The Blue Mind Of The Killer

The Blue Mind Of The Killer
Part 2



Angga yang berada didalam kamar tepat di kasurnya... Telah tenang, hanya saja…. Ia masih gemetar ketakutan. Sang Ibu mengambil kotak obat untuk mengobati putranya yang malang.


Angga hanya duduk dengan keadaan agak gemetar layaknya seperti ketakutan pada dirinya sendiri, dengan rambut berantakan, wajah tampan elegan yang kini terlihat mengerikan dengan perban dimata dan luka baru yang terukir di bagian kepalanya dan sekitar telinganya.


Kaila hanya bisa menatap lamat-lamat wajah kakaknya yang begitu penuh dengan luka karna ulah sendiri. Setiap harinya pucat, bisu, misterius pada malam hari, berontak dengan keadaan yang tak jelas dan... Membuat luka pada dirinya sendiri. Mengingat hal itu, Kaila hanya bisa menghembus nafas panjangnya.


Arga dan Karin pun ikut masuk kekamar Angga sambil membawakan sebuah wadah yang berisi air. Sang Ibu pun duduk disamping Angga dengan kotak obat.


“Bu, ini airnya”. Kata Karin sambil memberikan wadah tersebut kepada sang Ibu. Beliau pun tersenyum dan mencelupkan sebuah kain putih lembut ke air tersebut dan memerasnya hingga kain tersebut agak basah.


Beliau pun mengelap darah yang telah mengalir dari kepala dan telinganya. Saat baru menyentuh, Angga berseru kesakitan dengan elakkan darinya.


“Sa sakit ya, maaf nak. Tapi luka itu harus diobati ya”. Bujuk Sang ibu tapi, Angga tetap mengelak.


“Bu, biar Arga bantu ya”. Kata Arga. Ia pun duduk dan memeluk Angga agar Ia tak memberontak. Ia dapat merasakan bahwa kondisi Angga benar-benar buruk, tubuhnya dingin dan gemetar hebat beserta nafas yang tak dapat dikatakan stabil.


Sang Ibu pun kembali mengarahkan kain ke lukanya Angga dengan hembusan nafas panjang, terlihat luka dibagian dahi dikepalanya lumayan parah. Saat kain menyentuh pinggiran luka, tentunya Angga merasakan yang namanya perih yang luar biasa.


Angga berseru kesakitan, tubuhnya kembali gemetar dengan suara isak tangis yang tak terlalu jelas. Wajahnya yang pucat berkeringat mulai memerah karna rasa sakit yang tak dapat ditahan.


“Ber hen... Ti.... ”. Ucap Angga dengan nada sesak. Arga semakin erat memeluk Arga dan Angga sekamakin kuat menggeram tangan sang kakak hingga memerah karna dirinya.


Kaila terlihat ketakutan, tapi ada Karin disampingnya yang dapat menenangkan dirinya.


“Ya Allah, mengapa engkau memberikan ujian ini kepada adik hamba ya Allah. Jika engkau membencinya, benci saja... Tapi... Jangan berikan kesensaraan ini kembali padanya ya Allah”. Doa Karin dengan tangannya yang sedang memegang baju Kaila.


“Ya Allah... Jangan berikan kehidupan ini kepada adik hamba ya Allah. Hapuslah semua kesensaraannya dan datangkanlah kepada hamba.... Hamba yakin... Hamba iklas”. Ucap Arga dalam hati, dengan wajah yang menyentuh sebagian rambut Angga.


Dari sela sela kejadian itu, Rangga yang dari tadi selesai dengan mandinya. Berdiri diluar kamar Angga tepat didepan pintu dengan handuk yang tergantung dilehernya. Ia begitu tak kuat, melihat Angga yaang kali ini, seakan-akan, ingin sekali untuk selalu berada disisinya. Bahkan Ia teringat akan almarhum adiknya yang bernama Ryan. Andai waktu dapat diulang kembali, Ia pasti akan menjaganya dengan baik.


Tapi... Itu semua mustahil. Apa yang terjadi didunia, biarlah terjadi. Meski baik buruknya situasi atau sampai kehilangan... Itu takdir... Yang tak dapat diputar untuk kembali.


“Hah... Maafkan kakak Ryan. Kakak telah menjadi yang tak berguna... Bahkan untuk Angga, maaf”. Kata Rangga dalam hati dengan rasa penyesalan.


Sang Ibu bahkan sampai ikut gemetar saat mengobati Angga. Hal itu membuatnya tak tega melihat anaknya yang kondisinya seperti ini.


*********