TOLONG HENTIKAN! KELAKUAN KAU ITU KUMOHON! ”. Teriak Dilan. Ia melihat raja bayangan itu meninggalkannya yang tenggelam.


Makhluk bayangan yang lain menutup mata, wajah, mulut dan yang lain hingga Dilan tenggelam kedalam pusaran bayangan itu tepat para saat Ia sekarat tadi malam.


************


“Lan? Dilan? Kau baik-baik saja? Sakit lagi?” seru Devan yang membuat Dilan keluar Dari Lamunan ingatannya.


“Ha?! Apa? ”. Seru Dilan kaget.


“Ngelamun? ”. Tanya Devan.


“.... Seperti nya... Tapi... Tentang makhluk itu.... Aku pernah bertemu dengannya”. Jawab Dilan yang membuat disekitarnya menatapnya, termasuk keluarganya.


“.... Sepertinya, aku bertemu dengannya saat keadaan ku kritis... Makhluk itu... Yang telah merencanakan semua”.


“Apa!? Terus? Kejadian yang terjadi padamu... Juga karna makhluk itu?! ”. Jawab Devan dengan reflek tak percaya. Yang lain semakin memperhatikan mereka.


“Ya... Ia menyuruh para pria itu untuk menghabisi ku hingga membuat Angga merasa bersalah dan membuatnya hancur dengan bisikan makhluk itu... Hingga... Ia berhasil menjiwai Angga sepenuhnya”.


“Apa!!!? ”. Seru mereka kompak.


“Berarti! Pria yang menghabisi mu saat itu! Kau mengingatnya?!! ”. Tanya kakaknya yang bernama usman.


“Sayangnya tidak.... Tapi, memang mereka melakukan itu karna kemauan makhluk itu”. Jawab Dilan.


“Berati... Mereka berkerja sama gitu”. Sahut Jesika.


“Iya!... Ku yakin, Ia tak akan berhenti hingga Angga benar-benar menghilang”.


“I... Itu tak mungkin. Mengapa Ia begitu kejam”. Kata Jian ketakutan.


“Maaf”. Kata Devan bersalah dengan tundukan Kepalanya, semua memperhatikannya, termasuk Dilan, sahabatnya sendiri.


“Aku tak dapat membantu Angga,... Hingga kau harus mengkhawatirkannya”. Sambung Devan dengan geraman tangannya.


“Dev... Kau ngak bersalah. Ku yakin, Angga akan kembali.... Kita pasti.... Menemukan solusinya oke”. Balas Dilan menenangkannya sambil memegang lembut bahu sahabatnya.


“Dilan benar! ”. Seru Bagas yang memecah keheningan ruangan 060.


“Dev! Kami juga ikut bantu menyelesaikan kasus ini bersama! Iya kan Dilan”.


“?.... Siapa kau? Kalian bertiga,…. siapa? ”. Sahut Dilan kebinguan sambil menunjuk kearah Bagas dan dua anak buahnya Zaki dan Dito. Entah Ia kehilangan separuh ingatannya atau tidak, semua keheranan melihat nya.


“WHAT THE ****! ”. Seru Bagas yang membuat Dilan kebinguan.


“Are you okey guy?! ”. Lanjut Bagas dan memegang dahi Dilan hanga mengecek kalau Ia waras atau tidak.


“Orang... Asing ya? ”. Jawab Dilan kebinguan, sepertinya Ia benar-benar melupakan separuh ingatannya. Semua yang disekitarnya debut syok.


“Lo ngak udah sok lupa pengalaman ya! ”.


“Aneh... Ku pikir emang bule”.


“eeee.... Lan... Di dia Bagas dan dua temannya Raki dan Dito”. Jelas Sarah.


“Ba... Bagas? Raki? Dito? Eeee... Siapa sih! ”.


“Kak kak, Kak Dilan lupa ingatan beneran? ”. Bisik Zaki ke Mulan, tapi Ia hanya menggeleng tak tahu.


“Nak... Kamu ingat siapa mereka”. Tanya sang Ibu.


“Eeee... Ingat. Ini sahabat ku Devan, dan temanku... Jesika, Sarah, Jian.... Mu... Mulan dan adiknya Zaki”. Jawab Dilan simple.


“....? Anjir udin! Coba lu kucek dulu mata sama pikiran lo dengan Molto terus dijemur. Gue ganteng berwibawa gini masa! Ngak kenal? ”. Seru Bagas tak percaya.


“Huwek”. Seru cewe.


“Mendingan lo manusia”. Jawab Dilan yang masih kebinguan.


“Lan”. Panggil Devan.


“Ya”.


“Ingat ngak, preman tongkol? ”. Kata Devan, sebenarnya, sebutan preman tongkol itu adalah sebutan yang Dilan pakai saat Bagas masih bermusuhan dengan mereka. Dan... Untuk kata tongkol sebenarnya... Kata ganti Dilan pakai dengan kata “ To**l”.


“Widdih! Baru tahu aku tongkol jadi preman juga.... Aku tidur udah berapa lama sih... Kayak nya ketinggalan jaman”. Kata Dilan yang masih belum mengingat Bagas.


“Dev... Tolong ko benerin dulu friendly lo”. Kata Bagas menyerah.


“Yaelah.... Lan”.


“Ha! ”.


“Kau ingat preman sekolah”. Tanya Devan.


“Kagak semua... Cuma yang paling akrab kenal... Orang nya... Bagas kali ya.... Ha?! E e elu! Ba ba Bagas! ”. Seru Dilan yang telah mengingatnya dengan baik. Sungguh berbinar dan berbintang-bintang hati Bagas karna telah mengingatnya.