
Sesampainya di lapangan, mereka pun berbaris. Bapak Ziyad sebagai Guru olah raga membagikan bola basket pada masing-masing kelompok, yaitu terdiri dari kelompok putra dam putri. Masing-masing kelompok terdapat dua tim, yaitu tim “A” dan tim “B”.
Mulan dan temannya berada pada tim “B” putri, Dilan pada tim “A” dan Devan pada tim “B” putra. Ya pastinya tim B” putra sangat bersemangat, karena di tim mereka ada Devan si atlet basket terkenal. Meskipun demikian, Devan tetap benci dengan mereka.
Pak Ridwan pun memasukka Angga pda tim “A”.Tapi semua menolak keras terkecuali Dilan dan Devan. Lalu pak Ziyad pun bertanya, “Ada apa emangnya dengan Angga?!!, kalian tidak boleh seperti itu dengan teman kalian !”.
Murid : “Kami tidak mau satu tim dengan anak itu !! …..kami takut mati !!! “.
Tim ”B“ : Apalagi di tim kami pak!…kami tidak akan menerimanya walau ditawarkan uang sekoper pun!.
Ucapan mereka barusan membuat Angga geram kembali.Ini adalah permulaan Si Batin Biru ingin melepas kendalinya.
”Woi!!! Kalian stres apa apa gila hah !!!. Gue udah bilang jangan sesekali kalian hina dia kayak gitu-gituan !!!!, paham gak heh!! “.Teriak Devan sambil ingin memukul salah satu murid yang berani menghina Angga kembali. Tapi sempat di cegah oleh pak Ziyad dan Dilan.
”Anak-anak kalau kalian seperti ini terus, nilai kalian akan bapak cabut semua di rapor kalian!“. Tegas pak Ziyad.
”Pak….ngak apa-apa kok.Mungkin Angga nanti bisa jadi penkaga UKS atau bantu bapak catat nilai aja“. Ucap Angga.
”Angga…kalau seperti ini…bapak mau taruh apa buat kamu coba“. Kata pak Ziyad.
”Nanti kalau udah selesai mereka… Angga praktek main tunggal aja“. Ucap Angga pasrah.
”Ga… kamu_“.Kata Dilan terputus.
”ngak apa…kalian berdua semangat !!!!“. Kata Angga menyemangati.Dua temannya dan yang lain pun memulai permainan mereka tapi, tidak dengan Angga, Ia duduk bersama pak Ziyad membantu mencatat nilai. Pak Ziyad sempat terharu melihat kondisi Angga saat ini.
Beberapa menit kemudian, semua tim telah selesai bermain. Kini Angga yang bermain bola basket sendiri. Saat permulaan ingin melempar bola masuk ke keranjangnya, malah di tangkap oleh Devan dan Dilan.
”Satu lawan satu, tiga tunggal bagaimana?“.
Kata Dilan dan Devan menyemangati Angga. Angga tersenyum, mereka pun bermain basket dengan tiga kelompok tunggal.
Sara , Jesika, Jian dan juga Mulan bersorak menyemangati, Pak Ziyad terharu melihat persahabatan mereka.
Pelajaran pun berakhir, waktunya seluruh murid beristirahat. Sekumpulan sahabat itu pun termasuk Mulan, Sara dan yang lainnya beristirahat di taman sekolah. Mereka pun duduk dan mengobrol bersama disana.
KRIIIIIIIIIING……!!!. Suara handphone Devan berbunyi panggilan dari Ayahnya.
Devan pun mengangkat panggilan tersebut. Ayahnya mengatakan bahwa, mereka akan pindah ke Jakarta Sore nanti, karena bisnis Ayahnya yang kacau balau. Tentu bukan Devan saja yang kaget, tapi teman dan sahabatnya juga. Devan pun menutup teleponnya.
Hal tersebut membuat semangat mereka turun. Jesika dan Jian sempat mengeluh karena berita dari Devan, Devan pun tidak terima kalau Ia akan pindah keluar kota. Namun Angga dan Dilan dapat menerimanya, mereka juga menyemangati Dilan.
”Tidak apa ….ini kan demi keluargamu juga. Meski kita tak dekat lagi, tapi takkan ada kata berpisah untuk kita“. Kata Angga.
”Walau tak sering bertemu ….tapi kita kan dapat berbicara secara online, asalkan nomor mu selalu ada“. Balas Dilan.
Semua pun kembali tertawa.
”Kalau begitu, bagaimana sepulang sekolah nanti selesai shalat zuhur, kita habiskan waktu bersama, Mulan kau mau ikutkan“. Ajak Dilan.
”eee ….emangnya ngak apa-apa nih“.Jawab Mulan.
”Ngak ….kita kan sudah akrab, mau ya“. Ajak Dilan kembali, Mulan pun setuju.